Antara Ponari dan Dunia Medis

February 23, 2009

Qusthan Abqary

Ketika empat orang tewas karena berdesakan mengantri guna memeroleh air dari Ponari, kepolisian dengan segera menutup praktik tersebut. Namun, ketika puluhan-mungkin bahkan ratusan-orang di seluruh Indonesia tewas karena rumah sakit menolak untuk merawat pasien yang tidak punya cukup uang untuk membayar tagihan, maka polisi tidak segera menutup rumah sakit yang bersangkutan.

Berita terakhir yang cukup hangat mengenai bobroknya dunia medis di Indonesia kurang-lebih sebagai berikut. Seorang ibu yang baru saja menjalani operasi Caesar untuk melahirkan bayinya, kini tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Bayi itu hanya diurus oleh bibinya yang setia. Konsekuensinya, si bayi tidak mendapat air susu ibu yang wajib diinisiasi kepada setiap bayi. Bukankah, Ponari sejauh ini tidak melakukan operasi Caesar hingga menyebabkan sang pasien tidak sadarkan diri? Bukankah kematian empat orang calon pasien Ponari disebabkan oleh ketidaksiapan pihak yang berwenang untuk mengatur antrian?

Cepatnya reaksi polisi terhadap Ponari sedikit-banyak menunjukkan bahwa saintifikasi-sebagai sebuah proses-telah melebar sedemikian rupa hingga-secara langsung maupun tidak langsung-memengaruhi tidak saja publik, namun juga institusi kepolisian yang seharusnya netral terhadap perbedaan tradisi di dalam masyarakat.

Di satu sisi, sains adalah sebuah tradisi. Di sisi lain, praktik Ponari juga tradisi. Keduanya harus diposisikan secara setara dan salah satu di antaranya tidak dapat diposisikan lebih unggul daripada yang lain. Pendapat yang memosisikan bahwa salah satu di antaranya lebih unggul, dikenali sebagai manifestasi dari apa yang dikenali sebagai fascism of science dalam ranah philosophy of science.

Pada awalnya, istilah itu menunjuk pada reaksi keras Amerika Serikat terhadap integrasi obat-obatan herbal, moxibustion (Bahasa Tionghoa: 灸; pinyin: jiǔ; cara pengobatan dengan menggunakan tanaman obat yang bernama moxa, atau mugwort), dan akupungtur ke dalam rumah sakit dan universitas di Cina dalam dekade 1970an. Namun, dunia kedokteran di seluruh dunia dalam perjalanannya mengakui bahwa mode pengobatan yang sedemikian rupa dapat diterima, digunakan, dan dimanfaatkan.

Bahkan, dunia kedokteran Indonesia turut menggunakannya hingga muncul mode pengobatan komplementer, yaitu memadukan pengobatan modern ala Barat dengan pelbagai mode pengobatan alternatif (Koran Tempo, “Tren Pengobatan Komplementer”, 18 Januari 2009). India sejak tahun 2007 mencanangkan program The Global Triangle Partnership senilai US$ 40 juta untuk menggali sistem pengobatan Ayurweda. Sementara sebuah universitas terkenal di Yogyakarta justru menutup program diploma jamu hanya karena dianggap tidak marketable. Dengan kata lain, sejarah menunjukkan bahwa kita tidak dapat menilai tradisi lain dengan standar-standar yang berasal dari tradisi yang kita yakini, karena hal itu hanya menutup kemungkinan pemanfaatan tradisi di luar sains untuk digunakan dalam upaya pengobatan.

Sebagian dokter mengungkap bahwa kesembuhan yang diperoleh setelah meminum air yang telah diberi batu oleh Ponari dikarenakan oleh ‘sugesti’ yang tumbuh di dalam diri pasien sejak akan berangkat ke kediaman orang tua Ponari. Apa dasar argumen tersebut? Sebagai seorang dokter sekaligus saintis, para dokter tersebut seharusnya mengungkapkan penelitian mana yang digunakan sebagai basis argumentasi? Sayangnya, hal itu tidak terungkap. Jika belum ada laporan penelitian saintifik mengenai air yang dicelupkan batu sakti Ponari, seharusnya para dokter itu tidak mengungkap argumen ‘spekulatif-filosofis’ dalam kapasitasnya sebagai dokter, terkecuali ia memang berniat untuk melakukan proyek penelitian multi-disiplin terhadap fenomena Ponari.

Ketika kesembuhan menjadi tujuan dalam setiap praktik pengobatan modern ala Barat, maka, bukan berarti praktik di luar dirinya menjadi barang haram untuk digunakan oleh masyarakat. Sains bukan agama yang memiliki otoritas untuk menentukan mana yang halal dan mana yang haram. Cap ‘sugesti’ yang diberikan sebagian dokter kepada praktik Ponari hanya menyisakan arogansi saintis terhadap tradisi lain yang seharusnya tidak perlu terjadi. Sejarah menunjukkan bahwa hal itu lebih merupakan kerugian ketimbang keuntungan bagi perkembangan sains.

Kepolisian sebagai institusi yang inheren dengan pemerintah seharusnya menjadi pihak yang netral di dalam menyikapi kematian calon pasien Ponari. Tidak ada bukti yang cukup meyakinkan bahwa kepolisian sepenuhnya bebas dari tradisi yang sedemikian rupa. Tindakan menutup praktik Ponari demi menghindari kemungkinan jatuhnya korban lebih jauh bukan sesuatu yang cukup bijak, terutama ketika banyak pasien yang sudah putus asa dengan praktik pengobatan di rumah sakit dan ketika jauh hari sebelumnya banyak pasien yang menderita malpraktik.

Menutup rumah sakit hanya karena sebagian pasien yang mengalami malpraktik atau ditolak untuk dirawat memang merugikan masyarakat umum, namun, menutup praktik Ponari juga tidak kurang merugikan masyarakat umum yang sudah kapok dengan pelayanan rumah sakit atau memiliki kepercayaan terhadap tradisi tertentu di luar sains. Keduanya sama-sama melibatkan isu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia di bidang kesehatan. Bukan sesuatu yang naif jika rakyat Indonesia tidak memiliki tingkat kepercayaan yang sama terhadap sains dan rumah sakit. Tetapi menjadi ketidakadilan ketika kepercayaan masyarakat terhadap tradisi tertentu dipangkas oleh pemerintah melalui kepolisian.

Euforia terhadap terpilihnya Barrack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) dan kedatangan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton ke Indonesia jauh lebih tepat untuk dikatakan sebagai sesuatu yang naif daripada menghargai perbedaan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sains, rumah sakit, maupun Ponari.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply