Mengapa Umat Islam Indonesia Terbelakang?

November 25, 2011

Qusthan Abqary

Pertanyaan itu sudah sering kita dengar, tetapi jawabannya berbeda-beda dan seringkali tergelincir menjadi maxims. Mulai dari pendapat yang mengatakan kurang berzikir, kurang berdo’a, kurang beramal saleh, kurang zakat mal hingga shalat tidak tepat waktu. Beberapa jawaban yang hampir tidak pernah saya dengar ialah kurang membaca, kurang berpikir, serta kurang serius dalam menuntut ilmu. Dalam kesempatan ringkas ini, saya berusaha untuk mendiskusikan ketiga hal yang terakhir itu.

Kita tahu bahwa perintah pertama Tuhan kepada Muhammad SAW ialah membaca, tetapi kita seringkali mencampuradukkannya dengan mengaji. Yang pertama senantiasa menuntut sang pembaca untuk memikirkan dan merenungkan apa yang dibacanya, sementara yang terakhir – seperti yang dilakukan kebanyakan orang yang mengaku beragama Islam lakukan di Indonesia – hanya menyuarakan ayat Al-Qur’an tanpa memahami dan berusaha mengerti maknanya, tidak hanya dalam Bahasa Indonesia tetapi juga dalam bahasa lain yang mungkin dikuasainya.

Sejak kecil hingga dewasa, sebagian besar orang Islam di Indonesia melakukan aktivitas mengaji tetapi tidak membaca Al-Qur’an. Ketika mengaji, mereka terkadang juga mendengarkan ceramah dari seseorang yang juga tidak jarang tidak menguasai bahasa Arab maupun nahwu sharaf. Para “penceramah” berbicara dalam suara lantang, membuat analogi yang tidak tepat, dan terkadang menyudutkan orang lain baik yang beragama Islam maupun beragama lain. Uniknya, para penceramah itu mendapatkan uang atau bahkan menjadikan dakwah sebagai lapangan penghidupan. Padahal, berceramah merupakan aktivitas berbagi pengetahuan yang seharusnya dilandasi dengan ketulusan dan keikhlasan yang tidak bisa dicampuradukkan dengan uang. Pengetahuan yang disebarluaskan dengan cara demikian akan berakumulasi dan bertambah, sementara yang disebarluaskan dengan pamrih justru dapat berkurang dan menggelincirkan kita pada kepicikan, kelicikan, dan kemunafikan.

Islam sebagai sistem kehidupan yang egaliter sesungguhnya memberikan kemungkinan – bila tidak mewajibkan – bagi umatnya untuk mencari dan mendekati Tuhan secara mandiri dan independen. Tanpa bantuan masjid, mushalla, maupun Islamic centers, individu muslim dapat mendekati Tuhan sehingga ketiga tempat tersebut sejatinya merupakan tempat berbagi pengetahuan secara ikhlas. Bukan tempat bagi proses jual-beli sehingga tempat terbaik (masjid) dan tempat terburuk (pasar) tidak bercampur aduk menjadi satu.

Sayangnya, kebanyakan umat Islam merasa inferior dengan para pemikir Islam di masa lampau maupun masa kini. Padahal, seorang muslim merupakan potensi pemikir Islam di masa depan, apalagi Muhammad SAW tidak membangun hierarki organisasi bagi umat Islam di seluruh dunia. Namun, selalu ada saja golongan yang mengaku keturunan Muhammad SAW walau sebetulnya mereka sejatinya keturunan Fatimah Az-Zahrah, kemudian mereka secara tidak konsisten justru mewariskan garis keturunan itu melalui garis lelaki. Bagaimana pun juga, Tuhan tidak terikat ruang dan waktu sehingga dapat melihat masa depan dan menakdirkan Muhammad SAW tidak punya keturunan dari anak lelaki – yang meninggal terlebih dahulu tanpa sempat memberikan cucu – khususnya bila dipandang dari tradisi Arab yang patriarkis. Konyolnya, golongan “keturunan nabi” itu melanjutkan klaim “darah biru” mereka melalui laki-laki dan bukan perempuan seperti sebelumnya klaim yang dilakukan sebagai keturunan Muhammad SAW dari garis Fatimah.

Di sisi lain, bila Muhammad SAW memiliki anak lelaki yang masih hidup dan terus beranak-pinak hingga hari ini, maka mereka tentu akan semakin “menjual” klaim keturunan itu dan bukan tidak mungkin terjadi konflik dengan para keturunan Fatimah. Cerita miring mengenai perilaku “keturunan nabi” tentu sudah sering kita dengar di pelbagai daerah di Indonesia dan tidak perlu dihadirkan di sini. Sungguh kebohongan historis yang luar biasa dan justru dimakan mentah-mentah oleh umat muslim Indonesia yang terbelakang. Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam Indonesia sadar, membangun rasa percaya diri, dan yakin bahwa Tuhan tidak tidur dan tidak membiarkan orang yang membaca dan berpikir untuk hanyut dalam kegelapan. Seperti yang dikatakan seorang bijak di negeri ini bahwa seseorang akan menemukan Tuhan dalam proses pencariannya, sementara saya menambahkan bukan dalam proses menelan mentah-mentah apa yang dikatakan orang yang berteriak-teriak di pengeras suara mimbar masjid, mushalla, atau televisi dan mengemasnya sebagai “ceramah keagamaan.” Kekhawatiran bahwa umat Islam Indonesia tidak punya kesempatan dan kemampuan (bahasa Arab dan nahwu sharaf) untuk membaca dan memelajari secara langsung Al-Qur’an ialah alasan yang mengada-ada. Oleh sebab itu, salah satu cara yang dapat dilakukan sebagai berikut.

Contohnya, saya tidak menguasai bahasa Arab dan berusaha untuk membaca – tidak hanya mengaji – Al-Isra ayat ke-5 yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi, “Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.” Terjemahan itu kurang bermakna bagi saya sebab saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kejahatan pertama maupun kedua, sehingga saya mengecek terjemahan itu ke dalam English yang diberikan Yusuf Ali menjadi “When the first of the warnings came to pass, We sent against you Our servants given to terrible warfare: They entered the very inmost parts of your homes; and it was a warning (completely) fulfilled.” Kemudian Yusuf Ali memberikan catatan kaki sebagai berikut:

A good description of the war-like Nebuchadnezzar and his Babylonians. They were servants of Allah in the sense that they were instruments through which the wrath of Allah was poured out on the Jews, for they penetrated through their lands, their Temple, and their homes, and carried away the Jews, men and women, into captivity. As regards “the daughters of Zion” see the scathing condemnation in Isaiah 3:16- 26.”

Namun, sebelum membaca catatan kaki Yusuf Ali itu, pikiran saya mengarah pada Holocaust – apabila yang terakhir ini benar-benar pernah terjadi. Uniknya, salah seorang kawan memberikan respon bahwa persepsi itu bisa berbeda apabila saya membaca terjemahan Al-Qur’an dalam Deutch di mana sebagian besar orang Jerman kini bersikap antipati terhadap Holocaust, Hitler, dan Nazi – walau saat ini juga terdapat partai Neo-Nazi. Saya pun mengeceknya dan berikut terjemahan ayat tersebut ke dalam Deutch, “Als nun die Zeit für die erste der beiden Warnungen kam, da sandten Wir sider euch Unsere Diener, begabt mit gewaltiger Kriegsmacht, und sie drangen in die Häuser, und so ward erfüllt die Verheißung” yang tidak mengingatkan saya kepada Holocaust, Nazi, dan Hitler. Bagaimana pun juga, menganggap bahwa Hitler, Holocaust dan Nazi sebagai the servants of Allah tentu menyisakan kontroversi sebab umat muslim di Indonesia dan seluruh dunia memiliki keragaman pandangan mengenai Hitler, Nazi dan Holocaust.

Tidak hanya itu, apabila saya hanya mengetahui satu bahasa asing, yaitu English, maka saya juga dapat membandingkan beberapa versi terjemahan English yang juga menarik untuk diperhatikan. Umpamanya, Q. S: 20: 114 yang sekurangnya terdapat delapan versi:

  1. Khan: “Then High above all be Allah, the True King. And be not in haste (O Muhammad SAW) with the Qur’an before its revelation is completed to you, and say: My Lord! Increase me in knowledge.””
  2. Maulana: “Supremely exalted then is Allah, the King, the Truth. And make not haste with the Qur an before its revelation is made complete to thee, and say: My Lord, increase me in knowledge.”
  3. Pickthal: “Then exalted be Allah, the True King! And hasten not (O Muhammad) with the Qur’an ere its revelation hath been perfected unto thee, and say: My Lord! Increase me in knowledge.”
  4. Rashad: “Most Exalted is GOD, the only true King. Do not rush into uttering the Quran before it is revealed to you, and say, “My Lord, increase my knowledge.””
  5. Sarwar: “God is the Most High and the True King. (Muhammad), do not be hasty in reading the Quran to the people before the revelation has been completed. Say, My Lord, grant me more knowledge.””
  6. Shakir: “Supremely exalted is therefore Allah, the King, the Truth, and do not make haste with the Quran before its revelation is made complete to you and say: O my Lord! Increase me in knowledge.”
  7. Sherali: “Exalted then is ALLAH, the True King. And make no haste to recite the Qur’an ere its revelation is completed unto thee, but only say, Lord, bestow on me increase of knowledge.‘”
  8. Yusuf Ali: “High above all is Allah, the King, the Truth! Be not in haste with the Qur’an before its revelation to thee is completed, but say, O my Lord! Advance me in knowledge.””

Kita dapat melihat bahwa untuk mengalihbahasakan kata zidni dalam bahasa Arab ke English, masing-masing penerjemah menggunakan padanan kata yang berbeda, sementara dalam Bahasa Indonesia hanya menggunakan satu kata, yaitu “tambahkan.” Enam dari delapan penerjemah English menggunakan istilah increase, satu di antaranya menggunakan kata grant, sedangkan yang terakhir memilih kata advance. Hal itu tentu juga terjadi pada ribuan ayat lainnya yang seharusnya dapat memperkaya pemahaman para pembaca yang hanya menguasai satu bahasa asing, yaitu English. Selain itu, banyak kata dalam bahasa Arab yang artinya beragam sementara Bahasa Indonesia memiliki perbendaharaan kata yang jauh lebih sedikit ketimbang English, sehingga menjadi sangat menarik apabila umat muslim Indonesia gemar membandingkan alih bahasa itu. Tentunya, kewajiban untuk memelajari bahasa Arab tetap melekat apabila mereka ingin meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai Al-Qur’an. Sekurangnya, model perbandingan itu dapat meningkatkan “selera” umat Islam Indonesia yang secara umum lebih menguasai English ketimbang bahasa Arab.

Dengan demikian, membandingkan terjemahan Al-Qur’an dalam berbagai bahasa sesungguhnya memperkaya pemahaman, pengertian, dan pikiran seorang muslim, khususnya bagi mereka yang tidak menguasai bahasa Arab dan nahwu sharaf. Sudah saatnya kebiasaan mengaji umat Islam Indonesia diangkat ke jenjang berikutnya menjadi membaca dan memikirkan makna Al-Qur’an dalam bahasa Arab, bahasa asing lainnya, maupun Bahasa Indonesia agar mendapatkan pemahaman yang lebih luas dan utuh seperti yang dilakukan umat Islam di Iran dan Eropa pada masa kini maupun Abad Pertengahan. Kesadaran dan pengetahuan umat Islam Indonesia harus diangkat sedemikian rupa apabila mendambakan kejayaan dan kegemilangan peradaban Islam di Eropa pada Abad Pertengahan dan, bukan sebaliknya, sekedar mengeksploitasi umat Islam Indonesia untuk kepentingan politik praktis golongan tertentu atau menjadikan mereka sebagai “ladang penghidupan.”

Proses pembacaan seperti itu memang beresiko, akan tetapi apakah yang tidak beresiko di dunia ini? Selain itu, bukankah melakukan kesalahan dalam proses membaca atau belajar ialah hal yang biasa? Bukankah ulama besar – siapa pun ia – juga pernah melakukan kesalahan dalam belajar sepanjang hidupnya? Kesalahan dalam memelajari agama ialah sebuah kewajaran sebab setiap pembelajar bukanlah malaikat tetapi manusia yang memiliki akal pikiran, hawa nafsu dan kepentingan individual. Apabila anda menganggap keliru cara saya membaca kitab suci, maka hal itu ialah bukti bahwa proses belajar tidak luput dari kesalahan. Pun demikian dengan saya yang menganggap bahwa sekedar mengaji tanpa berusaha memahami apa yang didengungkan sebagai tindakan yang jauh panggang dari api.

Belajar dan membaca sebagai bagian dari kehidupan yang fana tidak akan pernah mengantarkan seseorang mencapai kesempurnaan, tetapi memungkinkan pembelajar atau pembaca untuk mendekati sempurna. Muslim yang benar-benar dekat dengan Tuhan akan senantiasa merasa jauh sehingga perasaan yang terakhir ini dapat mendorongnya untuk selalu mengamalkan kebaikan sembari meningkatkan ilmu yang dimilikinya melalui aktivitas membaca dan memikirkan Tuhan berikut ciptaan-Nya yang menjadi objek bagi ilmu pengetahuan itu sendiri. Dengan demikian, kemungkinan ilmuwan muslim menjadi arogan sesungguhnya dapat diminimalisir apabila dalam ikhtiar mengembangkan ilmu pengetahuan, ia selalu memohon kepada Tuhan untuk ditingkatkan ilmunya. Begitu pula halnya dengan kemungkinan pemuka agama menjadi picik, licik, dan munafik dapat dikurangi bilamana dalam membina umat, ia selalu – sekurangnya – mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir. Perubahan dalam ilmu pengetahuan seharusnya tidak menyurutkan muslim untuk menggelutinya sebab alam semesta dan teknologi yang digunakan manusia senantiasa berkembang dan berubah. Oleh karena itu, disiplin ilmu pengetahuan sesungguhnya bukanlah ancaman dan tidak boleh dipertentangkan dengan Islam itu sendiri yang merupakan rahmat bagi semesta alam. Ikhtiar mendekati kesempurnaan melalui proses membaca dan ikhtiar berpikir itulah yang merupakan perjuangan sesungguhnya seorang muslim, sehingga ummatan wahidatan tidak akan pernah mewujud dalam persatuan organisasi seperti yang “dijual” beberapa organisasi trans-/multi-nasional, tetapi melalui kesatuan persepsi bahwa ijtihad sejati ialah membaca dan memikirkan Al-Qur’an secara sungguh-sungguh dan serius sepanjang hayat dikandung badan. Dalam kemungkinan mendekati Tuhan itulah seorang muslim memperjuangkan imannya. Kemalasan untuk membaca – bukan hanya mengaji – dan memikirkan Al-Qur’an merupakan terorisme yang sesungguhnya pada masa kini.

Tuhan tidak pernah absen dalam kehidupan seseorang. Ketika seseorang melakukan kesalahan dalam memelajari agama, maka cahaya Tuhan masuk ke dalam hati dan pikiran manusia untuk memberikan ilham yang kemudian dikelola dan diolah manusia menjadi pemikiran. Penolakan individu terhadap cahaya pengetahuan dari Tuhan sesungguhnya wujud dari kemunafikan dalam mengakui kebenaran. Dengan demikian, kebenaran sekunder maupun tersier boleh jadi datang dari individu yang tidak percaya terhadap keberadaan Tuhan sekalipun. Pandangan atheis tentu datang dari konsep ketuhanan tertentu, sementara konsep ketuhanan dalam Islam sangatlah abstrak dan membutuhkan akal yang terlatih untuk berpikir dan hati yang bersih untuk menerima kebenaran. Adapun kebenaran primer tetap datang dari Tuhan yang diajarkan kepada manusia melalui Muhammad SAW dan Al-Qur’an. Seburuk apapun pemikiran maupun tafsir seorang muslim terhadap Islam, sesungguhnya juga memberikan kontribusi bagi perkembangan umat di masa kini dan masa depan. Sekurangnya, umat Islam di masa kini dan masa depan – yang juga membaca dan berpikir – dapat belajar dari pemikiran yang keliru maupun tafsir yang – katakanlah – sesat dari pribadi muslim di masa lalu. Oleh karena itu, menuliskan apa yang dibaca dan dipikirkan seorang muslim ialah kontribusi dan kewajiban sejati seorang muslim terhadap umat masa kini maupun masa depan. Menuliskan apa yang kita baca dan pikirkan sesungguhnya tidak hanya mengikat dan mengabadikan ilmu maupun pemikiran, tetapi juga mencerahkan dan menyegarkan pemahaman umat terhadap apa yang diyakininya.

Tepat di sinilah Islam menjadi sistem kehidupan yang selaras dengan perkembangan zaman. Percayalah bahwa kesucian Islam tidak akan pernah hancur hanya dengan pemikiran yang keliru atau tafsir sesat sebab bahasa suci yang digunakan sebagai medium penyampaiannya ialah bahasa Arab yang – dalam pemahaman saya – merupakan bahasa yang tidak pernah dan tidak akan pernah mati atau tidak digunakan manusia seperti yang terjadi dengan bahasa Ibrani Kuno yang digunakan Nabi Ibrahim sebagai medium penyampaian ajaran Yahudi maupun bahasa Aramaic atau Syiria Kuno yang digunakan Nabi Isa sebagai medium penyampaian ajaran Kristiani (lihat Artema). H. Agus Salim pernah memberikan keterangan yang cukup menarik bahwa beberapa kitab suci sebelum Al-Qur’an berisi campuran antara ajaran Tuhan dengan cerita kehidupan para nabi (lihat Hadji Agus Salim, Pesan-pesan Islam: Rangkaian kuliah musim semi 1953 di Cornell University Amerika Serikat [Bandung: Penerbit Mizan, Cetakan II, 2011, halaman 113]). Dengan demikian, umat Islam tetap mengakui ajaran agama yang lurus yang diwariskan sejak zaman Ibrahim; yang kemudian juga diajarkan Musa AS dan Taurat; diajarkan Daud AS dan Zabur; serta diajarkan Isa AS dan Injil. Namun, bahasa suci yang digunakan dalam Taurat, Zabur, dan Injil pernah mati sehingga saya – sebagai pribadi muslim yang membaca dan berpikir – memberanikan diri untuk mengatakan bahwa umat Islam perlu menyisakan tanda tanya besar mengenai kebenaran ajaran dalam ketiga kitab suci tersebut yang eksis pada hari ini. Sekedar mengatakan bahwa umat Yahudi dan Kristiani mengorupsi teks Taurat dan Injil tanpa menyadari eksistensi historis bahasa suci yang digunakan dalam kedua kitab itu sama saja dengan korupsi dalam bentuk yang lain. Bahkan, Nietzsche lebih ekstrem dengan mengatakan “The gospels are invaluable as evidence of the corruption that was already persistent within the primitive community…” sebab menurutnya “The gospels, in fact, stand alone. The Bible as a whole is not to be compared to them” (Friedrich Nietzsche, The Antichrist, translated by H. L. Mencken, ebook produced by Laura Wisewell, distributed by www.pdgp.net, release date 18 September 2006, point 44).

Tuhan – seperti yang diyakini Einstein – tidak bermain dadu dengan mengatakan bahwa bahasa Arab ialah bahasa yang hidup, tetapi Tuhan juga maha santun dengan tidak mengatakan – apa yang saya sebut sebagai – bahasa suci yang pernah mati. Tuhan tentu punya rencana tersendiri dengan “membiarkan” matinya bahasa Ibrani Kuno dan Aramaic/Syiria Kuno, dan di sisi lain menurunkan Al Qur’an dalam bahasa Arab sebab inilah bahasa yang memungkinkan kemurnian ajaran agama yang lurus yang telah diajarkan sejak zaman Ibrahim AS. Bahkan, Yusuf Ali memberikan catatan lebih kuat terhadap Al Maidah ayat 44 bahwa:

“…The Taurat mentioned in the Koran is not the Old Testament as we have it: nor is it even the Pentateuch (the first five books of the Old Testament, containing the Law embedded in a great deal of semi historical and legendary narrative). See Appendix 2 (Topic 10125), on the Taurat” (The Holy Quran [Koran]: English translation of the meanings and verse notes by Abdullah Yusuf Ali: Formatting by William B. Brown, hal. 152).

Namun, saya belum pernah menemukan ada seorang ulama yang memberikan alasan lebih meyakinkan dari sekedar tuduhan bahwa umat Yahudi dan Kristiani mengorupsi ayat-ayat Taurat dan Injil. Oleh sebab itu, saya berpikir bahwa fakta historis bahwa bahasa suci kedua agama itu pernah mati atau tidak digunakan merupakan alasan yang sangat meyakinkan bagi saya untuk menyisakan tanda tanya besar di kepala kita.

Selain kemalasan untuk membaca, berpikir, dan menulis, ada satu faktor lain yang harus diakui turut berkontribusi terhadap keterbelakangan umat Islam Indonesia, yaitu keengganan muslim Indonesia yang membaca, berpikir, dan menulis untuk naik ke mimbar masjid, mushalla, atau Islamic centers untuk turut mendidik dan mencerahkan umat. Saya harus jujur mengakui termasuk ke dalam golongan yang terakhir ini walau beberapa kali sempat ditawarkan untuk naik mimbar Jum’at. Saya menolaknya dengan alasan yang konyol seperti belum hafal do’a di antara dua khutbah. Padahal, hal itu ialah kesempatan baik untuk menyebarluaskan apa yang saya tulis di sini. Namun, sesungguhnya keraguan terbesar ialah sekali kita naik mimbar maka harus siap untuk melakukannya di kemudian hari. Saya juga harus punya kesadaran di belakang kepala untuk tidak tergelincir menjadi pribadi yang munafik sebab tidak sedikit khatib Jum’at yang – sekurangnya – terkesan munafik. Boleh jadi, khatib yang munafik masih lebih baik bagi umat Islam Indonesia ketimbang saya yang melulu menolak untuk naik mimbar Jum’at. Namun, saya yakin bahwa menuliskan beberapa hal di atas dan menyebarluaskannya masih jauh lebih baik ketimbang meneriakkan kebenaran di atas mimbar, tetapi mempraktekkan kemunafikan dalam kesehariaan hidup. Segala yang baik dari tulisan ini datangnya dari Allah SWT, sementara segala yang buruk dari uraian di atas menjadi tanggungjawab saya.

Semoga Allah SWT menambahkan ilmu kita, amin.

* Tulisan ini telah dimuat sebelumnya di www.rimanews.com pada Selasa, 22 November 2011.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply