On Taqiyya or How Not to Lie


Friends, fellows and foes :) Please enjoy my recent journal article on the notion of taqiyya (religious dissimulation/white lies) in the Shia Islamic tradition here (http://www.assumptionjournal.au.edu/index.php/PrajnaVihara/article/view/2211). Have a great Ramadhan. Cheers, QF

Religiosity in AI


Friends and fellows, Please find my recent writing at this link (https://majalah.tempo.co/read/156569/isu-religiositas-dalam-kecerdasan-buatan). Have a nice reading. Best wishes,QF

AI and Ethics


Fellows and foes, Please find my recent piece of writing here http://www.thejakartapost.com/news/2018/10/06/is-artificial-intelligence-subject-ethics.html Thanks.

On Taqiyya or How Not to Lie


Friends, fellows and foes :) Please enjoy my recent journal article on the notion of taqiyya (religious dissimulation/white lies) in the Shia Islamic tradition here (http://www.assumptionjournal.au.edu/index.php/PrajnaVihara/article/view/2211). Have a great Ramadhan. Cheers, QF

Problem Scholar-Soldiers


Bagi seorang prajurit, kesempatan untuk berpikir dan menulis merupakan sebuah kemewahan. Bagi seorang akademisi/pendidik, kesempatan untuk membaca serta merespon buah pikir seorang prajurit merupakan sebuah kehormatan. Perpaduan karakter keduanya dalam diri seseorang seringkali menghasilkan negarawan yang mengguncang dunia. Mulai dari Imam Ali, Sulaiman Sultan Ottoman X, Napoleon Bonaparte, Adolf Hitler, Nguyen Gyap, A. H. Nasution hingga Jenderal Soedirman. Mereka merupakan sarjana yang menjadi tentara atau sebaliknya sehingga mereka menggetarkan dunia. Lulusan Akademi Militer (Akmil) otomatis mendapat gelar akademik Sarjana Sains Terapan Pertahanan (SSt. Han) sejak tahun 2011. Hal ini menjurus pada ide mengenai scholar-soldiers yang berkembang di kalangan TNI. Artinya, para prajurit didorong untuk berpikir secara akademis. Sejauh mana transformasi tentara menjadi scholar-soldiers penting untuk dilakukan? Apa saja potensi kontradiksi dalam ide scholar-soldiers? Scholar-Soldiers Menurut sebuah artikel di Jurnal Yudhagama miliki TNI AD, konsep scholar-soldiers merupakan respon kontekstual terhadap pergeseran bentuk ancaman dari tradisional ke ...

Ahok Vs Kebebasan Ekspresi


Rupanya, pembawaan ceplas-ceplos Basuki T. Purnama (Ahok) berbanding terbalik dengan kebijakannya mengenai kebebasan berekspresi, berpendapat serta aksi massa. Seandainya ia hidup pada tahun 1928, barangkali ia akan menolak Sumpah Pemuda. Pasalnya, ia justru merayakan Sumpah Pemuda dengan cara menandatangani Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 228 Tahun 2015 tentang Pengendalian Pelaksanaan Penyampaian Pendapat di Muka Umum pada Ruang Terbuka pada 28 Oktober 2015 lalu. Dengan dalih perlindungan, ketertiban dan ketenteraman masyarakat, Ahok justru menampilkan semangat anti-pemuda dengan mengendalikan secara eksesif kebebasan berekspresi di ruang publik. Tiga Lokasi Pergub tersebut mewajibkan warga masyarakat untuk melakukan unjuk rasa hanya di tiga lokasi yaitu Silang Selatan Monas, Alun-alun Demokrasi DPR/MPR dan Parkir Timur Senayan melalui pasal 4, dan melarang para demonstran untuk melanggarnya melalui pasal 9. Dengan kata lain, para demonstran di luar ketiga titik tersebut harus berkendara selama beberapa jam di tengah kemacetan Jakarta untuk ...