Dilema Mega-Buwono

February 7, 2009

Qusthan Abqary

Isu Mega-Buwono yang diungkap Taufik Kiemas menjelang Rapat Kerja Nasional PDI-Perjuangan beberapa waktu yang lalu mendua.

Hal tersebut dianggap negatif oleh sebagian orang karena mengesampingkan keterwakilan etnis Non-Jawa dalam pasangan bakal calon presiden PDI-Perjuangan. Kekalahan PDI-Perjuangan dalam Pemilu 2004 yang lalu mengajarkan bahwa menyandingkan Hasyim Muzadi dengan Megawati tidak memberikan kontribusi suara yang signifikan baik dari kalangan Nahdhatul Ulama maupun etnis Non-Jawa.

Popularitas Sri Sultan Hamengku Buwono X (HB X) memang cukup tinggi jika merujuk pada beberapa poling. Namun, elit politik sepertinya belum insyaf bahwa selain perbedaan metodologi yang digunakan, poling juga tidak dapat melangkahi demarkasi yang bernama probabilitas. Artinya, apa yang dihasilkan poling hanya merupakan sebuah kemungkinan. Dan setiap kemungkinan tentu melibatkan banyak hal yang tidak konstan, sehingga ia hanya berhenti pada upaya ‘mendekati’ kenyataan.

Tidak ada yang dapat menjamin bahwa popularitas HB X akan konstan apalagi menanjak. Isu UU Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), penambangan pasir di Kulon Progo, dan Sultan Ground tentu menjadi batu sandungan tersendiri bagi HB X yang akan dimanfaatkan para lawan politik.

Populer tentu tidak sama dengan populis. Seorang HB X tentu seorang yang populer atau terkenal. Namun, ketiga isu di atas akan menjadi kampanye negatif, yaitu HB X bukan seorang calon yang populis atau merakyat. Dalam batasan ini, Forum Ngeman Sultan yang beberapa waktu lalu muncul untuk menolak pencalonan HB X menjadi bakal capres menunjukkan kebenarannya.

Priyo Budi Santoso, Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR, secara tidak langsung menutupi hal tersebut dengan mengatakan bahwa HB X adalah vote gather ampuh yang dimiliki Partai Golkar di Jawa Tengah, DIY, serta Jawa Timur; dan Partai Golkar akan kehilangan suara signifikan bila HB X tetap menjadi capres dari parpol lain.

Hal itu tentu tidak bisa ditelan secara mentah. Kesan konspiratif jauh lebih kuat tercermin dalam pernyataan Priyo, karena beberapa Pilkada menunjukkan bahwa preferensi politik masyarakat di ketiga provinsi tersebut tidak menunjukkan korelasi langsung dengan HB X.

Pemilu 2004 pun-di mana HB X turut berkampanye bagi capres Partai Golkar yang menang melalui Konvensi-tidak menunjukkan bahwa HB X merupakan pendulang suara yang efektif bagi Partai Golkar, karena elit-elit lokal dari partai lain juga tidak kalah populer di area masing-masing. Terpilihnya Herry Zudianto sebagai salah satu walikota-dua periode dan dicalonkan PAN-terbaik versi Majalah TEMPO mengafirmasi hal itu.

Dengan demikian, Partai Golkar sepertinya tetap ingin “mendongkrak” popularitas HB X dengan cara yang ahistoris. Memosisikan HB X layaknya Jusuf Kalla pada tahun 2004 yang “membelot” dari instruksi Partai Golkar adalah tindakan yang naif. Situasi dan kondisinya berbeda. Hanya harapan kosong para elit Partai Golkar yang nampak jelas dalam hal yang sedemikian rupa.

Sejak deklarasi hingga saat ini, belum ada partai selain Republikan yang melamar atau menyatakan dukungan terhadap HB X. Terlepas dari keseragaman sikap parpol yang menunggu hasil pemilu legislatif, ketiadaan peningkatan dukungan formal dari parpol lain selain Republikan merupakan pertanda yang sepertinya tidak diperhatikan PDI-Perjuangan.

Langkah cepat PDI-Perjuangan untuk menetapkan Megawati sebagai bakal capres dan mengusung beberapa tokoh sebagai pendamping seharusnya menjadi ajang yang tepat untuk meningkatkan popularitas, jika, PDI-Perjuangan mengadakan Konvensi bagi Para Bakal Cawapres Megawati.

Melalui Konvensi, rakyat menjadi tahu bagaimana visi, misi, dan program politik, ekonomi, budaya yang sesuai dengan tuntutan kesejahteraan, keamanan, dan kedaulatan rakyat. Sayangnya, hal tersebut tidak dilakukan, layaknya ketika mengklaim sebagai partai oposan dengan tidak masuk ke dalam kabinet akan tetapi tidak membentuk kabinet bayangan. Semoga isu Mega-Buwono yang dilemparkan ke publik pada hari Imlek dan diiringi gerhana matahari tidak menjadi pertanda buruk bagi perjalanan bangsa ini.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply