Baik Buruk Tuhan

May 2, 2011

Qusthan Abqary

Salah satu pertanyaan klasik dalam filsafat ialah apabila Tuhan memiliki sifat Maha Baik, maka mengapa terdapat kejahatan atau keburukan di muka bumi? Pertanyaan tersebut dapat digolongkan ke dalam kajian etika, akan tetapi usaha dalam meresponnya tentu tidak harus terbatas pada cabang filsafat tertentu. Keterangan dari agama maupun ilmu pengetahuan, misalnya, dapat membantu manusia untuk merespon persoalan tersebut.

Salah satu agama Ibrahim mengajarkan “Whatever of good reaches you, is from God, but whatever of evil befalls you, is from yourself. And We have sent you as a Messenger to mankind, and God is Sufficient as a Witness.” Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Tuhan ialah sumber dari kebaikan dan kita tahu bahwa belum ada kesepakatan final mengenai penciptaan alam semesta dan campur tangan Tuhan.

Profesor Stephen Hawking pun mengoreksi pandangan sebelumnya mengenai keterlibatan Tuhan dalam penciptaan alam semesta sehingga dalam The Grand Design ia menyatakan:

Because gravity shapes space and time, it allows space-time to be locally stable but globally unstable. On the scale of the entire universe, the positive energy of the matter can be balanced by the negative gravitational energy, and so there is no restriction on the creation of whole universes. Because there is a law like gravity, the universe can and will create itself from nothing in the manner described in Chapter 6. Spontaneous creation is the reason there is something rather than nothing, why the universe exists, why we exist. It is not necessary to invoke God to light the blue touch paper and set the universe going” (ebook version, p. 69).

Di satu sisi, apabila ruang-waktu secara lokal bersifat stabil, dalam batas tertentu dapat diterima bahwa fenomena sosial membutuhkan penjelasan yang jauh berbeda dengan fenomena alam semesta yang tak stabil. Di sisi lain, keterbatasan alat yang dimiliki manusia untuk menjelajah alam semesta dan ditambahkan dengan minimnya potensi ceteris paribus (situasi dan kondisi tetap) di seluruh alam semesta akan memperkuat munculnya pendapat bahwa spekulasi tersebut keliru.

Hawking memang tidak menyangkal secara terang-terangan keterlibatan Tuhan terhadap penciptaan alam semesta, tetapi mengedepankan bahwa gravitasi dianggap cukup untuk mematangkan situasi bagi kreasi alam semesta dari ketiadaan (creatio ex nihilo); bagi penulis merupakan sebuah pertunjukan bahwa fisikawan maupun astrofisikawan sedang menunjukkan ketidakmampuannya dalam menyadari keterbatasan keilmuannya.

Selain itu, semata menyandarkan investigasi penciptaan alam semesta pada fisika maupun astrofisika yang memiliki keterbatasan; tentu mengerdilkan peran bentuk pengetahuan lain yang diperoleh dari agama. Bukankah, ilmu pengetahuan akan menjadi tak terbatas apabila dalam proses pembangunan dan pengembangannya (termasuk penelitian) senantiasa diiringi dengan kesadaran bahwa dirinya memiliki keterbatasan?

Bukankah, sejarah ilmu pengetahuan yang telah dideskripsikan Kuhn menunjukkan bahwa krisis ilmu pengetahuan akan berakhir dengan tiga cara: (1) normal science dapat menyelesaikan masalah; (2) saintis menunda penyelesaian masalah kemudian diwariskan ke masa depan dengan alat yang memadai; (3) munculnya paradigma baru? Dengan demikian, ilmu pengetahuan semata, khususnya fisika maupun astrofisika, kiranya terlalu kerdil bila digunakan untuk “meraba” penciptaan alam semesta, sementara alam semesta terlalu besar bagi fisika maupun astrofisika. Namun, bukan berarti usahanya tidak bermakna.

Apabila kita bermufakat pada pendapat yang mengatakan bahwa Tuhan hanya menciptakan hukum alam dan yang terakhir ini bekerja dengan sendirinya, maka boleh jadi sejalan dengan apa yang disebut Hawking sebagai M-Theory:

We will describe how M-theory may offer answers to the question of creation. According to M-theory, ours is not the only universe. Instead, M-theory predicts that a great many universes were created out of nothing. Their creation does not require the intervention of some supernatural being or god. Rather, these multiple universes arise naturally from physical law. They are a prediction of science” (p. 11).

Sebagai sebuah prediksi mengenai salah satu alam semesta, sumbangsih Hawking tentu perlu diapresiasi secara positif. Uniknya, M-Theory belum digunakan Hawking sebagai “payung” teori untuk menunjukkan bagaimana keburukan maupun kebaikan muncul pada salah satu alam semesta tersebut, yaitu di mana manusia hidup, bertempat tinggal, dan membangun peradaban. Padahal, persoalan baik-buruk kerapkali dikaitkan dengan Tuhan (yang diterima sebagian orang sebagai pencipta alam semesta) dan tidak jarang usaha ini menunjukkan logical leap yang dibungkus dengan pertanyaan retoris yang mengejutkan. Namun, manusia memiliki beberapa modal seperti akal, pikiran, nurani, serta insting yang dapat digunakan untuk memikirkan penciptanya. Dengan beberapa modal tersebut, manusia pun dapat menyadari, memikirkan, mengelola, dan mengolah kebebasan yang dimilikinya.

Semakin gencar usaha sebagian saintis, sebagian filosof, dan sebagian atheis menyangkal eksistensi Tuhan; semakin kuat keber-Ada-an Tuhan dalam akal, pikiran, dan nurani manusia karena manusia tetap dapat membayangkan dan memikirkan penciptanya—bahkan para atheis dan anti-theis sekalipun. Sejarah agama ialah sejarah monotheisme dan siapapun yang mengatakan bahwa agama nenek moyang kita ialah polytheisme dan dinamisme agaknya “miopi” sejarah bahwa Ibrahim hidup jauh lebih dahulu ketimbang dewa-dewa bersemayam dalam pikiran manusia.

Baik-buruk Tuhan tidak bergantung pada justifikasi maupun falsifikasi ilmu pengetahuan, khususnya fisika maupun astrofisika. Namun, mengapa fisikawan dan astrofisikawan gemar melakukan justifikasi maupun falsifikasi eksistensi dan keber-Ada-an Tuhan atas nama kebenaran ilmiah? Bukankah, kebenaran ilmiah hanya salah satu jenis kebenaran yang temporer? Apakah kebenaran ilmiah bagian dari kebaikan atau keburukan? Yang terakhir ini tentu diskusi yang berbeda. Beberapa modal dan kebebasan manusia tersebut lebih memungkinkan bagi munculnya keburukan ketimbang sekedar menunjukkan logical leap.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply