Profesor Malin Kundang

November 18, 2009

Qusthan Abqary

“Saya gumun sama profesor-profesor jebolan Amerika yang jadi agen-agen neolib di sini. Masak yang tadinya profesor ekonomi, kemudian jadi menteri keuangan, lantas sekarang malah jadi menteri pendidikan?! Padahal dulu dia pas masih jadi menteri keuangan di kabinetnya Pak Kyai, adalah orang yang paling getol mengampanyekan agar pemerintah membuka jalur kerjasama lagi dengan IMF. Hal ini turut memperkuat asumsi saya sebelumnya bahwa siapa pun presidennya, agenda neolib tetap berjalan karena menteri-menterinya adalah agen neolib. Sekarang dia kok malah jadi menteri pendidikan. Kompetensinya dari mana? Kalau latar belakangnya pedagogi gak apa-apa lah. Ini malah profesor ekonomi. Jadi gak heran kalau pendidikan jadi bakulan.”

“Loh, bukannya kamu pernah bilang kalau menteri pendidikan yang bagus itu cuma tiga orang? Dewantara, Joesoef, dan Hasan? Nah, yang kedua kan dulunya juga profesor ekonomi to?”

“Dia tentu berbeda. Meskipun gelar profesornya didapat ketika mengabdi di fakultas neolib, dia punya visi pendidikan yang bagus, bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan. Kalo sekarang kan entitas ‘kebudayaan’ dipisahkan secara tegas dari pendidikan. Buktinya, nama departemennya cuma Depdiknas, sementara kebudayaan di-merger sama pariwisata. Jadi sekarang yang namanya ‘kebudayaan’ cuma ngurusin plesir, hehehehe….”

“Sebentar. Sebagian orang yang mengusulkan agar istilah kebudayaan dilepaskan dari rangkaian nama DepDikBud adalah para profesor pendidikan juga lo.”

“Iya, karena semangat zaman pada awal Reformasi memang menggiring untuk ke sana. Tapi ingat, mereka yang mengusulkan penghapusan istilah ‘kebudayaan’ pada akhirnya juga tetap sepakat dengan tesis bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan.”

“Itu pun, kampanye plesirnya sok-sok-an pake Bahasa Inggris, tapi dikritik orang karena terjadi kesalahan structure and grammar. Kata orang, seharusnya bukan Visit Indonesia Year, tapi ada yang ngusulin Visiting Indonesia Year, Indonesia’s Visiting Year, Year of Visiting Indonesia, dan Indonesia Visit Year. Gak tahu deh mana yang bener. Mosok arep nggawe slogan wae kudu nganggo boso Inggris. Slogan kudune yo tetep boso Indonesia tapi mengko di-Inggris-ke nek misale promosi neng jobo. Niate melu-melu Malaysia nganggo boso Inggris tapi malah wagu.”

“Tidak hanya itu. Pembangunan Trowulan, misalnya, masak bangun pondasi di sumur tua bekas Majapahit. Itu kan malah merusak, bukan melestarikan. Kalau menurut Pak Joesoef: “Pembangunan “Pusat Informasi Masyarakat” (PIM) di lokasinya yang sekarang, dengan merusak situs sejarah, betapapun kecilnya, bisa saja dianggap sebagai rekreatif, tetapi pasti tidak layak disebut edukatif. Kalau toh dilanjutkan di lokasinya yang sekarang, ia akan menjadi blunder yang sama dengan yang pernah dilakukan Bung Karno, yaitu merobohkan Gedung Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur demi mendirikan suatu gedung yang “megah” secara teknis di atas puing-puingnya. Hanya keledai yang terpeleset di tempat yang sama dua kali!”

“Aku pun baca tulisan itu. Bahkan Pak Joesoef kan juga menegaskan di bagian akhir tulisannya itu bahwa: “Akhirnya, perlu saya ingatkan bahwa insiden situs Majapahit dan blunder serupa lainnya merupakan akibat logis dari dipisahkannya “kebudayaan” dari “pendidikan”". Artinya, salah satu simpul persoalan terletak pada di sektor pendidikan. Di sisi lain, para demonstran yang concern dengan isu pendidikan jarang sekali mengaitkannya dengan kebudayaan. Mereka hanya berkutat di persoalan kenaikan biaya pendidikan. Hal ini sangat disayangkan.”

“Sudah sering kubilang sama demonstran-demonstran itu. Mbok ya sekali-kali kalo demo jangan di Bunderan, tapi sekalian ke rumah menteri. Sabtu pagi kan dia sering terbang ke Yogya. Kalau perlu, sekalian buat FGD sama warga di sekitar rumahnya untuk mewacanakan pendidikan yang semakin mahal. Mereka tentu heran mengapa biaya sekolah anak-anak mereka mahal, tapi jarang sekali yang sadar bahwa kurang dari sepelemparan batu dari rumah masing-masing, justru terdapat orang nomor satu di DepDikNas, yang seharusnya memperjuangkan pendidikan murah bagi seluruh warga negara termasuk tetangga dekatnya. Itulah salah satu manifestasi gerakan mahasiswa sejati yang koheren dengan kebudayaan, huehehehehe….”

“Dunia universitas di sini memang hampir flat. Dari dulu sampai dengan sekarang fakultas tempat Pak Joesoef mengajar selalu berkait dengan yang namanya Mafia Berkeley. Tapi sekarang, fakultas yang dulunya terkenal dengan gagasan Ekonomi Pancasila malah diisi oleh sebagian besar dosen yang pro Ekonomi Liberal. Sekolah tinggi-tinggi sampe dapet gelar doktor dan kemudian dipromosikan jadi profesor, tapi kok malah jadi Malin Kundang buat ibu pertiwi, hehehe…”

“Makanya baca buku saya yang berjudul Potret Ekonom sebagai Malin Kundang, hehehe….”

“Buku?! Bukannya itu cuma stensilan? Hehehehe…”

Tiba-tiba terdengar senandung lagu dari band Panas Dalam yang diputar oleh pengelola warung kopi.

Intro yang berisikan alunan khas a la Minangkabau mengawali:

Masih kuingat

Satu bulan yang lalu

Jaga gengsimu

Kau usir ibumu

 

Masih kuingat

Aku saksi hidupmu

Kau dikutuk ibuuu….

Menjadi batuuu…

 

Malin Kundang kau kukenang selalu

Dan masih kusimpan puisimu

Malin Kundang buruk nian nasibmu

Memiliki ibu yang temperaaamental

 

Lalala…lalala…lalala…

 

Kini dirimu

Telah menjadi batu

Hatiku pilu

Mengenang dirimu

 

Malin Kundang kau kukenang selalu

Dan masih kusimpan puisimu

Malin Kundang buruk nian nasibmu

Memiliki ibu yang temperaaamental

 

Malin Kundang kini kau tergenang

Banyak beredar buku tentaangmu

Aku bangga pernah bersamamu

Mungkin kau terkenal bila tak durhaka

 

Lalala…lalala…lalala…

 

Kini dirimu

Telah menjadi batu

Sedang diriku

Menjadi babu

 

Malin Kundang andai masih hidup

Saudagar kaya yang foya-foya

Tentu bangga menjadi temanmu

Minta bantu modal bikin rumah makan

 

Lalala…lalala…lalala…

 

Kedua mantan pegiat pers mahasiswa itu pun hanya tertawa tergelak.

***

 

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply