Multikulturalisme Setengah Hati

February 2, 2009

Qusthan Abqary

Salah satu isu strategis di bidang pendidikan tentu saja pendidikan multikultural. Namun, wacana multikulturalisme sejauh ini tidak jauh beranjak dari usaha menjamin penghormatan terhadap kultur dan etnik yang berbeda agar dapat diterima tanpa reserve.

Etika a la Barat-seperti proyek intelektual lainnya yang selalu diklaim berlaku universal-seringkali dikedepankan seolah masyarakat Sulawesi yang telah berabad-abad mengenal pela gandong, misalnya, gagal dalam mewujudkan perdamaian karena relatif buta terhadap isu multikulturalisme. Masyarakat Minangkabau yang relatif homogen dinilai tidak menghargai perbedaan kultur hanya karena menolak menjadikan pariwisata sebagai isu utama pengembangan daerah seperti Bali.

Apakah preferensi untuk tidak menganggap kultur lain lebih unggul atau lebih buruk daripada kultur sendiri senantiasa menuntut kesetaraan akses ekonomi dan politik terhadap masyarakat setempat? Jika Si A bertamu ke rumah Si B, apakah Si A dapat secara bebas mengaplikasikan nilai-nilai kultural yang diyakininya di rumah Si B? Apakah masyarakat yang berada pada tahap mitis-seperti yang dideskripsikan Profesor C. A van Peursen-harus selalu menerima bentuk-bentuk kebudayaan yang berada pada tahap ontologis dan tahap fungsional secara inheren?

Di Amerika Serikat (AS) sekalipun-yang tidak jarang mengklaim dirinya sebagai bangsa yang multikultural-masih terdapat anekdot rasis seperti: Jika kamu berkulit putih, maka tidak mengapa; jika kamu berkulit cokelat, maka kamu tetap berada di luar; jika kamu berkulit hitam, maka kamu harus pergi. Butuh 43 presiden dan ratusan tahun bagi AS untuk menghasilkan presiden Afro-Amerika, yang tentu akan lain jalan ceritanya bila para pesaingnya bukan Hillary Clinton dan pasangan John McCain serta Sarah Palin. Entah berapa presiden lagi yang dibutuhkan AS untuk menghasilkan presiden perempuan seperti yang pernah dialami Indonesia. Dengan demikian, para pegiat multikulturalisme sepertinya harus berpikir ulang apakah Indonesia tidak relatif lebih maju pada ranah aplikasi wacana?

Di satu sisi, sains-dalam wacana multikulturalisme secara diam-diam-tetap menjadi bentuk pengetahuan yang paling menentukan mengenai apa yang harus ‘diajarkan kepada’ dan ‘dipelajari oleh’ peserta didik. Dalam bentuk yang paling ekstrem, tidak sedikit orang yang percaya bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh tinggi-rendahnya atau besar-kecilnya penguasaan sains dan teknologi (ST) bangsa tersebut. Apabila pendapat tersebut hanya dipercaya oleh para saintis dan teknokrat, barangkali tidak akan terlalu bermasalah, meski tetap menyisakan masalah. Namun, bila turut dipercaya oleh masyarakat awam maka hal tersebut akan menggerus pelbagai bentuk pengetahuan selain sains yang eksis di dalam masyarakat setempat.

Di sisi lain, ST melulu dipersepsikan hanya sebagai produk yang diimpor dari Barat dan bukan sebagai proses. Dengan demikian, apa yang menjadi kepercayaan saintis dan teknokrat tidak sepenuhnya bebas dari masalah. Sebagian orang yang bergumul dengan wacana post-kolonialisme akan mengatakan bahwa kepercayaan tersebut merupakan bentuk keterjajahan kita dari Barat.

Tidak sedikit contoh yang membuktikan bahwa-di dalam kerangka pengetahuan-tidak hanya ST yang menentukan kemajuan suatu bangsa. Cina misalnya, berhasil mengampanyekan akupungtur, herbal, dan moxibustion (pengobatan yang menggunakan tanaman obat bernama moxa atau mugwort) untuk diterima oleh dunia kedokteran negara lain.

India sejak tahun 2007 mengalokasikan dana sebesar US$40juta untuk menjalankan program berjudul Golden Triangle Partnership yang fokus pada usaha mengembangkan obat-obatan herbal yang terdapat pada sistem pengobatan Ayurweda. Yang terakhir ini memiliki kurang-lebih 80.000 model pengobatan (The Economist, 16 Agustus 2007).

Kini, sebagian kecil dokter dan rumah sakit di Indonesia sudah mengadaptasi mode pengobatan tersebut secara komplementer dengan pengobatan modern a la Barat. Dari terapi rei ki (menyalurkan energi ke pasien melalui telapak tangan), pengobatan thibbun nabawi (digunakan Muhammad SAW menggunakan kapsul jinten hitam dan madu), naturopati (mengandalkan kemampuan tubuh untuk memulihkan diri sendiri), chiropractic (manipulasi tulang belakang, persendian, dan jaringan lunak pada tulang), neural therapy (menyuntikkan obat anestesi lokal pada bagian yang tidak sakit namun dianggap sebagai pusat penyebab rasa sakit), anthroposophical medinice (mengembalikan keseimbangan biologis melalui terapi fisik seperti pijatan), hingga herbal.

Ironisnya, sebuah perguruan tinggi terkenal di Yogyakarta justru pernah menutup jurusan diploma jamu (hanya) karena tidak diminati para calon mahasiswa. Apakah universitas memang harus tenggelam dalam arus besar minat publik yang tidak imun dari pengaruh korporasi yang hanya merekrut beberapa jurusan tertentu saja? Apakah ‘industrialisasi perguruan tinggi’ hanya sekedar urusan menggaet korporasi untuk memberikan beasiswa parsial kepada para mahasiswa?

Mengapa korporasi tidak digiring untuk menjadi sponsor bagi pendirian laboratorium dan instrumen universitas lainnya, sedangkan sarjana yang dihasilkan dipastikan untuk direkrut oleh korporasi tersebut seperti yang terjadi di banyak universitas di Jerman, misalnya? Sungguh naif jika universitas takluk pada gelombang histeria massa dan tidak menjadi salah satu pusat bagi usaha seperti rekayasa sosial (social engineering). Bukankah minat massa dapat digiring melalui pembentukan opini?

Apakah diskursus multikulturalisme memang hanya sebentuk upaya setengah hati karena di satu sisi mengusung isu penghormatan terhadap kultur dan etnik lain yang berbeda tanpa reserve, dan di sisi lain tetap mengedepankan sains sebagai salah satu “hakim” bagi dinamika sosial meski realitas keindonesiaan telah menunjukkan bahwa bentuk pengetahuan di luar sains telah diadopsi ke dunia kedokteran modern?

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply