Mustakbirin

June 27, 2010

Aku mengangkangi istana rakyat
Aku membelakangi zakat rakyat
Aku meniduri infaq rakyat
Aku menyelubungi puasa rakyat.

Masjid, mushalla, langgar, pesantren, surau
Harus bersih dari kesadaran berorganisasi
Harus bersih dari keinginan berhimpun
Harus bersih dari kedisiplinan berserikat.

Shalatku palsu
Zakatku untuk babu
Infaqku demi gincu
Haji menjadi “jati diri”
Sedekah demi berkah untuk mereka yang bergairah.

Aku butuh dua miliar orang untuk mati pada abad ini
Demi sistem yang memperkaya diri sendiri.

Aku beri rokok kepada mustadh’afin
Demi satu miliar orang yang kubutuhkan untuk mati.

Aku beri narkoba dan perang kepada mustadh’afin
Demi sisa satu miliar orang yang kubutuhkan untuk mati.

Aku beri sinetron, hiburan, dan mimpi palsu
Demi kebodohan yang melanggengkan kuasaku.

Sombong omong?
Omong sombong?
Tinggi maki?
Maki tinggi?

Aku benci mustadh’afin yang sadar!
Aku benci mustadh’afin yang berhimpun!
Aku benci mustadh’afin yang berserikat!
Aku benci mustadh’afin yang berorganisasi!

Maka di antara kamu ada yang kikir
Dan siapa yang kikir
Sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri.

Jakarta, 14 Rajab 1431 H / 26 Juni 2010

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply