Melanjutkan Reposisi Ilmu Sosial

July 8, 2008

Qusthan Abqary٭

Alih-alih mengkritik, Abdullah Sumrahadi dalam tulisan berjudul Kritik atas Kritik Reposisi Ilmu Sosial, yang dimuat di rubrik Ide, Koran Tempo, 29 Juni 2008, justru tidak melakukan apapun selain menunjukkan ketidakmampuan dalam menangkap upaya saya dalam mengoreksi pembacaan Afthonul Afif di rubrik Ide, Koran Tempo, 8 Juni 2008, terhadap perjalanan sejarah ilmu sosial di Indonesia; maupun menunjukkan kegagalan dalam membuat parafrase atas tulisan saya. Namun, saya tidak perlu untuk menjernihkan apa yang sudah jelas, karena upaya tersebut kerapkali berhilir pada kemacetan dialog, jika tidak ingin disebut sebagai debat kusir. Dengan demikian, lebih baik untuk melanjutkan tawaran mengenai reposisi ilmu sosial, sehingga dapat terus diuji.

Status Ontologi
Istilah ‘revitalisasi’ menjadi marak digunakan pasca tahun 1998. Sejauh pembacaan saya yang terbatas ini, istilah tersebut digunakan Koento Wibisono, Guru Besar Emeritus di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, dalam merespon massifnya ketidakpercayaan publik terhadap Pancasila sebagai dasar kenegaraan maupun kebangsaan. Entah bagaimana, istilah tersebut menjadi latah diucapkan sebagian orang dalam pelbagai spektrum gagasan.

Apabila pihak lain ingin mempertahankan istilah ‘revitalisasi’, maka, pertanyaan yang perlu diajukan adalah: (a) apa yang perlu dihidupkan kembali?; (b) Apakah ilmu sosial di Indonesia pernah “mati” sehingga perlu untuk “dihidupkan kembali”? Semoga pihak yang percaya pada gagasan revitalisasi tidak sedang menunjukkan ketidakpahaman atas istilah tersebut, karena belum hadir satu pun penjelasan yang memadai atas kedua pertanyaan tersebut. Dengan kata lain, gagasan mengenai revitalisasi ilmu sosial perlu menjelaskan status ontologinya/Adanya (dengan kapital A). Sayangnya hal tersebut sejauh ini tidak terjelaskan. Dari dua tradisi besar yang memengaruhi Indonesia, sebelum dan sesudah kemerdekaan, harus dipilih mana yang patut dan layak untuk dihidupkan kembali. Kalaupun dipaksakan untuk menilai ilmu sosial pada era Reformasi, saya tidak melihat bahwa terdapat perbedaan yang mencolok dengan di masa Orde Baru, terkecuali kadar kebebasan yang lebih besar dalam melakukan penelitian dan tingkat keragaman yang lebih tinggi mengenai mazhab keilmuan yang juga diimpor dari Barat.

Satu hal yang perlu ditekankan di sini adalah eksistensi ilmu sosial (Barat) di Indonesia tidak sama dengan keber-Ada-an ilmu sosial di Indonesia. Dengan kata lain, (1) ilmu sosial yang eksis di Indonesia tidak sama dengan (2) ilmu sosial yang Ada di Indonesia. Poin (1) adalah sebentuk perpanjangan tangan ilmu sosial di luar sana yang, dalam bentuk dan level apapun, dipaksakan untuk diterapkan di Indonesia. Contoh yang paling jelas terlihat pada mazhab mainstream ilmu ekonomi yang dianut sebagian besar punggawa perekonomian di lingkaran pemerintahan. Almarhum Profesor Mubyarto pernah mengemukakan bahwa perbaikan perekonomian bangsa tidak bergantung pada program restrukturisasi industri dan rekapitalisasi perbankan seperti yang dijalankan pemerintah, karena krisis perekonomian tersentralisasi di Pulau Jawa.

Menurut Mubyarto, dalam rentang tahun 1999-2000 Sulawesi mengalami perbaikan ekonomi yang jauh lebih cepat ketimbang Jawa. Pembayaran kredit di lima provinsi di Jawa mengalami kontraksi selama tahun 1998-1999, yaitu dari Rp 85,7 triliun turun menjadi Rp 37,3 triliun (-56,5 %). Sedangkan empat (sebelum beberapa wilayah mekar menjadi provinsi tersendiri seperti Gorontalo) provinsi di Sulawesi berkurang dari Rp 1,6 triliun menjadi Rp 1,4 triliun (-9,7%). Mubyarto merekomendasikan pemberdayaan ekonomi rakyat, yaitu sektor riil, dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi karena krisis moneter tersentralisir di Jawa, terlihat dari kelemahan dalam membayar kredit antara provinsi di Jawa dengan di Sulawesi (Mubyarto, A Development Manifesto: The Resilience of Indonesian Ekonomi Rakyat during the Monetary Crisis (Jakarta: KOMPAS, 2005), halaman 169-70).

