Ilmu dalam Bahasa

August 28, 2008

Qusthan Abqary

‘Ilmu’ dalam Bahasa Indonesia didefinisikan secara beragam dan bertingkat, di antaranya: “1. pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu; 2. pengetahuan atau kepandaian (tentang soal duniawi, akhirat, lahir, batin, dan sebagainya) [KBBI Edisi Ketiga 2000 Balai Pustaka (Jakarta: Balai Pustaka, 2000), halaman 423]. Sedangkan ‘pengetahuan’ didefinisikan sebagai “segala sesuatu yang diketahui; kepandaian; 2. segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran) [KBBI...halaman 1121].

Definisi pertama dari ‘ilmu’ memiliki makna yang berbeda dengan definisi yang kedua. Jika yang pertama lebih mengarah pada science, maka yang kedua lebih mengarah pada knowledge dan skill. Membandingkan kata ‘ilmu’ yang diserap dari bahasa Arab melalui beberapa kata seperti alima-ya’lamu-‘ilmun-ma’lumun-alimun dan seterusnya; dengan bahasa Inggris tentu menyisakan kerumitan tersendiri, akan tetapi dalam batas tertentu layak untuk dilakukan karena Bahasa Indonesia menyerap banyak bahasa asing sehingga tumpang-tindih pemaknaan sangat mungkin terjadi.

Tepat di sini muncul masalah, yaitu ketika Bahasa Indonesia menyerap science ke dalam kamus perbendaharaan kata menjadi ‘sains’. Alhasil, ‘sains’ juga didefinisikan secara beragam dan bertingkat, di antaranya: “1. ilmu pengetahuan pada umumnya; 2. pengetahuan sistematis tentang alam dan dunia fisik, termasuk di dalamnya, botani, fisika, kimia, geologi, zoologi, dan sebagainya; ilmu pengetahuan alam; 3. pengetahuan sistematis yang diperoleh dari sesuatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dipelajari, dan sebagainya” [KBBI...halaman 978].

Di sisi lain, J.S. Badudu mendefinisikan ‘sains’ sebagai: “1. ilmu pengetahuan; cabang dari ilmu pengetahuan; 2. pengetahuan terutama yang didapat melalui pengalaman; 3. pengetahuan yang sistematis tentang alam dan dunia fisik” [J.S. Badudu, Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2003), halaman 309-10].

Uniknya, ‘ilmu pengetahuan’ didefinisikan sebagai “gabungan berbagai pengetahuan yang disusun secara logis dan bersistem dengan memperhitungkan sebab dan akibat” [KBBI...halaman 423-4]. Apabila ‘ilmu’, ‘pengetahuan’, dan ‘sains’ dalam KBBI berstatus sebagai nomina atau kata benda, maka tidak demikian dengan ‘ilmu pengetahuan’ yang justru tidak disematkan status apa pun pada dirinya. Jika definisi ‘ilmu pengetahuan’ di atas diterima, maka ‘ilmu pengetahuan’ dapat digolongkan sebagai nomina juga karena ia berwujud sebagai ‘gabungan’ yang lebih mengarah kepada kata benda. Bila demikian, maka pendefinisian di antara ‘ilmu’, ‘pengetahuan’, ‘sains’, dan ‘ilmu pengetahuan’ saling bertautan dan memutar.

Jujun Suriasumantri menyadari hal tersebut sehingga dalam Komisi Politik Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) III yang diselenggarakan LIPI pada 15-19 September 1981, pernah mengusulkan agar istilah ‘ilmu’ dan ‘pengetahuan’ dipisahkan secara tegas.

Jujun menyatakan, “Untuk itu maka diusulkan agar terminologi ilmu pengetahuan diganti dengan kata ilmu dan mempergunakan kata pengetahuan untuk knowledge dengan argumentasi sebagai berikut: (1) ilmu (spesies) adalah sebagian dari pengetahuan (genus); (2) dengan perkataan lain, ilmu adalah pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yakni ciri ilmiah, jadi ilmu adalah sinonim dengan pengetahuan ilmiah (scientific knowledge); (3) menurut hukum DM (Diterangkan Menerangkan) maka ilmu pengetahuan adalah ilmu (D) yang bersifat pengetahuan (M) dan ini menurut hakikatnya adalah salah, sebab ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang bersifat ilmiah; (4) kata ganda dari dua kata benda yang termasuk kategori yang sama biasanya menunjukkan dua objek yang berbeda seperti emas-perak (emas dan perak) dan laki-bini (laki dan bini), dan dengan penafsiran yang sama, maka ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai ilmu dan pengetahuan” [Jujun Suriasumantri, "Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial, dan Politik", dalam Jujun S. Suriasumantri (ed.), Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial, dan Politik: Sebuah Dialog tentang Dunia Keilmuan Dewasa Ini (Jakarta: Penerbit P. T. Gramedia, 1986), halaman 14-5].

Poin (1) menjadi basis argumentasi Jujun akan tetapi lemah karena Jujun tidak menjelaskan mengapa ‘ilmu’ menjadi spesies, terutama jika dikonfrontasikan dengan penggunaan kata tersebut di dalam kesehariaan, seperti ilmu nahu, ilmu sihir, ilmu politik, dan sebagainya. Lain halnya dengan poin (3) yang cukup meyakinkan. Apabila mengikuti hukum DM, maka ilmu nahu berarti ilmu (D) mengenai nahwu (M); ilmu sihir berarti ilmu (D) mengenai sihir (M); dan ilmu politik adalah ilmu (D) mengenai politik (M). Dengan demikian, hukum DM dalam pengertian ini tidak mengundang masalah, akan tetapi pilihan untuk tetap menggunakan rangkaian ‘ilmu’ dengan ‘pengetahuan’ setelah kehadiran ‘sains’ hanya menunjukkan tumpang-tindih peristilahan.

Akan lebih baik jika ‘ilmu’ dan ‘pengetahuan’ sama-sama diposisikan sebagai genus karena lebih sesuai dengan etimologinya yang berasal dari bahasa Arab.‘Pengetahuan’ dapat dipersepsikan sebagai pembentukan istilah yang khas dalam Bahasa Indonesia, sedangkan ‘ilmu’ adalah adopsi dari bahasa Arab tanpa mereduksi maknanya menjadi seperti yang telah dikandung oleh ‘sains’. ‘Sains’ dapat diposisikan sebagai spesies dengan mengurangi artinya menjadi sekedar poin nomor dua dan tiga dalam Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia.

Di sebuah universitas terkenal di Yogyakarta, istilah ‘ilmu filsafat’ menjadi kontroversi karena ‘filsafat’ diposisikan (1) berada di luar ‘ilmu’ dan/atau ‘pengetahuan’; (2) mentransendensikan ‘ilmu’ dan/atau ‘pengetahuan’; serta (3) berada di luar dan/atau mentransendensikan ‘ilmu’ dan/atau ‘pengetahuan’. Namun, istilah tersebut tetap digunakan untuk menamakan program kesarjanaan di sebuah fakultas di universitas tersebut. Barangkali hal tersebut berhubungan dengan pemaknaan kesehariaan terhadap istilah ‘ilmu’ yang kerapkali dianggap mentransendensikan berbagai bentuk ‘pengetahuan’, dan secara bersamaan ‘filsafat’ diposisikan sebagai bagian yang inheren dengan ‘pengetahuan’ tersebut. Pertanyaannya ialah Bahasa Indonesia harus mengacu pada kesehariaan penggunaan, atau sebaliknya, kesehariaan penggunaan harus patuh dan tunduk pada aturan formal yang seringkali berganti?

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply