Berbuka di Gereja

August 27, 2009

Qusthan Abqary

Sejak 24 Agustus 2009, beberapa televisi memberitakan sebuah Gereja Kristen Jawa (GKJ) di Solo yang mengadakan acara buka puasa bersama di dalam gereja dengan menjual beberapa penganan secara murah meriah. Dengan uang sejumlah Rp 500,- kita dapat berbuka puasa dengan layak.

Alih-alih dialog antarumat beragama Islam dengan Kristen di Solo, peristiwa itu menyisakan beberapa persoalan. Pertama, dialog yang ideal mengandaikan kesetaraan di antara para peserta dialog; sedangkan dalam acara itu, GKJ merupakan penyandang—atau penyubsidi—dana bagi penganan buka puasa murah yang berarti memiliki posisi duduk sedikit lebih tinggi dibanding orang yang sedang berbuka puasa. Demikian kira-kira penjelasannya.

(a)    Dialog yang sehat mengandaikan kesetaraan antar peserta dialog berupa: duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

(b)   Dialog antarumat beragama yang dilakukan antara penyandang/penyubsidi dengan penerima/tersubsidi dalam acara buka puasa bersama lintas iman tidak mengandaikan kesetaraan antar peserta dialog.

(c)    Maka, dialog antarumat beragama yang berlangsung antara penyandang/penyubsidi dengan penerima/tersubsidi dan didahului dengan buka puasa bersama tidak sehat.

Dialog antarumat beragama (perlu dibadakan dengan dialog antaragama) tidak jarang dikampanyekan bertujuan untuk perdamaian. Untuk mencapai tujuan itu, maka, kesetaraan antarpeserta dialog menjadi keniscayaan atau hal yang tidak-boleh-tidak-ada. Namun, beberapa faktor seperti ketidaksetaraan dialog, empati kemanusiaan, dan kepentingan menggembalakan “domba-domba milik peternak lain” menjadi satu dan bercampur aduk di dalam isu yang sedemikian rupa.

Apakah seorang peternak K dengan alasan apapun dan tanpa seizin peternak I boleh menggembalakan domba milik petani I dan demikian sebaliknya? Tentunya tidak, dan bila hal ini dibiarkan maka bukan tidak mungkin terjadi konflik. Bukan hanya konflik horizontal akan tetapi juga konflik internal di antara sesama umat beragama tertentu, karena peternak K tidak jarang berkhutbah bahwa mencuri bukanlah tindakan yang baik; sementara tindakan menggembalakan domba milik petani I tanpa seizin yang bersangkutan dan dengan alasan apapun justru bertentangan dengan khutbah tentang larangan mencuri.

Provokasi untuk melakukan tindak represi tentu bukan tujuan dari tulisan ini. Namun, konsekuensi dari acara buka puasa bersama di GKJ boleh jadi menimbulkan represi. Kita tentu masih ingat bahwa Solo merupakan salah satu basis massa bagi organisasi fundamentalis seperti FPI yang tidak jarang melakukan tindakan represif. Bila terjadi tindakan represif dari pihak manapun, maka, hal itu akan menimbulkan dilema bagi semua pihak. Dalam konteks ini, menghindari keburukan dengan tidak menggelar acara berbuka puasa lintas iman dengan alih-alih akan dilanjutkan dengan acara dialog antarumat beragama; ialah pilihan yang tepat.

Buka puasa di gereja dengan alih-alih dialog di GKJ itu memang memiliki makna strategis tetapi hanya untuk salah satu peserta dialog saja. Apakah dialog antarumat beragama yang hanya memberikan nilai strategis kepada salah satu pihak, layak untuk dilakukan?

Kedua, bagaimana pihak GKJ memandang berbuka puasa? Sebagai ritus keagamaan atau hanya sekedar acara makan-makan dan minum-minum kemudian dilanjutkan dengan diskusi? Bila pihak GKJ memosisikan berbuka puasa sebagai ritus keagamaan, maka, apakah etis bila pihak-pihak di luar agama tertentu turut campur di dalam ritus keagamaan tersebut? Bila hanya diposisikan sebagai acara makan-makan dan minum-minum, maka, kenapa acara itu diklaim sebagai berbuka puasa?

Sebagian muslim dan muslimah sekalipun bukan tidak mungkin akan menyangkal bahwa berbuka bukan bagian dari rukun puasa dan bukan bagian dari ibadah mahdlah yang terkait ruang; akan tetapi hal itu tidak menggugurkan kenyataan bahwa membatalkan atau berbuka puasa di lingkungan gereja menimbulkan dilema bagi umat Islam dan berpotensi besar menimbulkan konflik horizontal maupun internal. Semoga semua pihak dapat menahan diri di bulan yang suci ini.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

2 Comments

Leave a Reply