Tenggelamnya Pesisir Selatan

January 14, 2012

Qusthan Abqary

Setelah tujuh tahun tidak melihat kampung halaman orangtua, saya tercengang bukan kepalang sebab hampir tidak ada pembangunan dan pengembangan infrastruktur maupun manusia yang signifikan di Pesisir Selatan. Kabupaten ini seperti hampir tenggelam ditelan tsunami diam bernama kelalaian politik pemimpin. Padahal, sang pemimpin telah berkuasa sejak tahun 2005.

Pengangguran di Pesisir Selatan merupakan yang terbesar kedua (15.761 penduduk) setelah Padang (50.343 penduduk) di seluruh Sumatera Barat pada tahun 2008. Pesisir Selatan juga memiliki jumlah bukan angkatan kerja – calon angkatan kerja berusia di bawah 15 tahun – tertinggi kedua (121.779 penduduk) setelah Padang (282.113 penduduk) pada tahun yang sama (http://sumbar.bps.go.id; terakhir diakses 8 Januari 2012).

Padahal, Pesisir Selatan memiliki angkatan kerja terbesar ketiga (176.690 penduduk) setelah Padang (344.497 penduduk) dan Agam (203.799 penduduk) pada tahun 2008. Disusul oleh Tanah Datar (168.655 penduduk), 50 Koto (168.030 penduduk), dan Solok (166.784 penduduk). Tak hanya itu, Pesisir Selatan memiliki angkatan kerja laki-laki terbesar kedua (118.553 penduduk) setelah Padang (220.566 penduduk) yang kemudian diikuti oleh Agam (112.577 penduduk). Angkatan kerja laki-laki ini sesungguhnya dapat didayagunakan untuk mengolah lahan sawit ketimbang ‘mengimpor’ buruh dari Jawa, objek pariwisata, sektor perikanan, pertanian, dan perkebunan.

Selain itu, terjadi penurunan angkatan kerja yang cukup tajam di Kabupaten Pesisir Selatan dalam rentang tahun 2005 hingga 2008 (-0,45% antara 2005-6; -1,74% antara 2006-7; -4,58% antara 2007-8). Di sisi lain, Kabupaten Mentawai justru lebih baik sebab terjadi fluktuasi angkatan kerja pada periode yang sama (5,89% antara 2005-6; -10,97% antara 2006-7; 7,36% antara 2007-8). Walaupun terjadi fluktuasi yang cukup tajam, Kabupaten Mentawai berhasil meningkatkan kembali tingkat partisipasi angkatan kerja. Apabila Pemerintah Kabupaten tidak mengambil kebijakan serius maka akan terjadi ledakan jumlah pengangguran di Pesisir Selatan dalam beberapa tahun ke depan. Namun, pemimpin tetap abai dan lalai.

Di sisi lain, anggaran Pesisir Selatan secara umum lebih dari cukup untuk membangun dan mengembangkan penduduk dan infrastruktur. Memang, PAD Pesisir Selatan pada tahun 2011 (Rp 25,494 M) masih kalah tipis dari Mentawai (Rp 26,119 M) yang pernah porak-porakanda karena tsunami dan gempa; serta hanya setengah dari PAD Dharmasraya (Rp 45,199 M) yang masih berusia delapan tahun.

Namun, Pesisir Selatan meraih angka pendapatan hampir sepertiga (Rp 711,917 M) dari Provinsi Sumatera Barat (Rp 1,986 T); sekitar Rp 4,6 M lebih kecil daripada Padang; hampir 1,5 kali Dharmasraya; dan 1,6 kali Mentawai pada tahun yang sama (Dirjen Perimbangan Keuangan, Kementrian Keuangan RI, Anggaran Pendapatan & Belanja Pemerintah Daerah (APBD) 2011, www.djpk.depkeu.go.id, terakhir diakses 8 Januari 2012).

Ironisnya, Pesisir Selatan menghabiskan anggaran belanja (Rp 750,775 M) lebih banyak (sekitar) Rp 214 M daripada Dharmasraya dan lebih banyak Rp 160 M daripada Mentawai – bandingkan dengan pendapatannya! Selain itu, Pesisir Selatan menghabiskan belanja lebih dari setengah (0,61780) belanja Padang.

Pesisir Selatan menghabiskan belanja pegawai (tidak langsung = Rp 418,329 M) antara 2 – 2,5 kali lipat ketimbang Dharmasraya dan Mentawai. Selain itu, yang cukup mencengangkan ialah Pesisir Selatan menghabiskan setengah (0,564) dari belanja pegawai Padang. Di sisi lain, Pesisir Selatan menghabiskan belanja pegawai (langsung = RP 15,325 M) hampir setengah Padang (0,4), Mentawai (0,38), dan Dharmasraya (0,51). Mengapa bupati sibuk merekrut penduduk untuk menjadi pegawai negeri sipil daripada pekerja lahan sawit dan pekerja pariwisata sehingga total belanja pegawai langsung dan tidak langsung kurang lebih sama dengan total anggaran belanja?

Yang lebih mencengangkan ialah Pesisir Selatan hanya mampu menghasilkan pajak daerah sebesar Rp 6,151 M dan retribusi daerah sejumlah Rp 7,345 M selama tahun 2011. Ke mana saja larinya pajak dan retribusi dari ratusan muatan truk besar yang melintas di Pesisir Selatan setiap harinya? Sementara itu, Dharmasraya mampu menghasilkan pajak daerah sebesar Rp 8,401 M dan retribusi daerah sejumlah Rp 11,825 M sepanjang tahun 2011.

Pesisir Selatan (Rp 9,048 M) tidak mampu mengumpulkan setengah dari sektor selain PAD yang sah di Dharmasraya (Rp 21,722 M) dan masih tertinggal dari Mentawai (Rp 12,895 M). Selain itu, Pesisir Selatan (Rp 69,467 M) masih ketinggalan sekitar Rp 20 M ketimbang Dharmasraya (Rp 89,799 M) dalam komponen pendapatan daerah lain yang sah.

Tak hanya itu, Pesisir Selatan harus membayar pokok utang (Rp 7,271 M) tiga kali lipat Dharmasraya (Rp 2,317 M). Besaran hutang yang dibayar itu merupakan yang terbesar di Sumatera Barat sebab Agam hanya membayar Rp 20 juta, Padang Pariaman Rp 489 juta, Bukittinggi Rp 289 juta, Solok Rp 500 juta dan beberapa kabupaten maupun kota lain sama sekali tidak membayar utang sepanjang tahun 2011.

Dalam sebuah kunjungan singkat, Presiden Yudhoyono pernah mengatakan bahwa bila berhenti lebih lama di Pesisir Selatan, maka beliau dapat menciptakan beberapa lagu. Beliau pun berpesan kepada bupati untuk menjaga kelestarian alam Pesisir Selatan. Lidah tak bertuah, wasiat itu justru dijawab dengan banjir akibat kerusakan alam. Ringkasnya, Pesisir Selatan hanya menunggu waktu untuk tenggelam sementara nakhoda kapal asyik masygul menggerogoti lambung kapal yang awaknya tidak dididik secara serius.

* Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang pada 14 Januari 2012 dan mendapat respon inadekuat pada 21 Januari 2012. Namun, tulisan pertama justru raib dari situs media tersebut beberapa minggu setelah dipublikasi dan hanya tulisan kedua yang masih terpajang di situs harian itu.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply