Yang Baik dan Yang Banyak

January 27, 2011

Qusthan Abqary

Manakah yang lebih benar: ‘yang baik itu banyak’ (1) atau ‘yang banyak itu baik’ (2)? Sebelum berusaha menjawabnya, tentu penting untuk membatasi derajat kebenaran tersebut.

Yang dimaksud dengan “lebih benar” ialah ketepatan abstraktif terhadap kedua premis (1) dan (2), sejauh yang dapat didiskusikan dan dinalar secara sehat. Kebenaran tentu diposisikan secara relatif terhadap kemampuan nalar mentransendensikan pelbagai hal yang relevan guna mencapai kesimpulan yang paling mungkin. Dengan demikian, kebenaran absolut menjadi kurang relevan dalam pembahasan ini.

Yang baik merupakan kategori nilai yang beragam akan tetapi dapat dirasakan dan dipahami baik oleh nurani maupun pikiran. Nurani merupakan salah satu alat yang secara instingtif akan berfungsi secara simultan dengan pikiran. Namun, nurani tidak mendahului pikiran laiknya pikiran dapat mendahului nurani. Pikiran manusia menjadi tidak terbatas sejauh ia dapat menyadari keterbatasannya. Uniknya, ketidakterbatasan pikiran justru dapat memikirkan keberadaan Tuhan yang katakanlah tidak terbatas, abstrak, serta tidak terinderai. Di saat yang bersamaan, persepsi pikiran manusia terhadap Tuhan menjadi beragam dan berganti, khususnya ketika terjadi perubahan dalam ilmu pengetahuan. Tepat di sini, pikiran manusia bersimpang jalan menjadi sekurangnya dua hal.

Pertama, pikiran manusia yang tidak menyadari dan/atau tidak mengakui bahwa daya pikirnya berbatas sehingga turut memengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan yang seolah juga turut tak berbatas. Ketika asumsi yang sedemikian rupa berlantai pada pemahaman bahwa Tuhan yang merupakan topik hangat selama berabad-abad saja dapat dipikirkan; maka pikiran tersebut khilaf bahwa para pendahulu dapat memikirkan Tuhan bukan semata karena daya nalar atau daya pikirnya, tetapi karena turut dipengaruhi oleh pelbagai macam gejala alam. Sebuah perkembangan yang cukup menarik mengenai pikiran yang tentu dipengaruhi oleh otak manusia ialah penemuan bahwa semakin hari volume otak manusia semakin mengecil karena efisiensi. Pada zaman purbakala, volume otak manusia jauh lebih besar karena turut dipacu bekerja untuk mencari tahu bagaimana cara bertahan hidup. Namun, pada masa kini volume otak manusia jauh lebih kecil karena tidak harus melulu memikirkan bagaimana cara bertahan hidup yang lebih membutuhkan kapasitas yang lebih besar.

Kedua, pikiran manusia yang menyadari dan/atau mengakui bahwa daya pikirnya berbatas sehingga dalam ikhtiar memengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan turut didampingi oleh kearifan yang memadai. Kearifan merupakan bentuk kecerdasan tersendiri yang dipengaruhi oleh interaksi secara sehat antara tradisi dengan perkembangan baru. Pikiran manusia yang intens dengan ilmu pengetahuan dan kearifan akan serta-merta menuju kepada kebaikan untuk kebaikan dan bukan pada kebaikan untuk semua.

Kebaikan untuk kebaikan senantiasa berusaha melayani semua, sementara kebaikan untuk semua tidak jarang justru hanya melayani sebagian dari semua. Di satu sisi, yang terakhir ini menjadi komoditas manipulatif para politikus busuk dalam medan politik praktis. Alih-alih memberikan kebaikan untuk semua, politikus busuk justru sibuk bernegosiasi (atau terjebak?) dengan segelintir elit yang sekiranya dapat mewakili keseluruhan. Padahal, sebagian politikus mahfum bahwa dirinya tidak dapat memuaskan semua pihak. Di sisi lain, kebaikan untuk kebaikan dalam batas tertentu terkesan hanya memuaskan sebagian pihak, tetapi dalam jangka panjang justru menyehatkan dan membahagiakan semua pihak. Keterlambatan itu bisa jadi karena semua pihak belum menyadari kebutuhannya di masa depan atau disebabkan sebagian pihak tahu mengenai kebaikan untuk kebaikan tetapi justru acuh tak acuh. Tepat di sini, apa yang ditemukenali sebagai etika masa depan, yaitu etika masa kini yang merupakan hutang bagi masa depan, menjadi relevan. Kebaikan yang dilakukan pada saat ini dapat dipanen sekarang dan nanti apabila dilakukan demi kebaikan itu sendiri dan bukan untuk semua yang relatif. Semua pada masa kini tentu berbeda dengan semua pada esok hari.

Kebaikan dapat menggandakan nomina sementara nomina belum tentu dapat menghasilkan kebaikan. Alih-alih pemerintahan yang baik dan gotong-royong, seluruh partai politik diajak masuk ke pemerintahan tanpa mengakui bahwa koalisi tersebut justru semakin menjauhkan penguasa formal dari rakyat. Alih-alih menyuarakan suara umat, segelintir tokoh agama menyatakan kebohongan pemerintah tanpa memerhatikan bahwa kebaikan untuk kebaikan buta terhadap pernyataan bersama. Kebersamaan demi nomina dalam menyuarakan kebaikan menyisakan kesan bahwa mereka melawan logika politikus dengan logika politikus. Jauh lebih efektif dan elegan apabila masing-masing tokoh secara simultan dan individual menyuarakan aspirasi umat, baru kemudian menggunakan logika politikus apabila memang dianggap layak. Semoga para tokoh agama maupun politik semakin yakin bahwa yang baik itu banyak dan bukan yang banyak itu baik. Amin.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply