Agama, Kiamat, dan Sains

July 16, 2009

Qusthan Abqary

Geger Riyanto dalam tulisan berjudul “Agama dan Kota”, Koran Tempo, 31 Mei 2009 memberikan ulasan yang menarik mengenai ramalan kiamat pada 21 Desember 2012 yang berdasar pada perhitungan kalender Maya Kuno yang kemudian “dilegitimasi” oleh Joseph E. Lawrence melalui bukunya yang kontroversial Apocalypse 2012. Tidak sedikit penolakan maupun “dukungan” terhadap buku yang terakhir itu. Sebagian pihak mengatakan bahwa buku itu hanya cocok dibaca oleh mereka yang berharap untuk terus mengetahui kejadian-kejadian astrologis dalam skala internasional yang muncul sejak peradaban Maya Kuno. Sedangkan pihak yang lain secara tidak langsung “mendukungnya” seperti yang terlihat dalam film Knowing.

Film Knowing bercerita mengenai petunjuk yang diberikan seorang gadis kecil melalui rentetan panjang angka-angka, yang dalam 50 tahun kemudian—melalui cara yang unik—sampai ke tangan seorang profesor astronomi di Massachusets Institute of Technology. Setelah melalui proses yang cukup pelik, sang profesor berhasil memecahkan kode dari angka-angka itu: yaitu mengenai tanggal, waktu, hingga koordinat lokasi terjadinya berbagai bencana dari kecelakaan pesawat hingga badai matahari—sesuai dengan yang disebut Lawrence.

Dalam situasi dan kondisi yang seperti ini, Geger Riyanto memberikan pendapat yang menarik untuk dicermati: “Entah berapa kiamat lagi akan kita lewati sepanjang hidup ini, yang pasti tidak akan sedikit bila apa yang diumbar sebagai ‘kebenaran’ terus-menerus direndahkan sebagai ‘pembenaran’. Memang hanya kata benda yang berubah menjadi kata kerja, tetapi ia telah membuat normal sebuah keadaan di mana kota berjalan maju dalam tidur, meninggalkan semua yang berdiam di luarnya.”

Falsifikasi

Apa yang disebut sebagai ‘kebenaran’ kurang-lebih sama dengan agama, dan dalam hal ini, agama tidak hanya dikerdilkan menjadi ‘pembenaran’; akan tetapi, juga dapat menjadi ‘penyalah/falsifikasi’ terhadap ramalan seputar kiamat, bila yang dimaksud dengan agama dapat diperluas hingga ke ranah agama-agama samawi.

Falsifikasi di sini tentunya tidak sesempit dan sekompleks apa yang ditemukenali oleh Falsifikasionisme (dalam filosofi sains) yang percaya bahwa sesuatu dapat diterima sebagai ‘kebenaran saintifik’ hanya bila dapat difalsifikasi secara positif (dapat diinderai oleh semua saintis) serta dapat dipertahankan kebenarannya. Namun, yang dimaksud di sini ialah falsifikasi yang dapat menggunakan hal yang bersifat metafisis/spiritualis sebagai salah satu faktor penguji/penyalah.

Kalau pun badai matahari yang diprediksikan bakal terjadi pada tahun 2012 itu betul-betul mencapai permukaan bumi, maka, sepertinya akan lebih bijaksana apabila kita memaknainya lebih sebagai kiamat (kecil) daripada Kiamat (besar), karena yang terakhir ini merupakan rahasia dan “prerogatif” Tuhan Y.M.E. Sekurangnya terdapat enam ayat di dalam Al-Qur’an (Q.S. Thaahaa: 15; Q.S. Lukman: 34; Q.S. Az Zukhruf: 85; Q.S. Al Jaatsiyah: 32; Q.S. Fushshilat: 47; Q.S. Al-A’raaf: 187) yang secara khusus menyatakan “prerogatif” itu. Dan menghadirkan keenam ayat tersebut secara sekaligus di sini sepertinya tidak akan memadai, serta barangkali akan diterima sebagai hal yang membosankan.

Kosmos

Tulisan ini juga ingin mengampanyekan bahwa sains modern (termasuk astronomi) relatif akan lebih bermakna dan lebih berkembang apabila kembali melibatkan aspek metafisis dan/atau spiritualis di dalam setiap usaha penelitian dan pengembangannya. Bagi sebagian orang, hal ini dapat disebut sebagai “sains postmodern” dan bagi sebagian yang lain dapat sekedar menertawakannya.

