Filosofi yang Membumi dan Roh Intelektualitas

March 16, 2009

Qusthan Abqary

Hari Minggu (1/3) yang lalu, harian KOMPAS menurunkan laporan berjudul “Pendidikan Filsafat Harus Membumi”, yaitu mengenai seminar yang digelar untuk merayakan ulang tahun ke-40 STF Driyarkara. Banyak doktor dan profesor filosofi yang hadir dalam kesempatan itu. Tentunya, sangat sulit bagi wartawan untuk merekam gagasan reflektif yang menyeruak ke dalam kerangka berita sebanyak 2118 karakter dengan spasi atau 271 kata-kata. Dalam keterbatasan itu, saya sebagai pembaca, secara rendah hati mencoba untuk merespon dua hal.

Pertama, KOMPAS mengedepankan bahwa terdapat dua hal yang dapat ditangkap, yaitu tantangan untuk terus melakukan pencarian roh intelektualitas dan menyajikan filosofi yang membumi. Keduanya ditujukan untuk STF Driyarkara yang mulai menginjak usia “puber kedua” bila disejajarkan dengan perjalanan usia manusia.

Profesor Melani Budianta menekankan bahwa ‘filsafat yang membumi’ mampu memberikan respon terhadap dinamika lokal dan global. Namun, persoalan yang jauh lebih penting bukan bagaimana membumikan sesuatu yang seharusnya memang transendental, tapi, bagaimana mengarahkan orientasi kajian filosofi kepada perdebatan yang sebelumnya eksis di Indonesia.

Itulah yang sekiranya dilakukan oleh para filosof di Barat, yaitu mereka membangun kajian filosofi dengan sudut pandang yang dibangunnya sendiri melalui apa yang sebelumnya dibahas oleh para pendahulu di negerinya masing-masing. Sementara yang terjadi di Indonesia ialah kajian filosofi selalu berangkat dari sudut pandang yang diimpor untuk kemudian mendedah persoalan lokal yang memiliki perbedaan karakteristik masalah, sehingga kesan bahwa terjadi “pemerkosaan intelektual” sangat sulit untuk dihindari.

Efeknya tidak hanya itu. Setiap generasi dalam perjalanannya akan selalu memulai sesuatu yang baru, mencemaskan masalahnya masing-masing, dan tanpa keterkaitan terlebih keberlangsungan dengan persoalan, kajian, dan analisis para pendahulu bangsa. Salah satu ironi yang dapat dikemukakan sebagai contoh adalah tidak sedikit para peminat dan pengkaji filosofi yang menganggap bahwa kajian Filosofi Nusantara dan Filosofi Pancasila sebagai kajian yang remeh-temeh.

Padahal, boleh dibilang kedua ranah filosofi itulah yang seharusnya menjadi core issues pembangunan dan pengembangan kajian filosofi di Indonesia. Ketika keduanya telah disadari sebagai core issues dan kemudian diminati secara lebih luas, maka, apa yang dimaksud Profesor Melani Budianta sebagai ‘mampu memberikan respon terhadap dinamika lokal dan global’ akan berlangsung dengan sendirinya dan tanpa menyisakan kesan “tercerabut dari konteks” atau “pemerkosaan intelektual”.

Kedua, terkait dengan upaya untuk terus melakukan pencarian roh intelektualitas. Bukankah para pendiri bangsa telah menggariskan bahwa lima hal yang terdapat di dalam Pancasila merupakan roh intelektualitas kebangsaan Indonesia?

Bila diberikan afirmasi terhadap pertanyaan itu, maka, proyek filosofis bersama yang harus dilakukan barangkali seputar pembangunan dan pengembangan roh intelektualitas yang bernama Pancasila itu. Alergi sebagian masyarakat terhadap Pancasila merupakan tantangan riil yang seharusnya dijawab oleh tidak hanya STF Driyarkara tetapi juga Departemen Filsafat UI, Fakultas Filsafat UGM, dan institusi sejenis lainnya.

Roh intelektualitas di negeri ini tidak hilang sehingga kemudian harus dicari bersama-sama oleh seluruh pegiat dan peminat filosofi. Ia terpampang dengan jelas di setiap ruangan kepala atau pimpinan institusi filosofi, birokrat, sekolah, universitas, rumah sakit, TNI/Polri, hingga di dalam hati dan sanubari setiap orang. Namun, ketidakpedulian para pegiat filosofi yang kemudian menjadikan nasibnya tidak sedemikian jelas di negeri ini.

Dengan segala kerendahan hati, izinkan penulis mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-40 untuk STF Driyarkara. Semoga dalam menapaki fase “puber kedua” ini dapat menjadi jauh lebih matang dan dewasa dalam memilih, membangun, mengembangkan, serta memperkenalkan wacana filosofi kepada publik.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

2 Comments

  • Bastian

    Telat sekali saya baca tulisan ini. Tapi mudah-mudahan dua komentar saya di bawah ini masih relevan.

    Pertama: Pancasila itu roh intelektualitas kebangsaan Indonesia. Tapi lebih luas daripada itu, ia adalah visi kebangsaan atau bernegara Indonesia. Apakah Pancasila bebas dari unsur-unsur impor? Sekalipun Pancasila adalah saripati dari kebudayaan bangsa Indonesia, perumusannya tidak lepas dari kerangka metode filsafat Barat, yang Soekarno kuasai secara mumpuni. Saya tidak melihat ini sebagai sebuah pemerkosaan intelektual, melainkan sebuah apropriasi kreatif seorang pemikir besar.

    Kedua: saya setuju bahwa kajian Filsafat Nusantara tidak boleh dianggap remeh-temeh. Namun yang menjadi persoalan: apakah kita benar-benar bisa melepaskan diri apa yang disebut “pemerkosaan intelektual” di atas? Sampai saat ini saya tidak melihat jalan lain untuk mengembangkan Filsafat Nusantara dengan metode kajian yang khas Indonesia. Sudah pasti kita akan membutuhkan ilmu hermeneutika, yang notabene bukan produk Indonesia.

    Ketiga, yang masih terkait dengan poin kedua: di mana tepatnya kajian Filsafat Nusantara itu ditempatkan? Di Fakultas Filsafat atau di Fakultas Antropologi? Bila yang ada hanyalah deskripsi, tanpa kritisisme, mungkin Fakultas Antropologi lebih tepat jadi dapur Filsafat Nusantara.

    Sekian dan wassalam.

    Bastian

    • Qusthan Abqary

      Pater Bastian yang terpelajar,

      Terima kasih untuk komentar dari Pater. Saya akan memelajari komentar Pater Bastian. Namun, saya tidak bisa menjanjikan komentar balik atas komentar Pater Bastian. Semoga Pater Bastian senantiasa sehat dan sukses.

      Salam sejahtera,

      Qusthan Firdaus

Leave a Reply