Ibu yang Dungu

October 13, 2011

Qusthan Abqary

Kawan yang terpelajar,

Ini bukan surat tentang puja-puji, tetapi tentang caci maki untuk pribadi yang diperlakukan terlampau suci.

Engkau akan menggugat bila kukatakan sebagian besar ibu pada masa ini semakin dungu dan di kemudian hari lebih dungu. Ya dungu. D…U…N…G…U, dungu.

Begitu mudahnya mereka tenggelam pada arus negatif globalisasi, modernisasi, dan –si –si lainnya kecuali Susi similikiti.

Sinetron barangkali pemegang saham terbesar kedunguan seorang ibu, sehingga begitu mudahnya mereka heran mengapa anak kecil lintas zaman semakin lama justru semakin melampaui batas kewajaran ala ibunya ketika kecil.

Tapi, para ibu merasa cukup dengan bingung. Bingung seperti resep gosip yang digosok makin sip. Khususnya, guna mengisi waktu luang menanti anak atau suami pulang. Padahal, ibu yang waras hampir tak punya waktu luang kecuali tidur.

Tidur pun kerapkali diinterupsi oleh suami. Tak perlu ke situlah, supaya tidak dituduh sebagai surat berlendir yang makin pandir. Tidur pun seringkali diinterupsi bayi.

Bayi, begitulah ibu menganggapnya anaknya sedari kecil hingga menjadi profesor, doktor, pebisnis, tukang beling, gembel, supir, garong, dan lain sebagainya. Salah satu wujud kedunguan yang menahun. Bukankah itu sikap yang berlebihan? Bukankah Tuhan membenci pribadi yang berlebihan?

Ya, Tuhan membenci pribadi yang berlebihan tapi mencintai pribadi yang kekurangan. Entah kurang uang, entah kurang bahagia, bahkan Tuhan pun tak membenci pribadi yang kurang iman, khususnya apabila ia berilmu.

Alih-alih beriman, para ibu justru berlebihan dengan rasa percaya yang lebih besar pada tetangga ketimbang anak atau suami. Apa kata tetangga, diperlakukan sebagai aksioma. Apa kata anak dan suami, diragukan dengan tanya.

Bahkan, apa kata ular dilakukan dengan yakin. Muliakah ibu yang membuat suami dan dirinya terlempar ke dunia? Yang membuat anak cucunya bertarung dengan setan hingga akhir zaman?

Boleh jadi, setan pula yang membangun dan mengembangkan pendapat klise bahwa ibu tak pernah salah, tak pernah dungu, dan tak pernah keliru. Semacam konspirasi, bagi kamu yang menyukainya. Atau semacam pencitraan gaya baru dengan logika terbalik dizalimi, utamanya bagi kamu yang gandrung presiden “ganteng” tapi cengeng.

Para pemuja ibu yang fasis, yang menganggap ibunya masing-masing perkasa, kerapkali terjebak pada pendapat dangkal bahwa: walau ibunya tak sekolah secara formal, ibunya ahli kearifan dan kebijaksanaan. Walau anaknya tak bernama ‘Arif,’ tak pula ‘Bijaksana.’

Kawan yang terpelajar,

Para anak yang fasis menutup mata seperti babi yang buta bahwa kearifan dan kebijaksanaan membutuhkan ilmu. Adapun ilmu yang sekedar diwariskan, tanpa pengelolaan, pengolahan, dan pengembangan tidak jauh berbeda dengan besi tua yang semakin lama semakin berkarat.

Padahal, hanya sedikit manusia yang dicatat dalam sejarah dapat mendekati dua sifat Tuhan, perkasa dan bijaksana sekaligus. Sebab, orang menjadi perkasa bila berkuasa, orang menjadi bijaksana ketika papa. Dari yang sedikit itu, justru sebagian besar lelaki yang menjadi raja, bukan perempuan yang menjadi ratu.

Kawan yang terpelajar,

Aku yakin engkau tahu mengenai tanda akhir zaman. Tapi, pernahkah engkau secara serius membacanya? Pernahkah engkau secara serius memikirkannya?

Mengapa salah satu tandanya ialah jumlah perempuan yang jauh melampaui jumlah lelaki? Bukankah kodrat perempuan sama dengan kodrat ibu?

Kaum Aristotelian tentu akan bilang bahwa tak ada kodrat yang dapat diraih hanya melalui pembiasaan atau tradisi, tetapi kodrat ibu sejati memberi kapasitas kepada kaum perempuan untuk memerolehnya, sementara pemenuhannya dicapai melalui pembiasaan.

Dengan cara yang sama, aku pun bisa menyanggahnya. Pemenuhan kodrat melalui pembiasaan hanya menunjang satu dari dua jenis kebajikan Aristotelian, yaitu kebajikan karakter (ēthos).

Ada kebajikan lain yang membantu pencapaian kebajikan karakter. Dialah yang dihindari sebagian besar, sekali lagi sebagian besar, kaum ibu dan justru dihasrati sebagian (hanya sebagian) kaum lelaki. Kebajikan intelektual, begitu Aristoteles menyebutnya.

Olehnya, perempuan yang kurang serius mengejar kebajikan intelektual akan tergelincir menjadi ibu yang dungu. Kebajikan intelektual diraih dari latihan akal melalui membaca, seperti perintah pertama Tuhan pada rasul yang buta huruf dan tak sekolah. Membaca ialah janji Tuhan sekaligus harapan pada pribadi yang papa.

Kawan yang terpelajar,

Engkau boleh saja menolak mentah uraianku di atas. Namun, sejarah menunjukkan bahwa sebagian besar pemikiran Aristoteles masih mendominasi gerakan investigasi terhadap apa yang ada dan mungkin ada.

Maka bacalah, pikirkanlah, dan mintalah supaya ditambahkan ilmumu. Agar para ibu tidak semakin dungu dan para anak tidak semakin congkak.

Tuhan tentunya maha tahu bahwa semakin banyak jumlah perempuan, semakin besar potensi kehancuran peradaban bangsa, khususnya bila perempuan semakin malas membaca dan berpikir.

Lebih memilih untuk mendengarkan khutbah para pendakwah yang picik, licik, dan munafik. Atau cenderung memilih hikmat pada pendakwah wanita demi ilusi solidaritas gender.

Lebih memilih untuk memberi susu sapi atau susu pabrik ketimbang susu ibu tanpa menyadari semakin besar potensi idapan penyakit seputar payudara.

Lebih memilih untuk takluk pada zaman ketimbang suami. Zaman yang memaksa ibu untuk menjadi babu. Tak peduli babu di kantor maupun di Saudi.

Pilihan apalagi yang membuatnya semakin dungu? Padahal pandu keluhuran telah di depan mata.

Kawan,

Aku sengaja menyebutmu sebagai “yang terpelajar” ketimbang “yang terhormat,” sebab semakin sedikit orang yang terhormat di sekelilingku, padahal semakin banyak orang yang terpelajar di sekitarku.

Bila aku dinyatakan sebagai durhaka, maka aku bahagia, sebab aku telah mengabadikannya sebagai warisan bagi generasi ibu masa depan agar mereka tidak lebih dungu.

Hanya karena aku yakin bahwa dirimu pribadi yang terpelajar, maka aku memberanikan diri menulis surat ini. Maka, berikanlah responmu yang terpelajar, tidak seperti diriku yang mencaci maki, sebab aku yakin dirimu lebih terpelajar ketimbang diriku.

Kutunggu.

***

Jagakarsa, 8 Juni 2011

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

3 Comments

Leave a Reply