Dari Persepsi ke Kawin Silang Kebudayaan: Sebuah kata pengantar

May 10, 2011

Setiap cerita pendek mengandung realitas yang mendua. Di satu sisi, realitas dalam cerpen cenderung mengedepankan imajinasi penulis, sementara di sisi lain justru menjadi cermin bagi kesehariaan kemanusiaan. Dalam kemenduaannya, cerpen tak hanya menjadi tolok ukur bagi kebudayaan sebuah masyarakat, tetapi juga dapat turut mewarnai serta memengaruhi akal sehat setiap pembaca. Jalinan huruf, rangkaian kata, dan gerbong kalimat yang berderet panjang menjadi semacam impulses yang kemudian dikelola dan diolah sistem saraf manusia untuk diteruskan ke otak. Otak yang bekerja merupakan akal pikiran manusia yang mengelola dan mengolah informasi yang diterima untuk menghasilkan pengetahuan dan persepsi si pembaca.

Namun, perkembangan terbaru dalam ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa apa yang dilihat manusia (baca: sight) tak cukup dominan untuk memengaruhi persepsi bila dibandingkan dengan apa yang disentuh (baca: touch) dan apa yang didengar (sound). Penelitian mengenai persepsi manusia tersebut secara tidak langsung berkaitan dengan surat seseorang kepada John Locke kurang-lebih 323 tahun lalu yang mengemukakan pertanyaan: apakah seorang yang terlahir dan dibesarkan sebagai tuna netra dan kemudian mendapat mukjizat sembuh dari kebutaan, dapat menentukan bentuk sebuah benda hanya dengan melihat pertama kali tanpa menyentuhnya? Mukjizat pada masa John Locke dapat “diganti” pada masa kini dengan operasi kedokteran yang dilakukan kepada empat remaja putra dan satu remaja putri India berusia 17 tahun yang terlahir sebagai tuna netra.[i]

Kelima remaja tersebut dihadapkan pada objek seperti blok bangunan Lego dan relatif berhasil membedakan bentuk-bentuk yang serupa. Namun, ketika dihadapkan pada bentuk yang lebih berlainan, seperti cangkir dan vas bunga, mereka justru tidak dapat menentukan perbedaan bentuk yang cukup mencolok di antara keduanya secara tepat untuk kali pertama. Hal ini memberikan semacam pencerahan bagi salah satu perdebatan klasik antara kaum empirisis yang percaya bahwa manusia terlahir dalam keadaan seperti papan tulis yang bersih; dengan kaum nativis yang percaya bahwa pikiran manusia memiliki semacam ide-ide yang telah tersimpan yang kemudian menunggu diaktivasi oleh penglihatan, suara, dan sentuhan.

Namun, penelitian di atas agaknya khilaf untuk menyadari bahwa kondisi seseorang pasca-tuna netra jauh berbeda dengan kondisi bayi yang baru lahir yang tidak begitu jelas apakah seperti papan tulis bersih atau mengandung ide dasar yang menunggu diaktivasi. Individu post-tuna netra memiliki akumulasi informasi, pengetahuan, pengetahuan ilmiah, dan bahkan kebudayaan tertentu yang tidak dimiliki bayi yang baru lahir ke dunia. Individu post-tuna netra boleh jadi pernah membaca cerpen melalui huruf braile atau sekurangnya didengarkan pembacaan cerpen yang tentunya agak berbeda dengan bayi yang barangkali hanya didengarkan musik klasik ketika dalam kandungan. Kalaupun ibu sang bayi turut membacakan cerpen ketika mengandung, maka persepsi yang diterima bayi dalam kandungan akan berbeda dengan persepsi orang yang masih mengalami tuna netra. Persepsi tersebut dalam perjalanannya dapat diolah menjadi pengetahuan yang akan turut menentukan sikap seseorang terhadap realitas di luar dirinya. Ketika sikap seseorang terhadap realitas di luar dirinya turut memengaruhi dan membentuk kebudayaan umum, maka persepsi orang tersebut memiliki peran tertentu bagi proses dialektis antara subjek dengan kebudayaannya. Bukankah, semakin beragam persepsi seseorang akan sebuah permasalahan, maka semakin besar potensi orang tersebut untuk memberikan respon secara arif? Tepat di sinilah pentingnya posisi persepsi individu dalam lanskap kebudayaan sebuah masyarakat sehingga proses diversifikasi antara sight, sound, and touch guna memengaruhi persepsi individu menjadi semakin penting untuk diintensifkan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, diversifikasi antara sight, sound, and touch dapat disebut sebagai kawin silang produk kebudayaan.

Kawin silang produk kebudayaan yang terjadi pada kegiatan seperti musikalisasi puisi, misalnya, telah terbukti dapat memperkuat persepsi audiens terhadap produk kebudayaan tertentu. Apabila dalam musikalisasi puisi yang terjadi ialah mengolah teks yang dibaca dengan iringan dan alunan musik tertentu (sight + sound), maka puisikalisasi musik (sound + sight) sangat jarang dilakukan para pekerja musik. Barangkali hanya Bimbo yang membuat lagu terlebih dahulu guna diperdengarkan kepada Taufiq Ismail untuk dibuatkan lirik lagu yang berbasis pada puisi. Mengapa puisikalisasi musik gencar dilakukan oleh pekerja kebudayaan yang mengedepankan religiositas dan digemari sebagian besar anggota masyarakat? Pertanyaan ini tentu membutuhkan ruang tersendiri, tetapi lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa kerja kebudayaan yang melibatkan religi merupakan lahan garapan subur yang relatif kurang diminati atau hanya digeluti oleh kelompok keagamaan tertentu.

Realitas keislaman merupakan ruang besar yang masih memiliki banyak sphere untuk diisi oleh setiap muslim dan muslimah. Adalah sebuah kekeliruan besar apabila produk kebudayaan keislaman hanya diidentikkan dengan produk kebudayaan di sekitar Timur Tengah dan Mediterania. “Kebudayaan Islam adalah proses interaksi antara ajaran keagamaan dengan kebiasaan masyarakat tertentu. Boleh jadi, tidak ada kebudayaan Islam yang tunggal, layaknya tidak ada kebudayaan Indonesia yang singular. Namun, bukan berarti bahwa kebudayaan Islam hanya merupakan puncak-puncak dari kebudayaan negara-bangsa tertentu yang diinspirasi oleh ajaran keagamaan, karena eksistensi kebudayaan Islam maupun kebudayaan Indonesia, tidak dapat dipungkiri, mewujud dalam kesehariaan kita.”[ii] Kebesaran sphere yang dimiliki realitas keislaman, khususnya dalam hal cerpen, juga dapat dijadikan medium kritik bagi diskursus tertentu seperti pluralisme, multikulturalisme, atau bahkan perbandingan antar-agama[iii] walaupun sebagian orang akan terburu-buru menyebutnya sebagai quasi-cerpen.

Antologi cerpen keislaman Tikus di Sayap-sayapku yang anda baca saat ini merupakan publikasi dari sayembara cerpen keislaman yang pada awalnya diselenggarakan oleh Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI [MPO]) antara Januari hingga April 2010. Dalam perjalanannya, PB HMI (MPO) merasa perlu untuk membentuk institusi yang diharapkan dapat mewadahi aspirasi dan potensi kader untuk berkarya di lapangan kebudayaan. Oleh karena itu, melalui Pleno II PB HMI (MPO) di Palu, dibentuk Lembaga Seni & Budaya (LSB) yang kemudian ditetapkan melalui Surat Keputusan Nomor 054/A/KPTS/03/1431 tentang Pengesahan Susunan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Hasil Reshuffle Periode 1430-1432 H/2009-2011 M di Jakarta pada tanggal 22 Rabiul Awwal 1431 H/15 Maret 2010. Dengan demikian, LSB melanjutkan kepanitiaan sayembara cerpen keislaman yang sebelumnya telah digagas oleh PB HMI (MPO).

Ide dasar sayembara dan penerbitan antologi cerita pendek (cerpen) keislaman adalah merangsang, membangun, dan mengembangkan sastra keislaman di tengah genre sastra lainnya yang tidak jarang melulu mengusung tema – meminjam istilah Taufiq Ismail – sastra “selangkangan/berlendir.” Di satu sisi, sastra keislaman dipahami sebagai model kesusasteraan yang tidak hanya menggali; tetapi juga mendiskusikan; berbagai hal yang terkait dengan Islam. Cerpen dipilih sebagai format yang paling tepat untuk mendiskusikan berbagai hal dalam koridor keislaman ketimbang bentuk karya sastra lainnya. Di sisi lain, pesimisme sebagian sastrawan terhadap eksistensi sastra keislaman – mengingat hal tersebut selalu berkait dengan khazanah budaya lokal – perlu untuk dijawab dengan cara melakukan penerbitan secara berkala mengenai model sastra keislaman.

Sayembara tersebut tidak hanya diikuti oleh kader HMI tetapi juga mahasiswa Islam secara umum yang tersebar dari Aceh, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Makassar, Malang, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, Sumbawa, hingga Tual. Ketersebaran wilayah dari para peserta sayembara cerpen keislaman menunjukkan bahwa minat publik terhadap sastra keislaman cukup luas. Proses seleksi dan penjurian menempuh waktu yang cukup lama mengingat banyaknya cerpen yang masuk yang kemudian dipilih menjadi sembilan cerpen oleh Kanda Tulus Widjanarko, pegiat sastra sekaligus wartawan senior. Penundaan proses penerbitan berkait erat dengan sulitnya penggalangan sponsorship kepada pihak swasta maupun pemerintah untuk mencetak dan mendistribusikan buku dalam skala besar. Pada akhirnya, model penerbitan dengan print on demand (POD) memungkinkan publikasi antologi ini walaupun berlangsung dalam skala terbatas.

Penghargaan yang mendalam harus disampaikan kepada para peserta dan pemenang sayembara, Kanda Tulus Widjanarko selaku juri, Ketua Umum PB HMI (MPO) M Chozin Amirullah selaku penanggungjawab, dan Anggun Gunawan selaku pimpinan GRE Publishing. Apabila antologi cerpen keislaman ini dapat meninggalkan kesan bahwa khazanah sastra keislaman merupakan lahan garapan yang harus diisi oleh siapa saja, maka buku ini telah mencapai tujuan awalnya.

Bacalah dengan nama Tuhanmu dan tambahkan ilmumu.

Bogor, 14 Jumadil Awwal 1432 H/ 17 April 2011

Qusthan Abqary

Direktur Lembaga Seni dan Budaya

Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (MPO)


[i] Lihat Marlowe Hood, “Centuries-old debate on perception settled,” Agence France-Presse, Monday, April, 11, 2011, http://www.cosmosmagazine.com/node/4215/full; last access April 15, 2011

[ii] Lihat Manifesto Kebudayaan HMI pada http://pbhmi.net/images/stories/manifesto-kebudayaan-hmi.pdf.

[iii] Contoh yang cukup menarik mengenai hal ini ialah cerpen Artema yang berusaha menunjukkan bahwa kadar kebenaran sebuah agama juga dapat diukur dari realitas historis kebahasaan.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply