Buku Baru: Melawan Fasisme Ilmu

September 22, 2009

Kita sebelumnya hanya mengetahui fasisme sebagai hal yang berkaitan dengan rezim yang berkuasa di Jerman, Italia, dan Jepang pada masa sebelum hingga setelah Perang Dunia II. Padahal, sebentuk fasisme di ranah keilmuan tidak kalah berbahaya bagi perkembangan pengetahuan manusia. Dengan hadirnya buku berjudul Melawan Fasisme Ilmu diharapkan wacana kita menjadi semakin luas dan mendalam serta tidak latah untuk mengatakan bahwa “segala sesuatu harus dipandang secara ilmiah”.

Buku ini dicetak menggunakan sistem print on demand (POD) sehingga dicetak sesuai dengan jumlah permintaan. Jalur distribusi tidak melibatkan toko buku sehingga harus dipesan melalui alamat email kelindan [at] telkom [dot] net.

Buku ini ditujukan kepada mereka yang merasa bahwa segala sesuatu harus dipandang secara ilmiah atau saintifik. Mari bebaskan diri sendiri dari kungkungan fasisme ilmu!

Judul : Melawan Fasisme Ilmu

Penulis : Qusthan Abqary

Penerbit : Kelindan

ISBN : 978-602-95374-0-6

Ukuran : 13,49 x 22,86 cm

Cover : Ivory

Kertas : HVS 80 gram

Jilid : Benang

Halaman : 176 halaman

Harga : Rp 40.000 (pengganti ongkos cetak) + ongkos kirim menggunakan Tiki

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

10 Comments

  • beneran nih Qusthan??
    ado nan gratis untuak awak ciek ndak??
    He2..:)

  • kelindankata

    Awak baru mampu mancetak buku tu tujuh baleh Ngku. Ka patang dapek harago tamaha bana, barangkali dek dicetak manjelang rayo. 40 itu yo ongkos kasadonyo. Awak indak lamak juo ka ma’ambiak untuang. Bukan sok ikuik manggaleh a la nabi tapi lai sabana indak lamak. Labiah rancak kok ado sanak nan ka ba infaq untuak mancetak buku iko labiah banyak, tantu awak bisa samo2 menggratiskan buku iko. Kawan ado di Yk nan barani mancetak minimal 100–biasonyo urang barani minimal 3.000 eksemplar. Salamek lah dipakai LIPI tulisan angku. Baa skripsi tu? Semoga angku senantiasa sehat dan sukses.

    • he2.. alah lamo awak indah mangunjungi blog qusthan mah.. kok buliah tahu, dima pak qusthan mancetak buku?? awak ado pulo rencana ka manjadikan skripsi awak jadi buku.. kiro2 ado rekomendasi tampek percetakkan yang rancak ndak??:)

  • izzah

    qusthan, selamat yo…
    bukune dah terbit. hehe telat….

    salam
    blog walking

    • kelindankata

      Izzah,

      Terima kasih untuk ucapannya. Bagaimana kabarmu? Semoga senantiasa sehat dan sukses.

      Ditunggu kritik, saran, komentar, dan caci-makinya. Tidak perlu sungkan, hehehe…

      Salam,
      QA

  • Bang, maaf, amanat Abang untuk meresensi buku Abang di koran, meski sudah kulaksanakan, belum diluluskan oleh beberapa Koran yang saya kirimi. Tapi sebetulnya itu bukan alasan untuk tidak memperbanyak oplah penerbitan, toh? Termasuk dua buku yang sudah saya pesan jauh-jauh hari lalu hehe..

    mampir di blogku yang baru, Bang:
    http://omahsamir.blogspot.com/2009/12/sebuah-rekomendasi-menuju-demokratisasi.html

    • kelindankata

      Santai saja Jib, coba tanyakan ke Ni’am, karena dia sangat berpengalaman ihwal resensi, hehehehe…Soal cetakan, aku belum punya dana untuk itu. Tempo hari ada sanak nun jauh di seberang Atlantis yang berniat membantu tapi batal. Jadi, harus mengencangkan ikat pinggang untuk sementara. Harap dimaklumi.

  • wow.. two thumbs up! mau donk kalo gratisan. hehehew

    • kelindankata

      Saya sendiri tidak memegang satu pun dari buku itu. Tempo hari hanya dicetak terbatas, tentu disebabkan persoalan finansial. Oh iya, empat jempol buat kamu. Baru dua orang Indonesia yang saya tahu ketika lulus kemudian diganjar beasiswa oleh kedubes pada tahun yang sama. Saya setiap Sabtu kongkow bareng Zacky, teman seangkatanmu di BGF. Jadi ambil politik di mana, EHESS? Normale? Semoga nanti tidak “melacurkan” negara dan tetap ingat sama Pancasila, kekekeke…

      • ooh mas Zaky.. ya yaa… tp dia udah ‘resign’ dr BGF :)
        belum tau dimana-nya Mas.. mungkin EHESS atau universite publik lainnya. doakan ya!

Leave a Reply