Gagasan mengenai Ekonomi Pancasila/Kerakyatan, yang menyemangati penelitian Mubyarto tersebut, dapat disebut sebagai manifestasi dari poin (2). Dengan kata lain, saya menitikberatkan bahwa ilmu sosial yang Ada di Indonesia harus selalu menjadikan persoalan sosial yang eksis di Indonesia sebagai persoalan utama, dan kemudian melakukan teoritisasi atasnya. Di pihak lain, sekedar menggunakan teori sosial yang lahir di Barat-tanpa melakukan teoritisasi ulang-untuk menganalisis persoalan sosial yang eksis di Indonesia, tidak lebih dari menunjukkan bentuk mental terjajah secara akademik yang barangkali sudah menjadi endemik di kalangan sarjana Indonesia. Dalam kasus ini, kita patut mengacungkan jempol kepada Hatta, Mubyarto, hingga Hidayat Nataatmadja, yang berani melakukan teoritisasi ulang atas ilmu ekonomi (dan ilmu sosial) yang cocok dengan Indonesia, meski ketiganya sempat mengecap pendidikan kesarjanaan di Belanda maupun Amerika Serikat.

Realitas Keindonesiaan
Komitmen para peneliti terhadap ilmu sosial yang Ada di Indonesia harus berpihak pada realitas keindonesiaan, kemudian melakukan teoritisasi yang berdasar pada realitas tersebut. Realitas yang dimaksud adalah kelima hal yang menjadi dasar kenegaraan dan kebangsaan. Inilah yang dalam hemat saya menjadi status ontologi ilmu sosial yang Ada di Indonesia. Buku klasik Pancasila secara Ilmiah Populer misalnya, sudah memberikan pijakan awal bagi upaya pengembangan ilmu yang harus selalu melibatkan realitas keindonesiaan.

Profesor Notonegoro dalam membuktikan Adanya Tuhan, selain menggunakan argumen mengenai causa prima, juga mengaitkannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan pada abad 19 dan 20. Pada abad 19 partikel terkecil di alam semesta ialah atom yang bersifat bendawi, sedangkan perkembangan pada abad 20 membuktikan bahwa atom masih terbagi lagi menjadi proton, elektron dan netron. Ketiga unsur penyusun atom tersebut, menurut Profesor Notonegoro, “bukan benda, bukan materi yang padat dan keras dan dapat diraba” (Pancasila secara Ilmiah Populer, halaman 78). Perkembangan terbaru mengenai quark harus direspon secara kritis oleh setiap fisikawan Indonesia. Apabila sifat quark berbanding terbalik dengan proton, elektron, dan netron yang tidak dapat diraba, maka, implikasinya jauh. Para fisikawan Indonesia harus melakukan upaya penelitian yang serius, bahkan lintas disiplin keilmuan, untuk menimbang efek negatif yang mungkin dihasilkannya.

Upaya menjadikan realitas keindonesiaan sebagai masalah utama ilmu sosial yang Ada di Indonesia tidak dapat dilangsungkan dalam waktu singkat, namun membutuhkan beberapa dekade dan melibatkan ilmuwan sosial lintas generasi. Di sinilah pentingnya membangun semacam tradisi peer-review atas gagasan para pendahulu. Sangat ironis apabila para sosiolog Indonesia lebih fasih mendiskusikan gagasan Anthony Giddens ketimbang Arief Budiman misalnya, atau para psikolog Indonesia lebih akrab dengan gagasan Sigmund Freud ketimbang Sutrisno Hadi. Tradisi peer-review tersebut akan menunjukkan potensi besar sejarah keilmuan sosial yang pernah eksis dan Ada di Indonesia, yang dapat ditransformasikan menjadi modal utama bagi proyek Pencerahan khas Indonesia, layaknya yang terjadi di Eropa beberapa abad yang lalu. Alergi, jika tidak ingin disebut inferior, terhadap gagasan pemikir Indonesia harus segera diakhiri jika ingin dikatakan telah merdeka dari mental terjajah secara akademik.

٭ Alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

6 Comments

  • Baiquni

    maaf jika isi comment ini tidak mengacu pada isi artikel. aku hanya ingin memohon. aku tak punya guru menulis. yah, mungkin kau bisa bilang aku ini aneh. masak anggota persma masih belum bisa menulis? tak apalah. aku butuh kawan yang sedia mengajariku menulis. merangkai kelindan kata yang terserak-serak dalam pikiran. aku minta tolong dengan sangat. karena aku tak tahu harus kemana lagi aku musti belajar. tolong balas ke emailku: bai_mind@yahoo.co.id

  • zaenal fanani

    kalau bole saya minta tulisan anda yang lain, thx

    • kelindankata

      Silahkan saja Mas Zaenal Fanani. Anda bisa melihatnya di halaman depan blog ini.

Leave a Reply