Artema

December 8, 2009

Qusthan Abqary

“Ayah, Nabi Isa menerima wahyu dari Tuhan melalui malaikat dalam bahasa apa?” tanya Artema dengan polosnya kepada ayah.

Pikiran ayah melesat secepat kilat kepada ingatan beberapa puluh tahun silam. Adalah dialog antara dirinya sendiri dengan kakek dari Artema yang membuat ayah tertegun cukup lama. Kakek, pada waktu itu, tidak dapat menjawab pertanyaan ayah.

Ayah pun sebelum menanyakan hal itu telah melakukan penelusuran awal sebagai bahan pembanding. Ketidakmampuan kakek untuk menjawab pertanyaan itu mendorong ayah untuk menjelaskan sejarah versi Barat.

Pada tahun 15 Sebelum Masehi (SM) hingga 96 Masehi (M), yang berkuasa di Yerussalem ialah Dinasti Herod yang sebelumnya ditunjuk oleh kerajaan Romawi. Namun, jauh abad sebelumnya, tepatnya pada 586 SM, kerajaan Neo-Babylonia menginvasi Yerussalem yang sedang dikuasai oleh kerajaan Yudah. Banyak orang Yahudi yang dipindahkan ke Babylonia. Mereka diwajibkan untuk belajar bahasa Aramaic dan tidak boleh sama sekali menggunakan bahasa Ibrani Kuno. Babylonia kurang-lebih terletak di wilayah Syria pada masa sekarang, sehingga tidak mengherankan apabila beberapa tahun yang lalu Israel – dengan dalih apapun – membalas dendam historis mereka.

Dengan demikian, menurut ayah, boleh dibilang bahasa Ibrani Kuno sudah mengalami banyak perubahan sejak enam abad sebelum Isa dilahirkan ke dunia.

Kakek mengkritisi, itupun kalau kita – untuk sementara – menerima bahwa Nabi Isa sama dengan Yesus, sementara penetapan awal kalender masehi pada kelahiran Yesus. Ayah mengafirmasi kritik kakek.

Namun, ayah melanjutkan, membayangkan bahwa Nabi Isa berbicara dan kemudian menerima wahyu dalam bahasa Latin adalah hal yang ganjil bagi seorang muslim. Hal itu boleh jadi mirip dengan asumsi bahwa tingkat buta huruf masih sangat tinggi pada rezim Orde Lama. Buta huruf apa? Latin? Semua huruf? Lantas sebagian besar muslim pada waktu itu tidak bisa membaca kitab sucinya? Ganjil bila tidak bias.

Seolah ingin memperkuat argumen bahwa terjadi pergeseran atas bahasa Ibrani Kuno, ayah membandingkannya dengan bahasa lain. Kurang lebih pada abad 10 M berkembang bahasa Yiddish di sekitar Sungai Rhine, Jerman. Bahasa ini dipakai oleh komunitas Yahudi di sana. Sebagian orang mengklaim bahwa bahasa Yiddish merupakan bahasa khas yang dibangun dan dikembangkan oleh komunitas Yahudi, akan tetapi sebagian orang lain percaya bahwa bahasa ini hanya menjadi semacam turunan atas bahasa Jerman. Boleh jadi mirip dengan bahasa Jerman dialek Alemannic yang digunakan di sebagian wilayah di Swiss.

Lantas, ayah bertanya secara retoris, bagaimana bisa ajaran agama yang diturunkan dalam bahasa tertentu – entah Ibrani Kuno maupun Latin – yang kemudian mati selama beberapa abad masih dapat dipercaya kemurniannya? Kakek tertegun mendengar hal ini dan mendapat gagasan untuk memperseru diskusi. Bukankah hal yang sama juga terjadi pada Nabi Musa dan ajaran Yahudi yang diturunkan dalam bahasa Ibrani Kuno? Kakek turut menimpali secara retoris.

Tepat sekali, jawab ayah. Bahasa Ibrani “dihidupkan kembali dari kematian” pada abad ke-19 beriringan dengan rencana pembentukan negara Israel. Itupun kini dikenali sebagai bahasa Ibrani Modern. Apabila kita secara arbitrer menganggap bahwa bahasa Ibrani Kuno sudah tidak digunakan sejak 586 SM, maka, ia telah mati kurang-lebih 25 abad! Bagaimana komunitas Yahudi mempertanggungjawabkan hal ini? Di sisi lain, ketidaksadaran muslim atas perbedaan realitas bahasa di antara ketiga ajaran agama samawi adalah wujud dari kemiskinan reflektif. Sementara kita insyaf bahwa bahasa Arab yang menjadi medium bagi ajaran Islam tidak mengalami perubahan yang signifikan sejak diturunkannya wahyu pertama kali kepada Nabi Muhammad S.A.W., ayah menggurui kakek.

Kakek tidak rela begitu saja diceramahi anaknya langsung menanggapi. Dan bahasa Arab ialah bahasa yang paling kompleks dari sisi apapun juga, sehingga orang Arab sangat bangga dengan bahasanya ini.

Namun, sanggah ayah, bagaimana bisa komunitas Arab yang dahulu terkenal jahil, dapat mengembangkan bahasa yang hingga saat ini paling kompleks? Kakek menjawab, bukan rahasia lagi, sayembara kesusasteraan gencar dilakukan terutama di sekitar Ka’bah. Adalah sastra yang mengembangkan bahasa dan bukan sebaliknya, kakek berhipotesa. Namun, lanjut kakek, menganggap bahwa kejahilan sebagai salah satu sumber inspirasi bagi pengembangan sastra adalah pendapat yang konyol, laiknya yang banyak dianut sebagian sastrawan muda kita, kecam kakek.

Ayah tidak begitu saja menyerah pada kalimat kakek. Lantas, faktor apalagi yang turut memengaruhi pengembangan kompleksitas bahasa Arab hingga lumayan mapan untuk digunakan sebagai medium bagi transfer wahyu? Kakek terdesak dan menjawab, sebagian orang percaya bahwa bahasa Arab ialah bahasa yang telah dipersiapkan oleh Tuhan untuk menjadi medium bagi ajaran-Nya yang terakhir.

Hehehehe…ayah tertawa lirih. Boleh jadi pertanyaan itu harus kita ajukan kepada mereka yang mengklaim atau diklaim sebagai ahli perbandingan agama. Dari sekian banyak universitas, institut, dan sekolah tinggi keagamaan masak tidak ada yang dapat memberikan jawaban yang memuaskan, hehehe…ayah tertawa dengan geli.

Dalam sekejap, Artema memegang tangan ayah sembari mengayunkannya.

“Ayah akan menjawabnya, tapi Artema harus berjanji bahwa cerita ini tidak boleh disampaikan kepada teman-teman non-muslim,” jawab ayah.

“Kenapa Yah?” tanya Artema dengan nada berbisik.

“Demi persaudaraan antarumat beragama,” ayah menjawab dengan raut muka menahan gelak tawa.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

One Comments

Leave a Reply