Kisah Teror dari Masa ke Masa

May 25, 2019

Judul buku

:

States of Terror: History, Theory, Literature

Penulis

:

David Simpson

Penerbit

:

The University of Chicago Press

Tebal

:

xviii + 265

ISBN

:

978-0-226-60036-9

Tahun terbit

:

2019

Persepsi publik tentang teror menyempit setelah 9/11. Buku ini berikhtiar untuk meluruskan mispersepsi itu. Namun, sidang pembaca perlu memiliki pengetahuan tentang sejarah Eropa, filsafat Barat antik, modern dan kontemporer serta dinamika teror dari masa ke masa sebelum mengonsumsinya. Tanpa salah satu dari ketiganya, anda berpotensi tersesat dalam dua ratusan halaman buku.

Namun, tidak berarti buku ini miskin manfaat. Sekurangnya, pembaca dapat mengukur kapasitas intelektual dengan mengunyah narasi di dalamnya. Teknik membaca cepat seperti scanning dan skimming agaknya kurang pas untuk menangkap argumentasi dalam buku ini. Jika anda berhasil meluangkan waktu dan konsentrasi secara maksimal, maka anda akan mendapatkan banyak hal menarik mengenai teror mulai dari ranah agama, filsafat, sejarah hingga sastra.

Dalam penuturannya, Simpson menarik garis tegas antara terorisme dengan teror. Sebab, di satu sisi, terorisme tidak lebih dari aspirasi pada kekuatan teror yang merupakan penolong sementara dari kekerasan berkelanjutan. Di sisi lain, mengakui musuh memiliki kekuatan teror merupakan tindakan bahaya (Simpson, 2019, p. xii). Hal ini menarik karena mendidik publik untuk tidak tergelincir pada slippery slope bahwa teror sama dengan terorisme atau sebaliknya.

Yang lebih menarik, Simpson mengklaim bahwa para teolog menggunakan teror sebagai kekuatan edukatif yang penting di tangan Tuhan (Simpson, 2019, p. 4). Ia juga mengklaim bahwa sebagian umat beragama diajarkan untuk tidak melepaskan perasaan teror “yang bagus” seperti teror ketika menghadapi Tuhan. Hal ini menurutnya paralel dengan kata teror yang berusia lebih tua daripada terorisme karena selama berabad-abad menjadi atribut dari berbagai balas dendam atau ancaman pada manusia dan Tuhan. Sementara para neologis (pembuat kata baru) percaya bahwa kata terorisme berkembang sejak tahun 1794 (Simpson, 2019, p. xii).

Tepat di sini, anda perlu mengetahui sedikit tentang revolusi Prancis. Tahun 1794 mengacu pada terorisme kelompok Jacobin yang didominasi Robespierre yang mengeksekusi siapapun yang mengancam rezim penguasa di Prancis pada masa revolusi. Hal ini pula yang membuat Edmund Burke — dalam bukunya Reflections on the Revolution in France (1790) — menunda mengapresiasi revolusi Prancis sebelum mengetahui karakter rezim dan masyarakat berikutnya. Akibatnya, sebagian pemikir menuding Burke sebagai pemikir Anti-Pencerahan. Padahal, ramalan Burke terbukti bahwa penguasa revolusi Prancis (faksi Jacobin) menggunakan teror, dan mengeksekusi secara kejam siapapun yang mengancam rezim. Dalam revolusi Prancis, masa ini dikenal sebagai la Terreur atau pemerintahan teror.

Para sejarawan dan filosof seperti Sartre bersilang pendapat apakah kejadian pada 1793-1794 di Prancis merupakan hasil dari krisis jangka pendek sehingga merupakan penyimpangan revolusi; atau pelengkap dari logika internal revolusi sehingga tak terhindarkan (Simpson, 2019, p. 205).

Bagi Sartre ada tiga jenis teror. Pertama, orang terlibat teror ketika bergabung dalam organisasi yang bertujuan atau muncul akibat perubahan radikal. Kedua, teror untuk memukul atau menghukum pihak yang kepentingannya berlawanan semisal teror dari negara. Ketiga, teror untuk memelihara solidaritas organisasi (Simpson, 2019, p. 206).

Sepanjang tidak ada orang yang merespon teror secara sama persis, Simpson mengklaim bahwa kondisi individual dan sosial yang menentukan besaran teror yang ada di mana-mana (omnipresent) (Simpson, 2019, p. 226).

Dengan menginterpelasi kelemahan kolektif masyarakat yang membutuhkan proteksi, Simpson mencurigai bahwa perang melawan teror cocok dengan kebutuhan propaganda yang muluk-muluk dari aparat militer (Simpson, 2019, p. xi).

Berhubungan dengan emosi internal yang beragam serta kekuatan eksternal, Simpson juga memahami teror sebagai situasi perasaan dan pikiran (Simpson, 2019, p. xvi).

Di samping revolusi Prancis, Simpson juga mendiskusikan bagaimana Trotsky menyadari perilaku elit penguasa di Rusia yang gemar melabeli semua aktivitas kaum proletar yang mengganggu kepentingan elit; sebagai terorisme pada tahun 1911.

Kemudian, terorisme merupakan komponen mayoritas dalam pembentukan negara Israel pada tahun 1948 (Simpson, 2019, p. 4). 38 tahun kemudian, Benjamin Netanyahu justru mengedit sebuah buku berjudul Terrorism: How the West Can Win yang — seperti post-truth — meyakini secara keliru bahwa Palestinian Liberation Organization (PLO) sebagai teroris utama dalam jejaring terorisme global, dan hanya menyematkan stereotipe terorisme pada kekuatan non-Barat (Simpson, 2019, pp. 5-6).

Simpson juga merambah leksikon sastra Inggris di mana puncak penggunaan kata ‘terror‘ dan ‘fear‘ tidak hadir secara bersamaan dengan kata ‘guts‘ maupun ‘blood‘ meski pada fase barbar atau gothic sekalipun; tapi justru hadir pada era elegan sekitar 1700. Kata ‘terror‘ juga berbagi konteks makna dengan pengalaman kenikmatan sehingga memainkan peran penting dalam estetika (Simpson, 2019, p. 72). Penyebabnya ialah kecenderungan mengalihbahasakan konsep Aristoteles mengenai phobos menjadi kata ‘terror‘ ketimbang ‘fear‘ dalam English (Simpson, 2019, p. 73).

Keragaman asosiasi makna dari kata teror juga melekat pada integritas sebuah bangsa. Contohnya, sembilan kapal Royal Navy Inggris menggunakan nama HMS Terror sejak 1696 hingga 1916 (220 tahun). Bahkan, Malesherbes (1721-1794) — seorang menteri di Prancis yang membela Louis XVI — mengasosiasikan kata teror dalam tulisannya sebagai akibat dari perpajakan serta cukai yang serba tidak pasti (Simpson, 2019, pp. 123-124).

Salah satu akibatnya, kata terreur dalam bahasa Prancis menjadi ambigu dengan kata frayeur yang bermakna ‘takut pada bahaya yang menyerang’ serta kata peur yang berarti ‘takut pada apa yang cepat dan tiba-tiba’ (Simpson, 2019, p. 125).

Teror juga berfungsi sebagai retorika negara melawan organisasi yang membangkang sehingga ia merupakan bagian dari kekuatan yang melayani negara (Simpson, 2019, p. 162).

Arus balik teror dari yang dilakukan oleh negara menjadi melawannya, menurut Simpson, terjadi pada abad ke-19 ketika rombongan Napoleon berhasil lolos dari ledakan bom pada malam Natal tahun 1800. Teror melawan negara tidak dapat menghasilkan krisis maupun daya pikat karena para pelakunya tidak lagi mewakili kepentingan orang banyak. Namun, kelompok Narodnaya Volya dari Rusia memberikan contoh menarik. Meski hanya berusia tiga sampai empat tahun, mereka berhasil membunuh tsar tanpa melukai orang tak berdosa. Pesan moralnya ialah terorisme hanya boleh menargetkan kekuatan yang lebih besar (Simpson, 2019, pp. 166-167).

Salah satu kekurangan buku ini ialah daya jelajah penulisnya yang terlalu meluas. Akibatnya, diskusi melebar, dan tidak jarang keluar dari topik utama berupa teror dan terorisme.

Ketika mendiskusikan terorisme (negara), Simpson sepertinya juga luput untuk mengevaluasi The Prince karya Machiavelli dan teror Ferdinand dari Aragon dan Isabella asal Castilla melalui Spanish Inquisition.

Meski mendiskusikan beberapa literatur filsafat karya Sartre, Hegel, Nussbaum, Heidegger, Arendt hingga Lyotard; Simpson nampak khilaf untuk membahas pemikiran Igor Primoratz, Andrew Alexandra, Tony Coady, Thomas Pogge, Michael Walzer, Jeremy Waldron, James Sterba, Anne Schwenkenbecher, Seumas Miller dan filosof kontemporer lainnya mengenai terorisme.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply