Kritik Lanjut Revolusi Mental

September 3, 2014

Romo Benny Susetyo turut mencetuskan ide revolusi mental (Revomen) melalui kolom opini sebuah media nasional pada 10 Mei 2014. Argumennya dapat diperas sebagai berikut.

Pertama, perubahan tindakan, pikir, dan kesadaran secara mendasar merupakan makna dari revolusi mental. Kedua, perubahan menuju kepercayaan diri dari yang sebelumnya tidak percaya diri juga merupakan makna lain dari revolusi mental. Ketiga, mental terjajah merupakan penghambat bagi kemajuan Indonesia. Keempat, elit Indonesia masih terjajah secara mental atau belum merdeka. Kelima, akibatnya adalah apa yang disebut Mangunwijaya sebagai “mencari selamat sendiri-sendiri.”

Mental

Premis pertama merupakan parafrase dari pernyataan Romo Benny: “Revolusi mental. Frase ini kerap disebut salah seorang kandidat presiden Indonesia. Pengertiannya merujuk pada adanya revolusi kesadaran. Perubahan mendasar yang menyangkut kesadaran, cara berpikir, dan bertindak sebuah bangsa besar. Revolusi mental dari sesuatu yang negatif menuju positif.” Petikan itu penting guna menghindari kekeliruan dalam memahami substansi. Ringkasnya, mental kurang-lebih dianggap sama oleh Romo Benny dengan kesadaran.

Namun, mental sesungguhnya mengandung makna yang berbeda dari kesadaran. Di satu sisi, mental adalah karakteristik berpikir seseorang atau kelompok. Dengan demikian, kita perlu memahami beberapa buah pikir dan karya seseorang atau kelompok sebelum mengidentifikasi karakternya.

Untuk memahami mental seorang Joko Widodo, misalnya, kita perlu mengetahui secara utuh karya dan buah pikirnya baik sebagai pengusaha mebel, Wali Kota Surakarta, Gubernur DKI Jakarta, hingga presiden. Setelahnya, kita dapat menarik benang merah yang membentuk mental seorang Joko Widodo.

Orang yang mengalami gangguan mental berarti juga mengalami gangguan dalam aktivitas berpikir. Tepat di sini, berpikir tidak hanya kerja otak karena otak akan selalu bekerja meski kita sedang tidur sementara orang tidak dapat berpikir ketika sedang tidur.

Faktor lainnya ialah koherensi dari argumen yang dibangun sebagai hasil dari kerja pikiran. Koherensi yang dimaksud di sini adalah kualitas yang konsisten sekaligus logis dari sebuah argumen. Dengan demikian, hampir tidak mungkin argumen koheren yang muncul dari individu yang mengalami gangguan mental karena pikirannya juga terganggu sehingga ia tidak dapat berpikir secara logis.

Kesadaran

Di sisi lain, kesadaran ialah kondisi mawas diri, dan responsif terhadap lingkungan sekitar. Terdapat dua proposisi di sini yaitu mawas diri dan responsif. Implikasinya, seseorang belum tentu sadar bila sekedar mawas tetapi belum responsif terhadap sekelilingnya. Respon di sini dapat bersifat positif maupun negatif.

Mawas diri membutuhkan pengetahuan yang memadai mengenai diri sendiri dan lingkungan sekitar. Dengan kata lain, seseorang perlu melihat ke dalam dirinya (inward looking) sekaligus melihat ke luar dirinya (outward looking) agar ia dapat memeroleh pengetahuan. Mawas diri juga penting agar seseorang mampu untuk ingat (eling) kepada Tuhan YME dan waspada.

Sebaliknya, seseorang boleh jadi responsif terhadap lingkungan sekitar tetapi belum tentu mawas diri. Sifat responsif itu kadang menjelma sebagai sikap reaksioner atau bahkan spontanitas.

Jusuf Kalla ialah contoh baik dari pribadi yang responsif. Namun, sifat responsif semata tidak selalu berdampak baik seperti Open House pada saat Idul Fitri 29 Juli 2014 yang menimbulkan korban nyawa. Oleh karena itu, sifat responsif perlu diikuti dengan mawas diri, ingat (eling) dan waspada sehingga sedekah sebaiknya disalurkan melalui lembaga profesional atau diantarkan langsung ke rumah penerima sedekah.

Oleh karena itu, jika salah satu dari kedua proposisi itu tidak bekerja secara aktif, maka seseorang belum dapat dikatakan sadar secara penuh. Di sinilah pentingnya menggandeng responsivitas dengan mawas diri.

Ringkasnya, mental tidak dapat merujuk pada kesadaran karena keduanya mengandung makna dan proposisi yang berbeda. Jika hal itu diterima, maka kita perlu bertanya secara lebih lanjut: apa argumen bahwa revolusi mental dapat merujuk pada revolusi kesadaran? Pertanyaan ini penting tidak hanya untuk mengembangkan ide Revomen tetapi juga karena mencampur aduk antara mental dengan kesadaran justru akan kontra-produktif terhadap ide Revomen. Semoga tidak hanya kekaburan yang tersisa dari ide Revomen. ***

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply