Ilan Ben-Dov, Gaza, dan Indonesia

January 16, 2009

Qusthan Abqary

Ilan Ben-Dov, Duta Besar (Dubes) Israel untuk Singapura, menulis sebuah artikel provokatif berjudul “Palestine vs Israel: Is there a path to peace?” di harian The Jakarta Post, 3 Januari 2009 yang lalu.

Ia mencatat, “Sebuah analisis imparsial mengenai rangkaian kejadian seharusnya tidak dimulai dari Sabtu kemarin [ketika Israel membombardir Jalur Gaza], tetapi lebih jauh lagi, yaitu delapan tahun lalu. Delapan tahun terakhir, ratusan hingga ribuan orang Israel hidup di dalam bahaya karena serangan roket Kassam milik Hamas yang berlangsung setiap hari.”

Ini argumen yang sungguh naif, jika tidak ingin dikatakan sesat pikir (fallacy of dramatic instance). Mengapa titik tolak historisnya delapan tahun yang lalu? Kenapa tidak sejak KTT Camp David I sekitar hampir dua dekade yang lalu yang dapat menjadi acuan bagi perdamaian di Gaza? Atau lebih jauh lagi, kenapa tidak sejak perang enam hari antara negara-negara Arab dengan Israel?

Membandingkan antara invasi Israel selama kurang-lebih dua minggu terakhir dengan apa yang terjadi delapan tahun lalu tentu menyisakan kesulitan berupa: Apa saja kategori yang cukup meyakinkan untuk membandingkan masa kini dengan masa lalu?

Tidak sedikit faktor yang eksis di masa lalu yang tidak eksis lagi di masa kini, semisal ketiadaan Yasser Arafat sebagai pemimpin politik yang relatif dapat diterima oleh semua faksi di Palestina dan keunggulan PLO di masa lalu.

Tidak sedikit juga faktor yang eksis di masa kini yang tidak atau belum eksis di masa lampau, semisal Mahmud Abbas yang kini memegang otoritas Palestina (sebelumnya menjadi salah satu juru runding di bawah kontrol Arafat) dan tampilnya Hamas sebagai pemenang pemilu di Palestina beberapa waktu yang lalu dan kemudian tidak diakui oleh Israel dan Amerika Serikat.

Ben-Dov sepertinya khilaf bahwa kurang-lebih delapan tahun yang lalu, di dalam KTT Camp David II pada bulan Juli tahun 2000, Israel menolak resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa No. 194 yang menjamin hak 4 juta pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah masing-masing.

Ia seolah lupa dengan janji kampanye Ariel Sharon pada bulan Januari 2001 bahwa program perdamaian yang akan dilakukan jika menang pemilu dan menjadi Perdana Menteri (PM) ialah persetujuan berdirinya negara Palestina di atas 42 persen tanah Tepi Barat dan sebagian besar Jalur Gaza. Namun, ketika telah menjadi PM, penasihat Sharon bidang diplomasi Zalman Shoval menyatakan bahwa pemerintah Israel hanya mengakui kesepakatan damai yang dicapai dalam Kesepakatan Oslo, Wye River, dan Sharm Al Sheikh.

Dengan demikian, merupakan suatu ketidakmungkinan untuk membandingkan fakta sejarah delapan tahun yang lalu dengan beberapa minggu yang lalu seperti yang dilakukan oleh Ben-Dov. Masa lalu dan masa kini tidak dapat dibandingkan (incommensurable) secara proporsional dan fair.

Ben-Dov juga menyatakan, “Dalam hal ini, Israel tidak berbeda dengan negara mana pun di dunia ini. Kata yang sering digaungkan oleh kebanyakan orang Israel dalam minggu lalu hanyalah ‘Enough is Enough!’. Inilah waktunya untuk mempertahankan diri kita. Tujuan Israel dalam operasi militer kali ini sudah jelas: Untuk menghentikan Hamas menyerang Israel.”

Apakah Ben-Dov hanya mengakui eksistensi negara-negara yang mengambil kebijakan pre-emptive seperti Amerika Serikat dan meniadakan eksistensi negara yang tidak demikian? Yang jelas, Israel tidak pernah meyakini eksistensi politik luar negeri bebas aktif; dan tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Indonesia, walau PM Yitzhak Rabin pernah menunggu berhari-hari di Kedutaan Besar Israel di Singapura (yang kini dipimpin oleh Ben-Dov) sebelum mendapat izin untuk bertemu dengan Presiden Soeharto di Jakarta pada tahun 1993. Di sisi lain, Indonesia pernah membeli pesawat tempur jenis Attacker secara diam-diam dari Israel. Hal serupa juga dilakukan Cina sejak awal tahun 1980an dan pada 24 Januari 1992 kedua negara tersebut membuka hubungan diplomatik.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu indikator keberhasilan Duta Besar Israel di Singapura bukan bagaimana meningkatkan kerjasama bilateral kedua negara, akan tetapi, bagaimana menjalin komunikasi informal dengan Jakarta. Hal tersebut barangkali dipengaruhi oleh pernyataan PM Israel Golda Meir pada tahun 1956 bahwa, “Seharusnya kami di sini merupakan bagian tak terpisahkan dari bangsa Asia.” Ben-Dov harus sadar bahwa warga negara Indonesia yang membaca tulisannya masih memiliki hati nurani dan rasa kemanusiaan, sehingga tulisannya tersebut justru tidak akan meningkatkan prestisenya sebagai seorang Dubes di hadapan Presiden Shimon Peres maupun PM Ehud Olmert.

Ben-Dov juga menilai, “Hamas adalah sebuah organisasi teror yang radikal, relijius, dan fundamentalis yang beroperasi di bawah pengaruh langsung Iran dan mengusung Jihadistic dreams yang paling terkenal dan utama, yaitu penghapusan negara Israel.”

Setiap muslim Indonesia tentunya tahu bahwa makna Jihad tidak sesempit penghapusan negara zionis Israel. Penilaian Ben-Dov yang sedemikian rupa hanya akan meningkatkan resistensi Muslim Indonesia terhadap Israel. Dengan demikian, Ben-Dov maupun Duta Besar Israel untuk Singapura yang berikutnya, harus belajar lebih banyak mengenai Jihad dan Islam jika menginginkan Pemerintah Israel menilai kinerjanya dengan tinta emas, yaitu berhasil menarik simpati Muslim Indonesia atau bahkan membuka hubungan diplomatik dalam beberapa waktu ke depan.

Israel harus sadar bahwa gerak roda sejarah selalu memberikan peluang bagi kehadiran konflik global seperti Perang Dunia I dan II. Jika dalam Perang Dunia I dan II lawan bangsa Yahudi adalah Fasisme Jerman, maka lawan berikutnya jika terjadi Perang Dunia III adalah kekuatan Islam global (jika memang dapat disebut demikian) yang bukan tidak mungkin justru akan memukul eksistensi negara Zionis Israel. Eksistensi perdamaian di Jalur Gaza tidak bergantung pada pilihan warga Palestina seperti yang diungkap Ben-Dov, akan tetapi justru bergantung pada warga Israel dan partai pemenang (yang belum tentu akan berhasil membentuk kabinet koalisi) dalam pemilu Israel yang akan datang dalam hitungan minggu.

http://www.republika.co.id/koran/24/26678.html

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply