Mengapa Gerakan Mahasiswa Kurang Diminati?

February 6, 2011

Qusthan Abqary

Setelah 1998, gerakan mahasiswa ekstra- maupun intra-kampus relatif menurun peran dan sumbangsihnya bagi bangsa. Apabila organisasi pers mahasiswa/kampus segera melakukan sarasehan nasional dalam rangka merumuskan format baru pasca-Orde Baru di Lombok pada 1998, maka organisasi mahasiswa intra- maupun ekstra- kampus hampir tidak melakukan refleksi dan proyeksi yang sedemikian rupa. Konsekuensinya jauh. Sebagian besar mahasiswa terbaik di negeri ini tidak menjadikan organisasi mahasiswa ekstra- maupun intra-kampus sebagai pilihan utama dalam menempa kapasitas dan kapabilitas kepemimpinan maupun keilmuan. Mengapa demikian?

Belajar dari pers mahasiswa, sebagian kecil dari mereka relatif berhasil untuk menyadari bahwa peran mereka akan bergeser setelah 1998 dari yang sebelumnya – katakanlah – menjadi corong bagi suara oposisi yang tidak atau sulit tersalurkan melalui media massa umum; menjadi wahana bagi mahasiswa untuk membangun dan mengembangkan kapasitas dan kapabilitas keilmuan, di samping kepemimpinan. Misalnya, BPPM UGM Balairung mewujudkan transformasi tersebut dengan mengubah produknya dari format majalah menjadi jurnal beberapa waktu kemudian. Melalui jurnal, diharapkan mahasiswa akan semakin intensif mengasah kemampuan menulis, berfikir, meneliti, membangun argumentasi secara tertulis yang sejatinya senafas dengan atmosfer akademik di kampus. Lambat laun, langkah ini diikuti oleh berbagai organisasi pers kampus lainnya.

Di sisi lain, gerakan mahasiswa intra- maupun ekstra- kampus tetap stagnan dan terjebak pada romantisme 1998, 1978, 1974, 1966, 1928, tanpa memisahkan secara tepat apa yang menjadi perbedaan di antara masing-masing dan apa yang membuat mereka relatif berhasil. Hal yang tidak esensial justru dikemukakan entah sebagai apologi maupun justifikasi seperti perbedaan masa kuliah, perbedaan semangat zaman, hingga “pragmatisme” sebagian besar mahasiswa. Ringkasnya, masa kuliah seharusnya diterima sebagai tantangan sekaligus kesempatan bagi mahasiswa untuk menempa diri guna “melahap” dan “meminum” ilmu pengetahuan dengan sebaik mungkin. Perbedaan semangat zaman sejatinya merupakan penanda bahwa tugas mahasiswa di masa depan menjadi semakin berbeda. “Pragmatisme” sebagian besar mahasiswa sebaiknya dijadikan kritik bahwa gerakan mahasiswa harus melakukan transformasi fundamental.

Contoh yang cukup menarik dapat diambil dari Himpunan Mahasiswa Islam, baik MPO maupun DIPO. HMI sudah lama tidak menjadi pilihan mahasiswa terbaik di – tidak hanya perguruan tinggi terbaik di negeri ini tetapi juga – seluruh perguruan tinggi. Indikasinya jelas. Sejak perpecahan HMI melalui kongres tahun 1986 di Padang, jumlah Ketua Umum Pengurus Besar (PB) HMI – sebagai kader terbaik yang terpilih, baik di kubu MPO maupun DIPO – yang berasal dari perguruan tinggi terbaik dapat dihitung dengan jari tangan maupun kaki. Dengan kata lain, semakin sedikit minat dari mahasiswa terbaik di perguruan tinggi terbaik yang memandang bahwa HMI merupakan wahana terbaik bagi proses penempaan kepemimpinan maupun keilmuannya. Kalau pun masih banyak kader dari perguruan tinggi terbaik dan tidak terpilih menjadi Ketua Umum PB HMI, maka tidak serta-merta kader yang lain berhasil mengalahkannya dalam kompetisi yang sehat, tetapi bukan tidak mungkin lebih dikarenakan yang bersangkutan berfikir bahwa HMI bukan wahana yang tepat bagi pengembangan kepemimpinan dan keilmuannya. Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), umpamanya, dinilai lebih memadai bagi mereka tanpa menyadari bahwa HMJ juga dibentuk oleh kader HMI untuk menempa kapasitas keilmuan.

Identitas HMI sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan seharusnya ditransformasikan kepada isu keilmuan. PB HMI (MPO) periode 2003-5 bersama cabang di DIY pernah menggagas dan mengkampanyekan konsep gerakan berbasis keilmuan. Ringkasnya, cabang HMI tidak lagi berbasis wilayah, tetapi berbasis keilmuan masing-masing, sehingga muncul HMI Cabang Filsafat DIY, misalnya, yang isinya terdiri dari kader yang kuliah di Fakultas Filsafat UGM, Fakultas Ushulluddin UIN Sunan Kalijaga, dan fakultas sejenis di perguruan tinggi lain. Dalam batas tertentu, bukan tidak mungkin cabang keilmuan yang dianggap terlalu gemuk dibagi sedemikian rupa sehingga memudahkan kerja organisasional.

Dari sini, diharapkan terjalin interaksi keilmuan yang lebih intensif di antara kader-kader yang memiliki disiplin keilmuan yang sama dan/atau sejenis. Masing-masing cabang berbasis keilmuan diharapkan dapat memberikan laporan keilmuan yang diteruskan kepada Badan Koordinasi dan PB. Kluster keilmuan yang berdekatan pun dimungkinkan untuk dibentuk seperti sosio-humaniora, agro-komplek pertanian, hayati, mekanika, dan sebagainya. Namun, agaknya kader-kader HMI masih mengalami apa yang disebut sebagai “miopi masa depan” sehingga gagasan tersebut menguap tanpa jejak.

Oleh karena itu, Kemenpora dan Kemendiknas sepatutnya melibatkan diri karena pembangunan pemuda dan mahasiswa merupakan bagian yang konstitutif dari pembangunan nasional. Pendapat bahwa gerakan mahasiswa merupakan kekuatan moral seringkali mengaburkan dan mengerdilkan tugas mahasiswa. Seperti yang pernah dinyatakan salah seorang Menteri P & K, “musuh” paling riil dari (gerakan) mahasiswa bukan presiden, menteri, rektor, dekan, atau dosen, tetapi mahasiswa dan pemuda yang sedang asyik belajar di pelbagai perguruan tinggi di negara-negara maju karena mereka sedang mempersiapkan diri menjadi pemimpin negara-negara maju yang akan menentukan arah gerak kemanusiaan. Globalisasi dan neoliberalisme dapat ditaklukkan bukan hanya dengan demonstrasi atau revolusi, tetapi dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang massif serta diiringi kearifan yang visioner. Semakin jauh gerakan mahasiswa dari usaha pembangunan dan pengembangan keilmuan, semakin tidak diminati dirinya oleh mahasiswa.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply