Belajar atau Menghafal?

May 2, 2011

Qusthan Abqary

Tayangan Kick Andy edisi “Mencari Jalan Menggapai Harapan” pada Jum’at 18 Februari 2011 menampilkan beberapa guru inspiratif nan kreatif dalam proses pengajaran di jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah umum. Dua orang guru (pasangan suami istri dari Jombang) menekankan pada aspek menghafal yang kemudian dikombinasikan dengan aspek visual murid. Dengan demikian, mereka meyakinkan pemirsa bahwa tidak ada metode lama yang tergantikan sama sekali. Guru senior pun tidak akan keluar dari zona “nyaman” atas cara mereka mengajar selama ini disebabkan hanya penambahan berupa aspek visual dalam menghafal. Sekilas, tindak menghafal tersebut nampak tiada bermasalah. Namun, tindak menghafal justru hanya membatasi keluasan hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri.

Proses menghafal yang dilakukan siswa mengandaikan bahwa ilmu pengetahuan hanya sebagai produk yang bersifat tetap. Ilmu pengetahuan diterima sebagai barang jadi yang “harus” selalu diingat siswa. Padahal, perjuangan yang paling berat ialah melawan lupa (Milan Kundera). Sementara sifat lupa merupakan anugerah guna membantu manusia untuk tetap waras dalam menghadapi silang sengkarut berbagai permasalahan. Walau daya ingat manusia boleh jadi tidak sama dengan ingatan kecerdasan buatan yang bila semakin diisi semakin bertambah volumenya dan semakin sedikit ruang kosong yang tersisa; bukan tidak mungkin potensi seseorang menjadi gila semakin besar karena ketidakmampuan untuk memilih dan memilah apa dan mana yang harus diingat.

Di sinilah pentingnya pengetahuan ekstrasomatik yang berhasil dibangun dan dikembangkan manusia. Buku dan perpustakaan ialah dua wujud nyata bagaimana manusia mengolah pengetahuannya sehingga menjadi “abadi” dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Perkembangan internet merupakan sumbangsih tersendiri bagi pengetahuan ekstrasomatik walau terlalu banyak informasi yang perlu dikelola dan diolah menjadi pengetahuan untuk kemudian menjadi pengetahuan ilmiah.

Mereka yang mendukung teknik menghafal tertentu akan mendasarkan argumentasi salah satunya pada aspek pembelajaran matematika dasar kepada siswa di jenjang sekolah dasar. Sebagian (besar) guru merasa perlu untuk mewajibkan siswa menghafal penjumlahan, pengurangan, perkalian, serta pembagian. Padahal, instruksi menghafal itu tidak lepas dari ketidakmampuan guru dalam menjelaskan matematika melalui bahasa. Saya memandang bahwa matematika yang sangat simbolik pun mengandung aspek kebahasaan yang bila dikelola dan diolah sekreatif mungkin akan semakin memudahkan siswa untuk membayangkan dan kemudian memikirkan operasional penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, akar, pangkat, dan lain sebagainya.

Misalnya, saya pun yang sempat mengenyam pendidikan pada masa Orde Baru baru belakangan memahami mengapa satu dibagi dengan nol sama dengan tak terhingga ( 1 : 0 = ∞ ). Setelah memelajari dan filosofi sains, saya baru mengetahui bahwa angka memiliki kaitan relijius dengan agama. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Yang-Esa (baca: satu) bila dibagi dengan yang-tiada (baca: nol) sama dengan tak terhingga.

Kemahakuasaan (Omnipotence) dari Yang-Esa boleh jadi berkait erat dengan ke-tak-terhingga-annya: Dia menjadi Maha Kuasa dan tak-terhingga karena adanya yang-tiada (baca: nol). Namun, pembahasaan seperti ini tentu tidak mungkin disampaikan kepada siswa SD, akan tetapi guru SD perlu utnuk mengetahuinya agar mereka sendiri tidak terjebak pada hafalan. Toch, guru SD juga merupakan warga negara Indonesia yang mengakui sila pertama dari dasar negara dan sepatutnya menjadi pribadi yang relijius sehingga mereka memiliki model pengetahuan yang lebih memadai untuk menjelaskan matematika.

Basis yang lebih mendasar dari ilmu pengetahuan bukan sekedar matematika tetapi bahasa, khususnya bila kita mufakat bahwa tidak ada realitas di luar bahasa (Wittgensteinian). Bahkan, matematika pun mengandung proposisi dalam bahasa serta membutuhkan bahasa dalam pengembangan disiplinnya.

Namun, bahasa kerap menemui keterbatasan bila akal (baca: otak yang bekerja, dikelola, dan diolah) kesulitan mengeksplisitkan apa yang dikerjakannya guna menjadi pengetahuan ektrasomatik. Kerja akal akan semakin terbantu dengan bantuan bahasa. Oleh karena itu, menjadi menarik untuk mencermati model pembelajaran fisika yang diterapkan seorang guru SMA pada tayangan Kick Andy tersebut. Guru itu membebaskan para siswa untuk menulis laporan fisika dengan gaya menulis novel dan para siswa pun merasa senang dan menikmati inovasi yang sedemikian rupa.

Dengan demikian, tidak hanya otak kiri dan kanan yang diaktifkan secara bersamaan ketika belajar fisika, tetapi juga kebebasan siswa sebagai pembelajar fisika yang boleh jadi di kemudian hari menjadi fisikawan diasah sedini mungkin. Bukankah, sebagian (bila tidak sebagian besar) ilmuwan (termasuk fisikawan) di negara manapun—khususnya Indonesia—kerapkali terkungkung oleh paradigma yang sedang berlaku dalam situasi—meminjam istilah Kuhn—normal science? Cukup sering ditemukan bahwa invention dan discovery dalam fisika diabaikan begitu saja karena tidak atau belum diakui oleh institusi atau komunitas fisikawan tertentu di Barat. Padahal, kebebasan pembelajar fisika dan fisikawan merupakan faktor yang cukup penting guna mengembangkan disiplin ini.

Selain itu, ketika siswa diberikan kebebasan untuk menulis laporan fisika dengan gaya menulis novel, maka di saat yang bersamaan para siswa sedang melekatkan imajinya pada alat dalam praktikum atau praktikum itu sendiri. Pelekatan imaji tersebut berhubungan dengan preskripsi pembelajar fisika terhadap alat atau praktikum yang baru saja dilakukannya.

Aspek preskripsi ini yang jarang kita temukan tidak hanya dalam fisika tetapi juga dalam ilmu pengetahuan yang lain. Rekayasa genetika dalam biologi tentu berkaitan dengan aspek preskriptif dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Hawking pun dalam buku teranyarnya menentukan bahwa keterlibatan Tuhan dalam penciptaan alam semesta tidaklah penting karena hukum gravitasi dan teori M yang menggunakan model dependant realism memungkinkan pendapat ini yang berseberangan dengan pendapat Hawking pada tahun 1989.

Pada akhirnya, tindak menghafal dalam proses pembelajaran menjadi semakin kurang bermakna karena dua mata pelajaran (matematika dan fisika) yang seringkali dijadikan alibi untuk menjustifikasi tindak menghafal; lebih membutuhkan aspek kebahasaan dan pemahaman secara preskriptif (tidak melulu deskriptif) seperti yang telah ditunjukkan di atas. Dengan demikian, aspek menghafal memang membantu siswa untuk mendapatkan skor yang bagus, tetapi tidak menjamin siswa memahami dan mengerti apa yang dipelajarinya selama puluhan tahun.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

One Comments

  • irfan

    contohny di sekolah siswa2 hafal betul rumus pythagoras namun kebanyakan tak tahu datangnya rumus itu. padahal sampai sekarang tercatatan ada 300 lebih pembuktiannya.

Leave a Reply