Sejarah sains menunjukkan bahwa aspek metafisis dan/atau spiritualis memberikan kontribusi yang sangat besar dalam usaha pengembangan sains, setidaknya dalam peradaban Islam pada masa Abad Pertengahan. Dalam masa itu, chemistry adalah alchemy, dan astronomi adalah astrologi (bahkan Al-Fārābī menggolongkannya sebagai the science of heavens); karena aspek empiris/positif dan aspek metafisis/spiritualis sama-sama dilibatkan dalam setiap usaha pengembangan sains. Bahkan, matematika yang dikembangkan dalam masa itu tidak hanya aljabar yang berhubungan dengan geometri dan trigonometri, akan tetapi, juga menyangkut makna mengenai angka dalam pengertian Pythagorasian. Menurut Seyyed Hossein Nasr, hal itu terjadi karena “seni dan sains dalam Islam berdasarkan pada ide mengenai kesatuan (unity), yang menjadi jantung bagi proses peng-ilham-an kepada seorang Muslim”(Science and Civilization in Islam [Massachusetts: Plume Books, 1968, hal.21-2]).

Hal itu tentu juga berhubungan dengan asumsi dasar mengenai alam semesta atau kosmos (berasal dari bahasa Yunani yang kurang-lebih bermakna ‘harmonis’ dan ‘teratur’). Keteraturan dan keharmonisan itu menuntut keseimbangan antara yang-empiris/positif dengan yang-metafisis/spiritualis. Bila Frifjof Capra menyebutnya sebagai “the cosmic web”, maka, Nasr menyebutnya sebagai “(a) ‘God is the Firstimplies that the cosmos begins from Him; (b) ‘He is the Lastimplies that it returns unto Him.” Sehingga tidak heran bila kemudian dalam Islam dikenali dua jenis kiamat, yaitu kiamat sugra (kecil) dan Kiamat Qubra (besar). Yang pertama biasanya diasosiasikan dengan pelbagai bencana alam dan bencana sosial yang melanda manusia dan peradabannya. Sedangkan yang kedua kerapkali dimaknai sebagai hancurnya alam semesta dan kemudian berlangsung proses “kehidupan” selanjutnya: Hari Penghitungan, Hari Pembalasan, dan sebagainya. Jadi, apa yang ‘harmonis’ dan ‘teratur’ itu senantiasa mengacu kepada-Nya yang Esa (metafisis/spiritualis).

Penjelasan ringkas di atas sepertinya cukup untuk mengatakan bahwa kemungkinan badai matahari pada tahun 2012 adalah kiamat (kecil) atau bencana alam sedangkan Kiamat (besar) menjadi rahasia dan “prerogatif”-Nya yang Esa. Adapun agama tidak hanya dapat dikerdilkan sebagai “pembenaran” tetapi juga dapat menjadi “penyalah/falsifikasi” atas argumen apa pun yang mengklaim bahwa ia mengetahui secara pasti mengenai kapan dan bagaimana terjadinya Kiamat (besar). Kiranya tegangan antara agama dengan sains mengenai kiamat (kecil) serta Kiamat (besar) dapat dimoderasi dengan melibatkan secara sekaligus aspek empiris/positif dan aspek metafisis/spiritualis di dalam setiap usaha pengembangan sains.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

2 Comments

  • hmm… religius sekali :)
    Sebenarnya sudah sejak lama toh di kalangan ilmuwan ateis ada upaya untuk “menyusun” skenario kiamat, mulai akibat tabrakan bumi dengan komet, lepasnya bulan dari orbit, ledakan suprnova matahari, hingga badai matahari seperti yang kau tulis ini. Semua tentu saja hipotesis.
    Sebaliknya, di kalangan ilmuwan religius upaya sejenis dimaknai sebagai tafsir ilmiah terhadap kitabb suci. Karya ilmuwan Indonesia yang cukup menarik adalah tulisan Prof. Sahirul Alim. Beliau menggunakan teori bigbang hingga evolusi matahari menjadi bintang katai (dwarf star) dan akhirnya meledak dalam sebuah supernova untuk menafsirkan perjalanan dunia sebagaimana digambarkan Qur’an. Tentu saja pak profesor ini tidak menyebut tahun tertentu.
    Btw, apa setiap “agama” punya konsep kiamat atau berakhirnya dunia? Untuk tiga agama Ibrahim (yang kau sebut samawi itu :) barangkali konsep dan urutannya mirip-mirip lah. Tapi bagaimana dengan agama-agama India dan China?
    tq.

    • kelindankata

      Terima kasih atas infonya mengenai Sahirul Alim, nanti kucari tahu lebih lanjut. Klo setiap agama belum tahu, tapi kayaknya memang jarang kita mendengar mengenai konsep kiamat dari Budha atau Hindhu, misalnya. Tapi nanti klo ada hal yang sedemikian rupa akan kuberitahu, siapa tahu akupungtur atau pengobatan ayurweda memiliki asumsi kosmis tertentu yang berujung pada kiamat–walaupun sejauh ini kayaknya gak begitu, hehehe…

Leave a Reply