Protokol

March 16, 2009

Qusthan Abqary

Протоколы сионских мудрецов

Seorang doktor keriting, berparas Semit, tulang pipi asimetris, dan sedikit kumal lulusan Rusia menuliskannya di papan tulis.

“Ada yang pernah menemukan, membaca, atau mendengar kalimat ini?”

Suasana kelas dengan puluhan mahasiswa hening. Mereka hanya akrab dengan karya-karya Tolstoy, Chekov, Trotsky, Lenin, Stalin, dan nama besar lainnya. Desakan budaya massa menggerus minat dan perhatian mahasiswa meski tingkat akhir sekalipun. Bila mereka kuliah di kota pendidikan, responnya barangkali akan berbeda. Namun, mereka mengenyam bangku perguruan tinggi di kota yang relatif kosmopolit seperti Jakarta.

Protokoliy sionskix mudrets’ov atau yang lebih dikenal dalam Bahasa Inggris sebagai Protocols of the Wiseman Zion,” dengan nada sedikit kecewa, doktor yang menjadi tamu untuk memberikan kuliah umum itu melanjutkan ceramahnya.

“Sebuah dokumen kontroversial yang pertama kali muncul sebagai appendix dalam koran Znamya di Saint Petersburg pada tahun 1903 dan kemudian juga sebagai appendix di dalam sebuah buku berjudul  Velikoe v Malom (The Great in the Small: The Coming of the Anti-Christ and the Rule of Satan on Earth) pada tahun 1905. Buku ini mengantarkan Sergei Nilus, penulisnya, kepada lingkungan kerajaan. Seorang Grand Duchess bernama Elisabeth Fiodorovna tertarik dengan buku itu dan mengundangnya untuk berdiskusi.”

“Tahun 1917 Nilus menerbitkan Protokoliy secara terpisah.”

Auditorium hening sejenak.

“Mengapa tahun 1917? Apa yang terjadi pada tahun itu di Rusia?”

Kelas kembali bergeming karena sebagian besar mahasiswa dan mahasiswi terpana dengan hal baru yang dijelaskan doktor keriting itu. Para mahasiswa mendengarkannya seperti dongeng menjelang tidur siang.

“Tentu saja Revolusi Bolshevik 1917! Nilus-yang sebelumnya pernah menjadi pengacara, hakim, dan setelah mengalami kebangkrutan justru menjadi Kristian Ortodok-sengaja menerbitkan dokumen pada tahun itu…,” doktor itu terhenti sejenak untuk memeriksa apakah perhatian seluruh kelas masih tertuju kepadanya.

Sampai di sini, para mahasiswa semakin serius memerhatikan doktor berparas sedikit Semit itu sembari berharap bahwa penjelasan yang diberikan akan menyentuh Revolusi Bolshevik secara lebih mendalam yang tentunya lebih akrab di telinga mereka ketimbang penjelasan asing mengenai mistikus Rusia bernama Sergei Nilus.

“Dapat dipahami sebagai usaha memecah belah gerakan kelompok progresif Rusia yang mengusung revolusi dan membahayakan eksistensi kerajaan yang dipimpin Tsar Nicholas II. Saking dekatnya dengan keluarga kerajaan, Nilus hampir diangkat menjadi semacam kanselir relijius untuk menggantikan Philippe-Nizeier-Anthelme Vachod.”

“Mengapa ‘hampir’? Karena Philippe dan para pendukungnya memblokir pengangkatan itu dengan menguak masa lalu Nilus dengan gundiknya. Pada mulanya, kerajaan dan Nilus berharap penerbitan Protokoliy dapat membangkitkan sentimen anti-Semit di Rusia sehingga dukungan terhadap Kaum Bolshevik yang turut digerakkan oleh orang-orang Yahudi-Rusia dapat diredam.”

Menangkap gestur para mahasiswa yang semakin serius, doktor kumal itu semakin berhati-hati untuk tidak masuk lebih jauh ke dalam penjelasan mengenai Revolusi Bolshevik yang akrab di telinga para mahasiswa yang terpana dengan berbagai varian Marxisme. Masuk ke dalam sejarah Revolusi Bolshevik sama saja dengan melompati pagar tematik kuliah umum ini.

“Empat tahun kemudian, tepatnya pada 17 Februari 1921, Henry Ford menyatakan, ‘The only statement I care to make about the Protocols is that they fit in with what is going on. They are sixteen years old and they have fitted the world situation up to this time. They fit it now.’ Enam tahun kemudian Ford meminta maaf kepada publik karena telah menerbitkan Protokoliy dan mengakui bahwa dokumen tersebut ‘gross forgeries‘”.

“Adalah Pyotr Rachovsky, seorang kepala cabang Paris dinas polisi rahasia milik Rusia Okhrana antara tahun 1897-1899 yang dituding sebagai pemalsu. Tidak banyak yang dapat diketahui dari nama ini. Uniknya, meski banyak upaya penegasian terhadap Protokoliy, baru pada tahun 1993 sebuah pengadilan di Rusia yang sedang mengadili Pamyat-sebuah organisasi ultra kanan di Rusia yang menerbitkan Protocoliy pada tahun 1992-menyatakan bahwa Protocoliy adalah sebentuk penipuan.

“Jauh hari sebelumnya, justru Amerika Serikat-yang dikenali sebagai negara yang ‘ramah’ kepada Yahudi-melalui U.S. Senate Judiciary Committe pada tahun 1964 mempublikasi laporan berjudul The Protocols of the Elders of Zion: A “Fabricated” Historic Document yang mengambil kesimpulan bahwa, ‘The subcommittee believes that the peddlers of the Protocols are peddlers of un-American prejudice who spread hate and dissension among the American people.’”

“Kalau protokol itu memang dipalsukan, dan proyek pemalsuan itu dipimpin oleh Pyotr Rachovsky, seorang kepala cabang Paris dinas polisi rahasia milik Rusia Okhrana antara tahun 1897-1899, dan kemudian diterbitkan pertama kali secara utuh oleh Sergei Nilus; maka, mengapa ide-ide dasar yang terdapat di dalamnya menyerupai buku yang ditulis Maurice Joly, The Dialogue in Hell between Machiavelli and Montesquieu pada tahun 1864, kurang dari setengah abad sebelumnya? Pada tahun 1868 pun, Herman Goedsche mempublikasikan novel berjudul Biarritz yang isinya mendeskripsikan pertemuan rahasia di sebuah pemakaman Yahudi di Praha yang dihadiri oleh keduabelas suku Israel.”

“Karena hal ini adalah sejarah ‘resmi’ yang muncul ke permukaan, maka kecurigaan apapun yang bernada konspiratif bukan berarti tidak membantu.”

“Teori konspirasi memang tidak jarang terkesan banal, namun sejauh tidak ada penyangkalan yang berarti terhadapnya, maka sebanal apapun teori yang diungkapkan tetap akan diterima sebagai salah satu model yang dapat diterima sebagai awalan untuk melakukan penelusuran lebih lanjut. Adalah sesuatu yang mustahil bagi seorang peneliti untuk sepenuhnya lepas dari prejudice yang membayangi pikiran.”

“Dengan demikian, tidak mengherankan jika banyak orang Non-Yahudi di seluruh dunia yang masih berpikir bahwa Yahudi dengan segala organisasi yang terkait dengannya selalu dituding sebagai biang kerok atas segala masalah yang eksis di dunia. Dari krisis ekonomi hingga krisis energi, dari pembantaian bangsa Palestina hingga pembunuhan John F Kennedy.”

“Menyalahkan Yahudi sama saja dengan menumpukan segala kesalahan kepada pihak yang belum tentu terkait sama sekali dengan setiap peristiwa di seluruh penjuru dunia.”

“Namun, nenek moyang kita memberikan wasiat bahwa, ‘Buah peria itu bila ditanam di atas sakar dan dibaja dengan madu, lagi disiram dengan manisan serta diletakkan di atas tebu sekalipun, apabila masak pahit juga.’ Artinya, orang yang amat jahat, dan sukar diperbaiki kembali walaupun dengan jalan apapun.”

“Dengan kata lain, pembuktian terbalik atas ketidakterlibatan Yahudi dan organisasinya bukan berarti tidak bermakna di dalam menafsir segala aksi dan reaksi yang berkeliaran di gelanggang politik, ekonomi, dan budaya global, nasional, maupun lokal.”

“Sebuah contoh yang dekat dengan kita dapat diajukan di sini. Pekalongan 1883. Masyarakat setempat menolak loge-rumah ibadah kaum Vrijmetselarij/Freemasonry-yang didirikan oleh Baron van Tengnagel pada tahun itu. Baron adalah orang yang secara khusus ditugaskan Madame Blavatsky-seorang Yahudi-Rusia yang menjadi petinggi perkumpulan teosofi di New York sejak 17 November 1875 yang bernaung di bawah Freemasonry-untuk mendirikan loge di Pekalongan.”

“Meski di kemudian hari muncul penolakan bahwa Freemasonry dan setiap praktik teosofi tidak ada hubungan koneksitas sama sekali dengan Zionisme; bukan berarti teori konspirasi yang menghubungkan keduanya menjadi tidak penting. Bila teori konspirasi telah menjadi sebentuk kacamata budaya suatu komunitas, maka, apakah kita dapat mengatakan bahwa kacamata budaya lain yang tidak melulu menggunakan teori konspirasi jauh lebih unggul dan lebih baik?! Saya kira, setiap pegiat multikulturalisme yang jujur tidak akan secara terbuka mengakui bahwa budaya A jauh lebih unggul dan lebih baik daripada budaya B, sehingga budaya B harus mengikuti budaya A.”

“Siapa pun yang menginginkan agar etnisitasnya tidak dikaitkan dengan sesuatu yang jahat terjadi di dunia ini, harus membuktikan bahwa bangsanya memang tidak demikian dengan menjadi watch dog bagi pemerintahan negara-bangsanya masing-masing.”

Doktor bertulang pipi asimetris itu mencoba mengaburkan kesan bahwa ia bukan seorang Semit, meski wajahnya tidak dapat menyampaikan pesan yang sedemikian rupa.

“Sayangnya hal tersebut tidak terjadi di seluruh dunia. Rusia, misalnya, sebagian pengusaha yang terindikasi korupsi merupakan keturunan Yahudi. Tidak sedikit dari mereka yang pindah ke luar Rusia. Ada yang kemudian ‘mencuci’ uangnya dengan membeli Chelsea dan sekaligus menyeponsori liga domestik Rusia sehingga sebagian besar pemain sepakbola di sana enggan untuk hijrah ke luar negeri karena gaji dan kontrak untuk bermain di liga domestik jauh lebih besar daripada di Eropa Barat.”

“Siapa yang di sini mengenal nama seperti Pavluchenko sebelum perhelatan ajang Europe 2008 digelar?”

Sebagian mahasiswa nyeletuk bahwa tidak ada yang pernah mendengar nama itu sebelum Europe 2008. Doktor itu pun hanya tersenyum dengan sedikit sinis. Seolah memperkuat asumsi awalnya mengenai para audiensnya.

“Dengan demikian, besar-kecilnya gelombang kebencian terhadap Yahudi bergantung kepada bagaimana mereka memosisikan diri di dalam pergaulan internasional. Intensitas upaya untuk mendelegitimasi eksistensi Protokoliy hanya menyisakan keanehan bagi Goyim-sebutan bagi orang Non-Yahudi yang digunakan dalam Protokoliy-bahwa jauh lebih baik mendukung upaya perdamaian di Timur Tengah daripada kampanye status Protokoliy sebagai dokumen yang dipalsukan. Terima kasih.”

Moderator beranjak dari tempat duduk dan mengarahkan audiens untuk bertepuk tangan sebagai pertanda bahwa sesi presentasi telah berakhir dan sesi tanya-jawab dapat segera dimulai. Doktor tadi bergumam di dalam hati, “Mahasiswa sastra Rusia kok malah gak pernah dengar tentang Protokoliy. Seperti terasing dari disiplinnya sendiri.”

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

One Comments

  • siapo doktor tu pak qusthan?? kok misterius bana?? alah lamo manghilang mah??dima kini ko??

    (“Siapa pun yang menginginkan agar etnisitasnya tidak dikaitkan dengan sesuatu yang jahat terjadi di dunia ini, harus membuktikan bahwa bangsanya memang tidak demikian dengan menjadi watch dog bagi pemerintahan negara-bangsanya masing-masing.”), baa caro mambukti-an nyo tu??

    baa pemilu bisuak, miliah atau indak??

Leave a Reply