Toleransi dan Mangunwijaya

November 3, 2011

Qusthan Abqary

Tidak banyak orang Indonesia yang mengetahui dan merayakan Hari Kerohaniaan pada 3 November 2011. Rohani yang mulia tentunya toleran, walau kegagahan toleransi kerapkali dikerdilkan.

Almarhum Romo Mangunwijaya pernah bertanya kepada para pemuka agama dalam sebuah jamuan makan malam. Mangunwijaya mengatakan – kurang lebih – bila kalian percaya pada toleransi antar-umat beragama, maka di mana posisi Muhammad dalam peta keselamatan kalian?! Pertanyaan retoris itu mendua.

Pertama, toleransi antar-umat beragama tidak mungkin diwujudkan seutuhnya sebab ketiadaan pengakuan terhadap eksistensi pembawa ajaran agama lain yang datang sebelum maupun sesudahnya, khususnya dalam tata keselataman kebanyakan agama. Kedua, Islam – sebagai agama samawi ketiga yang melengkapi, bila tidak mengoreksi penyimpangan ajaran dua agama samawi sebelumnya – mengakui posisi Yesus/Isa dan Ibrahim sebagai rasul Tuhan, tetapi tidak demikian sebaliknya, sebab pembawa ajaran langit terakhir – yaitu Muhammad SAW – tidak lahir dari garis keturunan Ishak tetapi dari garis keturunan Ismail yang tidak diakui eksistensinya sebab ibunya merupakan istri kedua Ibrahim dari Afrika. Poin kedua ini tentu tidak akan disepakati Mangunwijaya.

Ibrahim diizinkan Siti Sarah untuk menikah dengan Siti Hajar yang berasal dari Afrika setelah perkawinan mereka tak kunjung dikaruniai keturunan. Seandainya para penganut agama Yahudi dan Nasrani toleran dengan eksistensi Siti Hajar, Ismail, dan fakta sejarah bahwa rasul akhir zaman lahir sebagai bangsa Arab; maka diskursus dan praktek toleransi dalam kesehariaan hidup menjadi menarik. Sungguh ironis apabila isu toleransi hanya dikemukakan ketika terjadi hegemoni mayoritas. Di sisi lain, tirani minoritas juga menjadi ancaman yang serius bagi praktek toleransi.

Denotasi minoritas-mayoritas tidak dibatasi pada konteks Indonesia (umat Islam merupakan mayoritas) maupun konteks global (umat Islam menjadi minoritas). Selain itu, isu toleransi juga terlalu gagah untuk dijadikan senjata dalam penolakan pendirian Islamic Center (bukan masjid!) di Ground Zero maupun gereja (bukan Christianity Center!) di Bogor. Hanya individu yang licik dan picik yang menggunakan isu toleransi untuk mendirikan rumah ibadah sebab toleransi mengalami kecacatan sejak beberapa pemuka agama tidak dapat menjawab pertanyaan Mangunwijaya.

Namun, kedua poin tersebut menjadi problematik apabila diterapkan dalam kesehariaan hidup. Indonesia sebagai negara-bangsa yang terdiri atas pelbagai umat beragama bisa luluh lantak. Tetapi kita juga tidak ingin hipokrit atau munafik dengan mengatakan bahwa “semua agama sama” atau “semua agama berhulu dan berhilir pada sumber yang sama, yaitu Tuhan Yang Maha Esa” sebab bahasa suci yang digunakan pertama kali untuk mengajarkan masing-masing ajaran agama tidak selamanya digunakan manusia dalam lintasan sejarah, kecuali bahasa Arab yang memang tidak pernah “mati.” Ketika Ibrahim menggunakan bahasa Ibrani Kuno dan yang terakhir ini “mati” atau tidak digunakan selama berabad-abad, maka tingkat kebenaran dan keaslian ajaran Yahudi masuk ke dalam ruang tanda tanya yang sangat besar. Begitu pula halnya ketika Isa/Yesus menggunakan bahasa Aramaic/Syiria Kuno untuk menyebarkan ajaran Nasrani. Selain itu, kitab suci kedua ajaran agama samawi itu ditulis ketika Ibrahim dan Isa/Yesus telah meninggal. Jauh berbeda dengan penulisan Al-Qur’an yang dilakukan ketika Muhammad SAW masih hidup.

Sayangnya, sebagian umat yang proaktif dalam pelbagai forum lintas umat beragama tidak mengakui fakta sejarah itu dan tergelincir pada “relativisasi” kebenaran pelbagai agama. Adalah betul bahwa kita tidak boleh melarang orang lain untuk beribadah, tetapi keliru bila isu toleransi digunakan secara serampangan untuk membenarkan keberadaan forum lintas umat beragama. Sudah saatnya forum itu tidak mengerdilkan kebesaran diskursus toleransi. Yang terakhir ini sepatutnya diposisikan dalam kerangka warga negara dan bukan umat beragama.

Adakah kini pemuka agama yang memiliki jawaban yang jauh dari klise serta meyakinkan bagi pertanyaan Mangunwijaya itu? Sebelum menjawab, jauhkanlah kepicikan dan kelicikan dari kepala kita. Selamat hari kerohaniaan 3 November 2011.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

2 Comments

  • renville

    sebuah pemikiran yang sangat filosofis. kagum dengan Anda. semoga semakin banyak pemikir seperti Anda di bangsa yang sangat kerdil ini… salam. renville rizanul

    • Qusthan Abqary

      Salam,

      Terima kasih Bung Renville Rizanul. Saya masih belajar. Mohon kritik dan saran dari Bung Renville :)

Leave a Reply