Akal Minang, Menang Akal: Pergeseran tradisi merantau

May 2, 2011

Qusthan Abqary

Tidak sedikit bapak bangsa yang lahir dari ranah Minang. Padahal, jumlah penduduk di Minangkabau sebelum kemerdekaan tidak lebih dari 3% dari sekitar 70 juta penduduk di wilayah nusantara. Namun, penduduk Sumatera Barat tidak pernah menuntut menjadi daerah yang istimewa karena banyak sumbangan pemikiran dan tindakan dari putra terbaik Minangkabau. Sumatera Barat justru dicederai karena PRRI yang masih debatable. Hal ini jelas terlihat dari drastisnya penurunan pemikir sosial yang memiliki latar belakang Minangkabau, khususnya pada masa dan setelah Orde Baru turun takhta. Apa yang mendorong putra terbaik Minangkabau untuk merantau dan memperjuangkan kemerdekaan, tidak hanya wilayahnya sendiri, tetapi juga seluruh wilayah nusantara?

Sebagian orang spontan mengatakan tradisi merantau, yang berlantai pada falsafah alam takambang jadi guru, merupakan kewajiban seseorang lelaki yang telah dewasa dikarenakan ia diposisikan tidak berhak terhadap harta keluarga. Asumsi ini pun keliru karena gagal membedakan antara harta pusaka (harato pusako) dengan harta pencahariaan (harato pancahariaan) yang diperoleh orangtua tanpa melibatkan harta pusaka.

Sebagian lain mengatakan para bapak bangsa merantau karena mengikuti tradisi, sementara tradisi umum yang berlaku ialah orang Minang merantau karena motif ekonomi. Padahal, bila kita baca secara seksama kisah hidup bapak bangsa dari Minang, sebagian besar dari mereka memilih merantau karena “haus” dan “lapar” akan ilmu pengetahuan dan sangat sedikit di antara mereka yang dapat hidup layak dan memadai pada masanya. Bahkan, seorang Wakil Presiden seperti Hatta pun hidup dengan sangat bersahaja dan sederhana.

Tan Malaka merantau ke Harleem untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah guru di Belanda. Hatta merantau ke Rotterdam untuk studi ekonomi. Sjahrir merantau ke Amsterdam untuk studi hukum. Agus Salim pergi ke Jeddah untuk berguru pada pamannya sembari bekerja. Tepat di sini, terjadi semacam pergeseran yang signifikan, di mana anak muda Minang kekinian lebih terdorong merantau karena motif ekonomi maupun sekedar gaya hidup. Padahal, terdapat semacam tiga kebutuhan dasar yang harus dipenuhi seorang pemuda Minang sebelum merantau.

Pertama, ialah pandai mangaji. Mengaji tidak hanya difahami sebagai tahu bagaimana cara membaca, tetapi juga bagaimana cara memahami Al Qur’an. Dengan demikian, diharapkan pemuda Minang dapat menjadikan kitab suci sebagai pegangan hidup di mana saja. Hal ini seiring sejalan dengan pepatah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Kalau pun pemuda Minang tidak dapat mencari penghidupan layak di rantau, ia masih dapat meraih sedikit rezeki melalui proses pendidikan agama.

Kedua, ialah pandai basilek. Di satu sisi, kemampuan bersilat memang merupakan cara untuk menjaga diri dari pelbagai mara bahaya di perjalanan maupun rantau. Di sisi lain, kemampuan bersilat juga dapat mengontrol emosi pemuda serta membiasakan diri kapan harus bersikap defensif maupun agresif dalam pengertian yang seluasnya. Kapan harus menggertak dan kapan harus melobi secara elegan. Bukankah beberapa gerakan dalam silat juga merupakan bagian dari upaya “menggoda” dan “memengaruhi” lawan maupun kompetitor seperti yang dipraktekkan dalam proses lamaran di, misalnya, Betawie?

Ketiga, ialah pandai mamasak. Nenek moyang Minangkabau sangat visioner tidak hanya dalam membangun dan mengembangkan pepatah-petitih yang kemudian membentuk sistem filsafat yang unik dan khas; tetapi juga visioner dalam memberikan asupan gizi dan selera makan yang menggoyangkan lidah walau di daerah perantauan sekalipun. Sebagian besar suku bangsa lain menganggap bahwa masakan Minang mengundang banyak penyakit. Padahal, terdapat bagian tertentu yang tidak dilibatkan sebagai kelengkapan dalam masakan. Misalnya, rendang seharusnya dimasak dengan kacang merah karena yang terakhir ini merupakan penetralisir terhadap potensi kolesterol yang dibawa daging. Anda yang sangat mengedepankan penelitian ilmiah pun dapat mengeceknya dalam penelitian perihal kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pemuda Minang harus menguasai memasak masakan yang dalam keadaan tertentu dapat menjadi lahan bisnis yang menjanjikan seperti yang telah ditunjukkan banyak rumah makan Minang di banyak daerah perantauan.

Ketiga poin di atas semakin jarang kita temukan pada pribadi pemuda Minang yang merantau ke mana pun juga. Sebagian di antaranya merasa cukup rezeki untuk tidak menempa dengan salah satu maupun keseluruhan “prasyarat” di atas. Alih-alih memperbaiki nasib, mereka justru terkadang merantau hanya untuk gengsi. Padahal, alam takambang jadi guru seharusnya tidak hanya menjadi dorongan untuk merantau, akan tetapi juga dijadikan semangat untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu pengetahuan.

Keterbatasan akal dalam batas tertentu serupa dengan keterbatasan ilmu pengetahuan: dapat ditangguhkan karena keterbatasan alat, dapat diselesaikan pada saat yang sama, dan dapat menghasilkan paradigma baru. Bedanya, akal memiliki potensi untuk tak terbatas selama ia menyadari keterbatasannya, yang dapat berupa ruang dan waktu tertentu. Misalnya, pada abad ke-15 akal manusia belum dapat memahami dan mengerti bagaimana caranya manusia dapat sampai ke bulan, tetapi kini akal manusia dapat memahami dan mengerti. Pun demikian, pada waktu yang sama di tempat yang berbeda, terdapat perbedaan daya jelajah akal manusia yang hidup sebagai suku di perdalaman tertentu, akan jauh berbeda dengan akal manusia yang menempuh jenjang studi doktoral di universitas.

Akal Minang sepatutnya “haus” dan “lapar” akan ilmu pengetahuan sehingga mendorong individu untuk merantau. Alam yang  terkembang merupakan laboratorium kehidupan yang sangat memadai untuk pembangunan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang seiring-sejalan dengan kearifan seseorang. Dengan demikian, akal Minang menjadi menang bukan karena menumpuk uang dan kekuasaan formal, akan tetapi lebih disebabkan kaya akan ilmu pengetahuan yang merupakan harta satu-satunya yang tidak akan pernah habis bila dibagi tetapi justru semakin bertambah; serta kearifan yang membantu kita semakin berisi dan semakin merunduk. Hal inilah yang mendorong bapak bangsa dari Minangkabau untuk turut serta secara aktif memperjuangkan kemerdekaan tidak hanya bagi Minangkabau tetapi seluruh nusantara dan hasilnya diwariskan kepada kita semua.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

One Comments

  • joe

    Orang minang sudah kehabisan akal. Contohnya masakan padang hanya itu keitu saja, tidak menciptakan varian menu baru. Sayur hanya nangka gulai singkong.. ga robah robah dari dulu kala.. sementara masakan lain sudah kreatif ciptakan menu baru..

Leave a Reply