Perkembangan Filsafat Akal

May 25, 2019

Judul buku : Philosophy of Mind in the Twentieth and Twenty-First Centuries: The History of the Philosophy of Mind
Editor : Amy Kind
Penerbit : Routledge
Tebal : xviii + 326
ISBN : 978-0-429-50812-7
Tahun terbit : 2019
Volume : 6

Kegandrungan pada narasi akal sehat sepanjang kampanye pilpres 2019 lalu sebaiknya berkembang ke ranah filsafat akal. Sebab, orang tidak bisa arbitrer mengklaim akal sehat bila tuna grahita pada filsafat akal.

Bunga rampai berisi 12 artikel ini mendedah pelbagai seluk beluk ihwal philosophy of mind (filsafat akal) pada abad kemarin yang memang spesialisasi dari volume keenam. Tidak mudah untuk mengulas buku yang merupakan bunga rampai. Ruang resensi serba terbatas sementara ide dalam bunga rampai berpendar.

Copenhaver dan Shields menunjukkan bahwa terdapat dua versi mengenai ruang lingkup serta usia akademis dari filsafat akal. Pertama, jika cakupannya hanya mengenai memori dari makhluk hidup, maka filsafat akal masuk ke perguruan tinggi pada paruh kedua abad ke-20. Kedua, jika filsafat akal meliputi refleksi tentang bagaimana proses dan kondisi mental bekerja dalam relasinya dengan proses dan kondisi fisik, maka ruang lingkupnya ialah akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 (Copenhaver & Shields, 2019, p. x).

Computer science khususnya riset Alan Turing (ilustrasi mesin Turing); psikologi khususnya penelitian mengenai koneksi antara perilaku dengan pikiran (Behavioralisme); dan neuroscience khususnya riset mengenai fungsi dan lokalisasi neural; memengaruhi perkembangan filsafat akal (Kind, 2019a, pp. 1-8). Namun, debat filosofis dalam buku ini, menurut Kind, bertentangan secara diametral dengan ketiga disiplin akademis tersebut (Kind, 2019a, p. 10).

Dalam bagian lain buku ini, Walsh dan Yoshimi mengklaim bahwa fenomenologi kembali ke atas panggung berkat filsafat akal kontemporer (Walsh & Yoshimi, 2019, p. 22).

Uniknya, relasi antara filsafat akal dengan tradisi fenomenologis berlangsung dalam tiga hal umum:

  • Pertama, jika filsafat akal berasal dari filsafat analitik, maka filsafat analitik dan fenomenologi berakar pada satu hal yang sama yaitu tradisi Anglo-Austrian (Dummett dalam Walsh & Yoshimi, 2019, p. 28).
  • Kedua, para filosof akal menggunakan beberapa area filsafat yang berasal dari fenomenologi. Contohnya, mereka menggunakan mereologi (studi abstrak tentang relasi antara ‘bagian’ dengan ‘keseluruhan’) untuk memelajari bagaimana keseluruhan situasi mental dapat diurai secara sintaksis menjadi ‘bagian-bagian pengalaman’ yang berbeda (Walsh & Yoshimi, 2019, pp. 28-30).
  • Ketiga, tumpang tindih tematik antara filsafat akal kontemporer dengan fenomenologi seperti yang terjadi pada filsafat akal, bahasa dan dunia sosial John Searle dengan Edmund Husserl; atau antara kecerdasan buatan dengan fungsionalisme (Walsh & Yoshimi, 2019, pp. 28, 31). Bahkan, Husserl sendiri pernah menulis semacam ‘fenomenologi dari problem akal-tubuh’ pada tahun 1910 yang menginvestigasi bagaimana orang mengalami situasi fisikal, situasi mental serta hubungan di antara keduanya. Dengan kata lain, ia percaya bahwa aliran pengalaman merupakan wadah bagi ketiganya (Walsh & Yoshimi, 2019, p. 37).

Satu dari sedikit artikel yang membincang masa depan datang dari Schneider & Mandik yang berjudul “How philosophy of mind can shape the future” (pp. 303–319). Eksistensi kecerdasan buatan — baik dalam bentuk artificial general intelligence (AGI) maupun superintelligent artificial intelligence (SAI) — menyisakan pertanyaan seperti apakah mereka dapat menjadi persona? Apakah AGI dan SAI memiliki kesadaran? Apakah manusia memang mampu membuat mesin yang lebih cerdas daripada mereka? Kerja mesin yang lebih cepat tidak sama dengan lebih cerdas.

Di satu sisi, SAI ialah kecerdasan buatan yang melampaui manusia yang tidak ditingkatkan (unenhanced humans ). Di sisi lain, AGI adalah kecerdasan buatan yang mengintegrasikan berbagai tugas atau tidak bekerja pada satu tugas seperti kecerdasan dalam permainan catur (Schneider & Mandik, 2019, pp. 304-305).

Jika filsafat akal memang penting, bagaimana seharusnya para filosof berperan secara konstruktif? Schneider dan Mandik merekomendasikan para filosof untuk mengombinasikan antara pengetahuan tentang perkembangan terbaru dalam sains serta teknologi dengan kerja para filosof akal selama ini melalui thought experiments (Schneider & Mandik, 2019, p. 306). Tepat di sini, beberapa thought experiments yang sebaiknya menjadi fokus perhatian adalah:

  • the extended minds 2.0. Bayangkan anda dapat mengeluarkan pemikiran di kepala hanya dengan mencolokkan USB. Hal ini merupakan extended minds yang berfungsi seperti external hard disk dan notebook yang menyimpan memori orang. Namun, apakah kesadaran memang dapat meluas melampaui otak biologis? Apakah implantasi berbasis awan dan otak dapat memberikan dukungan lebih baik untuk extended mind? (Schneider & Mandik, 2019, p. 308).
  • A post-singularity world. Dunia pasca-singularitas berisi campuran antara manusia dengan enhanced humans atau sebut saja cyborg. Yang terakhir ini menginginkan manusia biasa untuk upgrade. Namun, bukan tidak mungkin cara berpikir cyborg justru keliru. Para filosof dapat menginvestigasi secara etis dan metafisis perihal kodrat akal dan identitas personal dengan memerhatikan perkembangan dalam sains kognitif; sebelum orang mengambil keputusan untuk menjadi cyborgs (Schneider & Mandik, 2019, p. 309).
  • Mind uploading. Dengan asumsi akal berada di sekitar otak, Future Humanity Institute di Universitas Oxford berhasil mengunggah seekor cacing jenis Caenorhabditis elegans kemudian mengunduhnya ke dalam sebuah robot Lego untuk proyek emulasi otak. Tanpa melalui proses menjadi cyborg, mengunggah akal mirip dengan migrasi ke sistem komputasi awan (Schneider & Mandik, 2019, p. 310).
  • The hard problem of AI consciousness. Problem ini merupakan ketidaktahuan manusia mengenai potensi kemampuan merasa dari sistem superintelejensia berbasis silikon ketika melakukan fungsi pemrosesan (Schneider & Mandik, 2019, p. 313).Jika silikon tidak dapat menjadi basis kesadaran, maka mesin superintelejensia akan kekurangan pengalaman internal meski mampu mengalahkan intelejensia manusia (Schneider & Mandik, 2019, p. 315).Jika kesadaran (basisnya ialah karbon) tidak tergantikan oleh silikon, hal ini boleh jadi pertanda bahwa kecerdasan buatan tidak memiliki kesadaran (Schneider & Mandik, 2019, p. 316). Namun, ceritanya akan berbeda apabila di planet lain terdapat kesadaran yang berbasis pada silikon.

Sebagai bunga rampai sejarah, buku ini berhasil memetakan medan perkembangan filsafat akal khususnya di abad ke-20. Berdasarkan investigasi historis itu, akan lebih baik apabila lebih banyak thought experiment yang relevan dengan abad ke-21; hadir dalam buku ini.

Faktanya, sekurangnya tujuh artikel mendiskusikan perkembangan filsafat akal di abad ke-20. Artinya, bunga rampai ini belum memberikan cukup proyeksi mengenai filsafat akal dalam abad ini. Melihat dari judul buku, seorang pembaca boleh saja berekspektasi tentang misalnya perimbangan enam artikel tentang abad lalu sementara enam berikutnya tentang abad ini yang melingkupi pertanyaan seperti: sejauh mana perkembangan filsafat akal di abad ke-21 mirip atau berbeda sama sekali dengan di abad ke-20? Sejauh mana misalnya eksplorasi ruang angkasa (khususnya mengenai kemungkinan akal serta kesadaran berbasis silikon dari makhluk selain manusia di alam semesta) memengaruhi perkembangan filsafat akal di abad ke-21?

Jika kita sepakat bahwa hanya para pemenang yang berkesempatan menulis sejarah, maka pemenang yang ideal sesungguhnya lahir dari kompetisi yang adil dan sehat. Sayangnya, 14 kontributor dalam buku ini melupakan diskursus mengenai akal dalam filsafat non-Barat. Islam, Hindhuisme dan Buddhisme misalnya kaya dengan pemikiran filosofis seputar akal.

Tentang Penulis

Qusthan Abqary - I am a lecturer and teach some subjects such as Ethics and Social Awareness, Corporate Governance and Ethics, Business Ethics, Critical and Creative Thinking and others. My research interests are political philosophy, ethics, peace, and war.

No Comments

Leave a Reply