Santet dan Sarkozy

November 6, 2008

Qusthan Abqary

Menarik untuk mencermati berita “Boneka Santet Presiden Sarkozy” di rubrik Oops, Koran Tempo, 28 Oktober 2008 halaman C7. Alkisah, penerbit K&B menjual 20.000 boneka berkepala Sarkozy dengan dilengkapi jarum dan buku petunjuk bagaimana cara menyantet sang presiden. Orang yang membelinya dapat menusuk jarum ke kutipan pernyataan Sarkozy yang tercantum di boneka.

Hal itu mengundang reaksi Sarkozy. Pengacara sang presiden mengatakan bahwa kliennya memiliki “hak eksklusif dan absolut” serta “tidak takut” terhadap ancaman santet tersebut. Penerbit menilai bahwa reaksi Sarkozy “benar-benar tidak sepadan” dan menolak untuk menarik boneka.

Apabila hak ekslusif dan absolut memang melekat pada diri Sarkozy, maka, sudah seharusnya hal tersebut juga berlaku bagi setiap fotonya yang dimuat di pelbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Namun, mengapa hal tersebut justru mengemuka ketika beredar boneka santet dirinya? Hal itu menunjukkan bahwa santet memiliki pemaknaan tersendiri yang unik dan khas.

Dominasi

Otoritas gereja yang sangat hegemonik pada masa Abad Pertengahan relatif berhasil menggerus akseptabilitas publik di Barat terhadap santet. Di Timur hal tersebut juga terjadi meski dalam bentuk dan skala yang berbeda. Eksistensi dan akseptabilitas santet di Timur masih jauh lebih besar dan luas ketimbang di Barat, serta hal tersebut masih dapat dianggap sebagai bagian dari kepercayaan seseorang. Dengan kata lain, diserahkan kepada masing-masing orang untuk mempercayai eksistensinya atau tidak.

Hal tersebut tidak lepas dari pemosisian santet, serta di sisi lain, juga dikarenakan oleh dominasi sains di dalam masyarakat Barat. Apabila santet diposisikan sebagai bentuk tradisi, ideologi, atau bahkan mode pengetahuan yang berbeda dengan sains; maka bukan tidak mungkin keduanya menjadi hal yang potensial untuk pengembangan sains maupun masyarakat itu sendiri.

Relasi antara sains, santet, akupungtur, herbal, astrologi, dan yang lainnya seharusnya diposisikan setara di dalam sistem pendidikan dan masyarakat. Kesetaraan mengandaikan sekularisasi antara negara dengan sains layaknya yang terjadi antara negara dengan agama di dalam bingkai negara sekuler. Masyarakat yang sedemikian rupa disebut seorang filosof Austria bernama Paul Feyerabend sebagai free society.

Kesetaraan antartradisi telah terbukti sangat menguntungkan dunia Timur dan perkembangan sains. Adopsi dan integrasi herbal serta akupungtur ke dalam rumah sakit serta universitas di seluruh dunia merupakan bukti nyata, meski pada awal kisaran tahun 70an muncul penolakan keras dari Amerika Serikat terhadap upaya yang dirintis oleh Cina tersebut. Dalam perkembangannya, pada awal tahun 2007 yang lalu, India mengalokasikan dana US$40.000.000 untuk upaya riset dan pengembangan herbal di dalam kitab seperti Veda.

Akan jauh lebih menguntungkan bagi Timur apabila santet lebih diposisikan sebagai tradisi yang diatur dan dikelola dalam regulasi, dan kemungkinan untuk mengintegrasikannya ke dalam sistem pendidikan selalu dibuka sehingga tidak berkembang secara liar. Eksistensi keduanya tidak perlu dipertentangkan secara diametral dengan sains atau agama, karena hal tersebut justru merugikan pengembangan dan tafsir kontekstual keduanya. Penolakan keras tentu akan bermunculan, dan kita dapat belajar dari Cina bagaimana caranya mengatasi fasisme sains dan saintisme seperti yang ditunjukkan oleh Amerika Serikat pada tahun 70an.

Kebelummampuan sains untuk menjelaskan interkoneksi antara subjek yang menusuk jarum kepada objek tujuan merupakan faktor penting yang dapat menjelaskan penolakan masyarakat Barat terhadap santet. Bila di kemudian hari sains dapat menjelaskan hal tersebut, maka bukan tidak mungkin saintis maupun masyarakat akan menerima keduanya. Gagasan Capra misalnya, dapat menjadi semacam, dalam kerangka Lakatosian, program riset baru yang dapat menantang program riset lama. Hal tersebut akan berimplikasi pada pemahaman seseorang yang beragama, dan pada tahap ini, dialog merupakan solusi yang dapat menengahi konflik tersebut.

Klaim tidak takut Sarkozy tidak sepenuhnya jujur. Bila ia sepenuhnya jujur, maka tidak perlu menuntut penarikan buku. Jika klaim tidak takut koheren dengan hak ekslusif, maka penuntutan fee atas foto tersebut akan lebih meminimalisiir kesan takut terhadap santet, ketimbang meminta agar peredaran buku ditarik. Klaim bahwa Sarkozy tidak takut sepertinya hanya upaya kecil yang sengaja ditunjukkan kepada publik bahwa santet adalah sesuatu yang tidak perlu diakui eksistensinya.

Hal tersebut justru hanya menunjukkan wujud represi pemerintah Prancis terhadap santet sebagai bagian dan bentuk dari tradisi yang berbeda. Komitmen afirmatif terhadap liberalisme politik atau isu multikulturalisme misalnya, seharusnya juga mengarah pada relasi antartradisi yang jauh lebih luas daripada sekedar persoalan etnisitas. Dalam hal ini, sistem pendidikan memegang peran strategis terhadap akseptabilitas seseorang atas tradisi seperti santet.

Pendidikan

Pertanyaan mendasar mengenai sistem pendidikan adalah: Mengapa hanya humaniora, sains, dan agama yang diberikan akses ke dalam sistem pendidikan? Di negara Barat seperti Prancis misalnya, tentu ada tambahan seperti filosofi, akan tetapi di Indonesia hal tersebut hanya diberikan diberikan di level perguruan tinggi dengan kadar yang sangat minimalis, terkecuali individu yang memilih filosofi sebagai disiplin perkuliahan.

Tesis bahwa pendidikan adalah proses pembudayaan; atau pendidikan melibatkan kebudayaan; atau pendidikan adalah bagian yang inheren dengan kebudayaan; seharusnya tidak berhenti pada alokasi mata pelajaran seperti muatan lokal. Melibatkan santet ke dalam sistem pendidikan menjadi sekolah khusus tersendiri barangkali akan terdengar ekstrem, namun hal tersebut bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat pra-Indonesia. Tidak jarang kita mendengar mengenai pendidikan di sekitar lingkungan kerajaan pra-Indonesia yang memang mengajarkan santet, magi, astrologi, jamu, dan lain sebagainya.

Masyarakat menjadi asing dengan hal tersebut karena disebabkan oleh banyak hal. Di antaranya yang paling menonjol adalah perkembangan sains dan teknologi beberapa abad terakhir yang memang sangat menakjubkan dan menjanjikan. Namun, pengalaman Cina dan India merupakan bukti bahwa dunia Timur dapat mengintegrasikan pelbagai bentuk tradisi, termasuk santet, ke dalam sistem pendidikan formal dan berdiri secara setara dengan sains. Sementara dunia Barat barangkali masih sibuk dengan penolakan malu-malu seperti yang ditunjukkan Sarkozy.

Pertanyaan untuk kita semua adalah: apabila Barat telah sepenuhnya mengintegrasikan pelbagai tradisi (termasuk di antaranya santet) ke dalam sistem pendidikan formal, apakah kita akan tetap bersikukuh untuk tidak memasukkannya? Apa pun jawaban dari pertanyaan tersebut tidak akan mengurangi kenyataan bahwa mental terjajah masih mengendap di dalam benak sebagian orang di negeri ini.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply