Jika LTS Ubuntu Habis

August 5, 2015

Qusthan Firdaus

Apa yang akan anda lakukan apabila masa LTS (long term support) Ubuntu sudah habis sementara anda masih ingin menggunakannya? Migrasi ke versi terbaru? Ah, bagaimana jika anda tidak serajin itu? Bukankah migrasi sistem operasi laptop serupa dengan pindah rumah atau  sekurangnya menambah lantai rumah? Bukankah keduanya sama-sama mengakibatkan ketidaknyamanan? Ah, saya pun terkadang terlalu rajin dan  terlalu malas.

Softwares Favorit

Saya menikmati sistem operasi Edubuntu 12.04 LTS sejak akhir tahun 2012. Rupanya, yang dimaksud dengan LTS ialah Ubuntu tidak lagi membebaskan pengguna untuk install maupun re-install softwares baik melalui terminal maupun Ubuntu Software Centre.

Sumber untuk beberapa softwares favorit saya sepertinya diubah sedemikian rupa oleh repository Ubuntu di USA atau UK sehingga terminal mengatakan tidak dapat mengidentifikasi lokasi softwares favorit, dan Centre tidak menyediakan opsi install. Jika ada masalah dengan sistem operasi, saya biasanya terlalu rajin dengan mengganti Edubuntu 12.04 LTS dengan model yang lain seperti Linux Sabily 11.10 full yang memang dilengkapi dengan softwares favorit.

Selain itu, sempat pula terpikir untuk unduh Edubuntu 14.04 LTS yang baru dipublikasi sekitar kurang dari setahun lalu atau titip unduh ke salah satu warung internet (warnet). Saya justru terlalu malas untuk menunggu berjam-jam di warnet (jika saya unduh Ubuntu dari University of Melbourne butuh waktu sekitar satu jam, apalagi dari Cilebut Bogor?). Namun, upgrade belum tentu menghasilkan kenyamanan yang sama karena saya pernah coba bekerja selama beberapa bulan dengan Ubuntu 14.10 Utopic Unicorn i386 yang bukan merupakan LTS. Hasilnya, laptop kecil saya terasa lebih berat meski RAM sudah diganti dengan kapasitas 2Gb.

Ganti Repository

Adapun saya menutup opsi instalasi softwares favorit secara offline karena prosesnya biasanya lebih rumit serta cukup mengecewakan apabila gagal instalasi, dan bukan tidak mungkin justru mengganggu sistem operasi secara keseluruhan. Saya pun mencari cara untuk mengganti repository dengan harapan repository di Indonesia “tidak tunduk” pada kebijakan global Ubuntu, dan masih menyediakan beberapa softwares tersebut. Bukankah ketidaktundukan itu wajar dalam dunia open sources?

Pohon harapan saya berbuah manis. Saya bisa install softwares favorit setelah berhasil mengganti repository. Berikut cara mengganti repository:

    • 1) Cari opsi Update Manager pada Ubuntu yang anda gunakan. Saya sengaja tidak menunjukkannya secara detail karena anda boleh jadi menggunakan opsi tampilan Gnome atau posisinya berbeda karena perbedaan versi Ubuntu.2) Setelah menemukannya, pilih Setting lalu masuk ke Ubuntu Softwares untuk mengganti repository sources melalui opsi Download from.

      3) Kemudian, ganti repository anda dari sebelumnya USA, UK atau negara asing lainnya ke Indonesia. Klik Indonesia. Tunggu sejenak apabila berbagai repository di Indonesia tidak muncul.

      4) Di satu sisi, setelah anda berhasil menemukan beberapa pilihan repository di Indonesia, pilih repository terdekat dari lokasi rumah atau kantor atau tempat aktivitas anda sehari-hari. Hal ini sepertinya penting untuk menghemat penggunaan bandwidth meski barangkali tidak terlalu signifikan bagi sebagian orang. Di sisi lain, jika opsi repository di Indonesia tidak muncul, ulangi proses di atas dengan koneksi internet ke laptop atau komputer anda.

      5) Setelah berhasil mengganti repository, coba install softwares favorit melalui terminal dengan terlebih dahulu menulis perintah sudo apt-get update. Hal ini penting untuk sinkronisasi antara laptop plus sistem operasi anda dengan repository lokal terdekat. Setelahnya, tulis perintah sudo apt-get install … (nama software favorit anda). Untuk nama software, pastikan bahwa sistem operasi anda tidak merujuk ke software lain yang menggunakan nama serupa. Untuk memastikan hal ini, sila masukkan perintah kedua lengkap dengan nama software ke mesin pencari. Perhatikan tautan apa saja yang muncul serta apakah konsisten dengan rencana anda.

      6) Jika beberapa langkah di atas belum berhasil, ganti dengan repository lokal lain karena bukan tidak mungkin repository yang anda pilih sebelumnya sudah tidak menyediakan layanan untuk jenis Ubuntu yang anda pakai. Selanjutnya, apabila masih tidak bisa, anda perlu membuka opsi re-install Ubuntu anda saat ini. Ibarat rumah yang sudah digunakan puluhan tahun, renovasi atau bahkan rekonstruksi juga perlu dilakukan dalam kondisi tertentu.

Demikian sedikit informasi yang dapat saya ikat melalui tulisan ringkas ini. Jika repository lokal tetap menyediakan softwares favorit kita, maka sepertinya LTS tidak akan berpengaruh pada sistem operasi yang berusia lebih dari lima tahun lalu. Selamat ngoprek dengan repository lokal.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply