Capaian Pendidikan Indonesia versus Malaysia

December 5, 2011

Qusthan Abqary

UNESCO Institute for Statistics (UIS) melansir laporan berjudul Global Education Digest 2011: Comparing Education Statistics Across the World beberapa waktu lalu. Secara umum, UIS menemukan bahwa terjadi peningkatan persentase anak usia sekolah di seluruh dunia (dari 84% ke 90%) yang mengakses pendidikan dasar dan sekunder antara tahun 1999 dan 2009 (hal. 78). Namun, yang lebih menarik untuk dicermati ialah perbandingan capaian Indonesia dengan Malaysia pada jenjang pendidikan dasar, menengah, dan tinggi.

Pada tahun 2009, terdapat 5.154.000 siswa baru yang masuk SD di Indonesia. Selain itu, 1.062.000 siswa mengulang kelas dan (hanya) 80% yang berhasil mencapai kelas enam pada tahun ajaran 2008-9. Di sisi lain, terdapat 481.000 siswa baru yang masuk SD di Malaysia pada tahun 2009 serta tidak ada siswa yang mengulang kelas dan 96% siswa di SD berhasil mencapai kelas enam pada tahun ajaran 2008-9 (hal. 104, 124). Dengan kata lain, walaupun jumlah siswa yang baru masuk SD di Indonesia hampir sebelas kali lipat dari Malaysia, tetapi persentase keberhasilan siswa mencapai kelas enam lebih rendah 16% ketimbang Malaysia pada tahun yang sama. Hal itu tentu berkait dengan jumlah siswa yang mengulang kelas maupun faktor lainnya seperti putus sekolah karena tidak ada biaya.

Di Indonesia, usia wajib sekolah ialah 7-15 tahun sementara di Malaysia antara 6-11 tahun. Namun, jumlah siswa (pada usia wajib sekolah) yang mengalami putus sekolah di Indonesia (389.000 siswa) adalah dua kali lipat ketimbang Malaysia (192.000 siswa). Selain itu, pada level pendidikan menengah dan vokasional, ketertinggalan Indonesia dari Malaysia tidak jauh berbeda. Usia wajib sekolah pada jenjang ini ialah 13 tahun di Indonesia (3 tahun SMP dan 3 tahun SMA) serta 12 tahun di Malaysia (3 tahun SMP dan 4 tahun SMA). Dalam kelompok siswa itu, ada 19.521.000 siswa pada tahun 2009 dan satu persen dari mereka pernah mengulang kelas pada tahun yang sama di Indonesia; sementara dari 2.537.000 siswa di Malaysia pada jenjang dan tahun yang sama, hampir tidak ada dari mereka (nol persen) yang mengulang kelas (hal 134, 146, 158). Padahal, janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan jaminan bahwa tidak ada satu pun warga negara yang putus sekolah sebab ketiadaan biaya.

Keprihatinan juga muncul dari dunia pendidikan tinggi. Indonesia hanya menjadi negara tujuan bagi 3.023 mahasiswa asing sementara Malaysia menjadi negara tujuan bagi 41.310 mahasiswa asing (hampir 14 kali lipat ketimbang Indonesia) pada tahun 2009. Malaysia pun menjadi negara keempat tujuan kuliah bagi warga negara Singapore (606 mahasiswa pada tahun 2009), sementara Indonesia menjadi negara tujuan nomor satu bagi mahasiswa Timor Leste (1.421 mahasiswa pada 2009) dan tidak masuk ke dalam lima besar negara tujuan studi warga negara Singapore. Di sisi lain, hanya 32.346 mahasiswa Indonesia yang studi di luar negeri pada tahun 2009, sementara Malaysia memiliki lebih dari 1,5 kali lipat jumlah mahasiswa Indonesia yang studi di luar negeri (53.121 mahasiswa). Lima negara teratas untuk tujuan studi bagi mahasiswa Indonesia ialah Australia (10.205), U.S.A. (7.386), Malaysia (7.325), Jepang (1.788), Jerman (1.546) dan menarik untuk dicatat bahwa Malaysia masuk ke dalam lima besar negara tujuan studi bagi mahasiswa Indonesia. Padahal, Indonesia tidak masuk ke dalam lima besar negara tujuan studi bagi mahasiswa Malaysia (Australia [19.970], U.K. [12.697], U.S.A. [5.844], Rusia [2.516], Jepang [2.147]) pada tahun 2009 (hal. 201).

Sebagai “catatan kaki”, menarik untuk disampaikan bahwa walaupun Indonesia merupakan negara penerima beasiswa terbesar dari AusAid, jumlah mahasiswa Malaysia yang studi di Australia lebih banyak 9.765 orang ketimbang mahasiswa Indonesia pada tahun 2009. Dengan kata lain, lebih banyak warga Malaysia – ketimbang WNI – yang mampu membayar kuliah ke Australia atau Putra Jaya memberikan lebih banyak beasiswa bagi warga negaranya ketimbang yang disediakan Jakarta bagi WNI untuk studi ke Australia. Mahasiswa Singapore yang studi ke Australia pun masih lebih banyak ketimbang Indonesia, yaitu sejumlah 10.394 orang – lebih banyak 189 orang ketimbang Indonesia – dan mahasiswa Hong Kong yg studi ke Australia 12.925 orang – lebih banyak 2.720 ketimbang mahasiswa Indonesia yg studi ke Australia pada tahun 2009 (hal. 201). Padahal, warga Singapore dan Hong Kong jauh lebih sedikit ketimbang Indonesia.

Dengan demikian, wajar saja bila WNI di perbatasan Kalimantan Barat, umpamanya, lebih memilih memiliki akta kelahiran Malaysia ketimbang Indonesia, sebab hal tersebut memberikan kemungkinan yang lebih besar bagi mereka untuk – sekurangnya dua hal – (1) mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih besar serta (2) kualitas pendidikan (dasar dan menengah) yang lebih baik dan kesempatan untuk mengakses pendidikan tinggi – dengan beasiswa – di Malaysia maupun ke negara lain. Di sisi lain, mengapa para pejabat dan sebagian WNI naik pitam dengan fenomena tersebut yang akar masalahnya merupakan (1) ketidakmampuan pemerintah (pusat maupun daerah) memberikan kesejahteraan dan pendidikan berkualitas tinggi dan (2) rendahnya ekspektasi kehidupan (pendidikan, kesejahteraan, kesehatan) sebagian besar rakyat Indonesia?!

Bagaimana pun juga, kita patut bersyukur bahwa kebudayaan telah disatukan kembali dengan Kementrian Pendidikan. Belajarlah dari UMNO yang memosisikan menteri pendidikan sebagai stepping stone menuju pucuk kepemimpinan nasional – lima dari enam Perdana Menteri (PM) Malaysia pernah menjadi menteri pendidikan kecuali Tuanku Abdul Rahman yg merupakan PM pertama – dan pimpinan oposisi Anwar Ibrahim pun pernah menjabat mendiknas Malaysia. Akibatnya, setiap PM Malaysia memiliki pengalaman dalam mengurus pendidikan. Hasilnya jelas, kualitas pendidikan di negeri kita kalah telak dari Malaysia seperti yang ditunjukkan beberapa statistik sebelumnya, sementara kita masih mabuk dengan fakta sejarah pernah mengirim guru ke Malaysia.

* Tulisan ini telah dimuat RIMaNews.com.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

4 Comments

  • Sepertinya Indonesia harus segera meningkatkan kualitas tenaga pendidik agar bisa menyalip malaysia. Dan juga meningkatkan fasilitas dan pemerataan pendidikan

    • Qusthan Abqary

      Hai Jinny,

      Sepakat 100%. Terima kasih sudah mampir dan berkomentar.

      Salam,

      QF

  • hamdani

    Entah kenapa jadi malu ngobrol tentang pendidikan sama temen yg dari malaysia

    • Qusthan Abqary

      Pak Hamdani,

      Terima kasih sudah berkunjung, dan meninggalkan pesan. Saya pikir tidak perlu malu tetapi kita bisa belajar layaknya mereka belajar mengejar ketertinggalan setelah Indonesia pernah mengirim banyak guru ke Malaysia.

      Salam,

      QF

Leave a Reply