Kematian, Hak atau Takdir?

January 17, 2010

Qusthan Abqary

“Keluarga belum rela terpidana mati dieksekusi. Ajal itu hak Allah, tidak bisa diambil alih manusia”.

-Jafar Shodiq-

Pernyataan tersebut dilontarkan oleh kakak Amrozi dan Ali Ghufron alias Muklas pada 3 November 2004 ketika mengajukan Peninjauan Kembali melalui Pengadilan Negeri Denpasar, Bali (Koran Tempo, “Peninjauan Kembali Tak Halangi Eksekusi”, 4 November 2008, halaman A2).

Apa yang disebut sebagai “hak”, sedikit-banyak mengarah pada apa yang juga dikenali sebagian besar orang sebagai “takdir”. Profesor Quraish Shihab dalam sebuah program keagamaan di Metro TV pada Ramadhan 2008 lalu menjelaskan bahwa banyak kesalahpahaman orang mengenai takdir. Menurutnya, takdir memang ditentukan Allah SWT dan tidak tunggal, sehingga manusia mendapat kebebasan untuk memilih mana takdir yang akan dijalaninya. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa otonomi manusia masih eksis hingga ke dalam koridor yang bernama takdir sekali pun.

Otonomi manusia untuk memilih mana takdir yang akan dijalaninya akan senantiasa berinteraksi dengan faktor eksternal seperti alam dan negara. Dalam kasus Amrozi, Ali Ghufron, dan Imam Samudra, ketiganya dapat dikatakan telah memilih mana takdir yang akan mereka jalani, yaitu mengakhiri ziarah kehidupan duniawi ini dengan jalan hukuman mati. Eksistensi otonomi mereka sebagai manusia juga dapat dilihat pada upaya mereka untuk dieksekusi dengan cara tidak ditembak, melainkan dipancung. Ketika Amrozi, Ali Ghufron, dan Imam Samudra meninggal dengan cara ditembak mati, maka hal tersebut menunjukkan bahwa negara dengan segala instrumen hukum yang menyertai; memainkan peran penting di dalam proses interaksi antara terpidana dengan negara.

Di sisi lain, pernyataan Jafar Shodiq yang menggunakan istilah ‘hak’, seolah-olah mencitrakan bahwa persoalan kematian dan takdir sepenuhnya ditentukan Allah SWT sedangkan manusia dan negara terkesan sama sekali tidak memiliki otonomi dan/atau kebebasan untuk terlibat di dalamnya. Akan lebih tepat jika istilah yang digunakan adalah takdir yang pemaknaannya menggunakan penjelasan Profesor Quraish Shihab.

Mempertentangkan hak dan kuasa Allah SWT dengan hak dan kuasa manusia secara diametral adalah tindakan yang sama sekali tidak memadai, jika tidak sesat dan menyesatkan. Hal tersebut justru mengerdilkan kebesaran serta menciderai kuasa Allah SWT. Seandainya eksekusi berjalan seperti yang diputuskan negara, dan perspektif kerdil tersebut dipertahankan, maka posisi Allah SWT justru seperti mengalami desakralisasi kekuasaan. Sehingga pertentangan diametral tersebut justru menjadi tidak sehat bagi pemahaman teologis seseorang.

Bentuk kematian lain seperti harakiri, euthanasia, atau aborsi, sepertinya luput dari perhatian Jafar Shodiq. Ketiganya merupakan bentuk kematian yang unik dan khas yang memperkuat asumsi bahwa pertentangan diametral tersebut sesungguhnya memang tidak memadai. Sangat sulit untuk mencerna bagaimana Allah SWT dapat “secara kejam” menyuratkan bahwa si A akan mati dengan cara harakiri, si B akan mati dengan cara euthanasia, dan si C akan mati karena aborsi.

Di sisi lain, tidak berarti bahwa ketiganya merupakan manifestasi dari eksistensialisme ekstrem. Yang terakhir ini juga tidak jauh berbeda dengan pendapat Jafar Shodiq. Bila Jafar Shodiq berada di titik ekstrem yang tidak tepat mengenai kuasa Allah SWT, maka eksistensialisme ekstrem juga berada di titik ekstrem yang tidak tepat mengenai kuasa manusia. Manusia tidak dapat sepenuhnya imun dari pengaruh alam dan Allah SWT. Preferensi untuk melakukan harakiri misalnya, tidak dapat lepas dari faktor eksternal seperti kemiskinan, stres, hingga bisikan yang tidak jelas asal-usulnya. Dan Allah SWT mengkreasikan banyak opsi takdir yang dapat dipilih oleh manusia dengan melibatkan interaksi dengan alam, termasuk di dalamnya lingkungan sekitar.

Perbedaan bentuk kematian seseorang relatif dapat mencerminkan mana pihak yang dominan di dalam menentukan siapa yang paling berpengaruh. Harakiri misalnya, dapat dikatakan bahwa individu yang bersangkutan lebih berpengaruh ketimbang alam meski pun yang terakhir ini juga turut memengaruhi. Euthanasia memiliki motif yang beragam, baik ekonomi maupun individu yang bersangkutan, serta faktor lainnya yang berkait dengan perbedaan bentuk sakit yang menyertai. Aborsi juga memiliki keragaman motif, baik tekanan sosial maupun ekonomi, serta faktor pendorong lainnya.

Allah SWT memang maha kuasa, akan tetapi tidak berarti dapat berlaku otoriter a la manusia layaknya ketika menafsirkan agama atau ketika menjalankan sebuah negara. Allah SWT memang maha mengetahui, akan tetapi tidak berarti secara moral dapat mengintervensi segala keputusan manusia. Manusia memang mahluk Tuhan akan tetapi tidak berarti sama sekali tidak memiliki kebebasan untuk berkehendak. Manusia memang memiliki otonomi akan tetapi tidak berarti imun dari pengaruh alam dan Tuhan. Barangkali di situ letak keunggulan serta keistimewaan manusia sehingga derajatnya lebih tinggi daripada jin maupun malaikat. Keistimewaan tersebut diberikan Tuhan hingga ke tahap akhir kehidupan duniawi dengan jalan memberikan keragaman takdir sebagai opsi yang dapat dipilih oleh manusia.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply