Berpikir dan Bertindak Mandiri

July 28, 2008

Qusthan Abqary

Profesor Adrianus Meliala dalam tulisan berjudul Berpikir dan Bertindak Lokal di rubrik Pendapat, Koran Tempo beberapa waktu yang lalu, memberikan pesan yang menarik. Pesan tersebut kurang-lebih berupa: tidak selamanya pendapat umum seperti, kita harus berpikir global dan bertindak lokal dapat diterima dan tidak harus selalu dilaksanakan, namun beliau menilai bahwa berpikir dan bertindak lokal tidak kalah berharga dan meyakinkan ketimbang pendapat sebelumnya. Perbedaan akses setiap orang di seluruh dunia terhadap kekuatan global justru dianggap Profesor Meliala sebagai kenyataan yang tak terelakkan untuk menerima pendapat yang mengatakan bahwa berpikir dan bertindak lokal tidak kalah penting ketimbang yang sebelumnya.

Namun, kita tidak dapat berhenti sampai di situ. Kampanye mengenai berpikir dan bertindak lokal menuntut kontinuitas berupa berpikir dan bertindak mandiri. Sayangnya, tidak banyak pejabat pemerintahan dan pemikir sosial Indonesia yang mampu dan mau untuk berpikir dan bertindak mandiri. Sekurangnya mereka hanya mengklaim bahwa dirinya masing-masing atau Indonesia telah mandiri.

Pemikiran yang Terbelenggu

Beberapa waktu yang lalu di rubrik Ide, Koran Tempo, terjadi diskusi yang cukup menarik mengenai ilmu sosial di Indonesia yang kemudian justru layu sebelum berkembang. Secara tidak langsung diskusi tersebut berkaitan dengan apa yang akan dibicarakan di sini.

Berpikir dan bertindak mandiri berkait erat dengan mentalitas setiap pemikir ilmu sosial di Indonesia. Meski kolonialisme secara fisik sudah lama angkat kaki dari Indonesia, namun hantu neo-kolonialisme terus membayangi setiap pemikir dalam bentuk yang unik, yaitu ide atau gagasan yang dipasok melalui sektor pendidikan. Pendapat yang percaya bahwa sebagian besar pemikir ilmu sosial di Indonesia telah merdeka sepenuhnya, dalam kenyataannya, tidak lebih meyakinkan ketimbang pendapat yang bernada sebaliknya.

Hal tersebut terlihat jelas dari kepercayaan sebagian besar orang, yang barangkali telah menjadi klise, bahwa kita seharusnya berpikir global dan bertindak lokal. Apabila pendapat yang terakhir ini berhilir pada beberapa isu seperti pemanasan global, kemiskinan global, HIV/Aids, nuklir, terorisme, krisis pangan, krisis air bersih, dan lain sebagainya; maka tetap saja hal tersebut tidak meruntuhkan pendapat lain bahwa isu-isu tersebut tetap dapat diatasi secara lebih proporsional dengan basis berupa berpikir dan bertindak lokal serta mandiri.

Kita tidak bisa menutup mata terhadap fakta bahwa sebagian isu tersebut juga diakibatkan secara tidak langsung dari cara berpikir global namun tidak bertindak lokal. Di wilayah perekonomian misalnya, mazhab ekonomi mainstream mendorong pembangunan sektor industri secara serampangan yang tidak sedikit meremuk stabilitas ekologi di suatu wilayah. Dengan kata lain, pengabaian terhadap buah pemikiran lokal di bidang perekonomian adalah tindakan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun moral; dan sisi lain justru menjadi hal yang paling bertanggungjawab dalam kasus lemahnya perekonomian, tingginya tingkat kemiskinan, dan pengangguran di suatu negara.

Tindakan yang Terbelenggu

Secanggih apa pun bentuk pemikiran global yang dihasilkan, maka ia tidak akan menyumbang apa pun terhadap perbaikan di level lokal apabila tindakan setiap orang tidak menyertakan re-teoritisasi pemikiran global sebelumnya dengan berdasar pada keunikan persoalan di aras lokal. Apabila ilmu sosial menjadi model percontohan dalam diskusi kali ini, maka setiap ilmu sosial yang eksis dan berkembang di Indonesia harus menjadikan persoalan sosial di sini sebagai obyek penelitian sehingga tidak sekedar menguji teori sosial yang lahir di level global pada aras lokal.

Pejabat pemerintahan di sektor perekonomian misalnya, masih terbelenggu oleh pemikiran ekonomi mainstream sehingga tindakan mereka tidak dapat dinilai sepenuhnya bebas dan merdeka dari belenggu tekanan Leviathan perekonomian global. Contoh sederhana dapat kita peroleh dari privatisasi yang sejatinya adalah tindakan memperluas kepemilikan masyarakat lokal terhadap perusahaan milik negara, justru disalahgunakan menjadi asingisasi kepemilikan.

Tidak jarang kita menemukan bahwa di sektor kebahasaan sekalipun masih banyak orang yang terbelenggu oleh bahasa asing. Alih-alih berpikir global, sebagian orang di Jakarta umpamanya, justru menuturkan bahasa asing secara campur-aduk dengan bahasa lokal yang hasilnya justru sedikit-banyak mirip dengan gado-gado. Hal tersebut nampak dari sebagian besar tayangan sinetron di televisi yang dalam batas tertentu dapat diposisikan sebagai bagian dari proyek Jakartanisasi Indonesia yang aspek etisnya perlu ditinjau kembali.

Perlu digarisbawahi di sini bahwa hal tersebut hanya menunjukkan secara malu-malu bentuk mentalitas yang masih dihantui oleh neo-kolonialisme. Neo-kolonialisme atau penjajahan gaya baru tidak dapat dilihat secara kasat mata karena ia mengambil bentuk yang paling “halus” dan “santun” yaitu melalui sektor pendidikan. Mentalitas yang merdeka di wilayah kebahasaan justru nampak secara jelas ketika seseorang menggunakan bahasa lokal dengan baik, atau sebaliknya menggunakan bahasa asing dengan benar tanpa mencampuradukkan keduanya.

Apa yang disarankan Profesor Meliala, bahwa berpikir dan bertindak lokal tidak kalah penting; sepenuhnya dapat menjadi bingkai utama dalam upaya menyelamatkan bangsa dan negara secara mandiri, bahkan hingga ke aras kebahasaan sekalipun, tanpa harus meminjam bahasa asing seperti yang dikampanyekan seorang bakal calon presiden di dalam sebuah program diskusi sebuah stasiun televisi swasta yang bergenre berita.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

2 Comments

  • sepakat!kungkungan bahasa mmbatasi gerak pemikiran kita…sedangkan pemikiran lokal dalam tradisi kita tdk bisa mengungkapkan segi2 terdalam dari pengalaman kita. Ini seperti ‘lingkaran setan’…nihilnya mentalitas berpikir mandiri mgkn merupakan msalah yg tak terkait dengan kausalitas lain: problem primordial…mungkin?

    • kelindankata

      Apakah pemikiran lokal memang–meminjam kalimat Anda–”tidak dapat mengungkapkan segi2 terdalam dari pengalaman kita”? Saya pikir tidak sepenuhnya begitu.

      Barangkali kita yang memang masih terjajah hingga ke ranah pikiran dan bagaimana cara memikirkannya. Dalam batas ini, isu mengenai dekolonisasi pemikiran tentu mendapat relevansi.

Leave a Reply